Politik Luhur Tanpa “Serangan Fajar” ala Rachmat Gobel

“...katakanlah Anda dapat Rp500.000โ€” padahal enggak ada kan yang namanya amplop Rp500.000, ada yang 100, ada yang 50, ada yang berapa. Katakan Rp.500.000 itu dibagi 5 tahun (satu) periode. Berarti per tahun Rp100.000. Bagi hari, 365 hari. (Hasilnya) Per hari 1 liter beras pun kata beliau itu enggak dapat. Sekarang saya tanya harga kambing berapa? Oh, sekian juta, sekian ini. Jadi mengapa Anda lebih murah daripada kambing?”

โ€”Staf Khusus Rachmat Gobel, Nasihin Masha

Praktik politik uang di Indonesia seolah sudah menjadi budaya yang sulit dihilangkan, bahkan seolah sudah dimaklumi oleh satu sama lain. Hal ini dengan mudah bisa kita temui menjelang masa pemilihan umum, pemilihan presiden, kepala daerah, dan sebagainya.

Amplop-amplop berisi lembaran uang beredar di tengah masyarakat beberapa jam jelang pemungutan suara dimulai. Isinya beragam, seringkali disesuaikan dengan target penerimanya. Rakyat biasa hanya memeroleh sekadarnya, sementara seseorang yang punya posisi atau pengaruh besar di masyarakat, misalnya kepala desa, ketua ormas, atau tokoh masyarakat, bisa mendapatkan amplop yang lebih tebal.

Itulah “serangan fajar”, uang sogokan dari pihak yang berkontestasi dalam pertarungan politik, diberikan pada masyarakat pemilih, dengan harapan bisa membeli suara mereka dan memenangkan pemilihan.

Praktik kotor dalam dunia politik yang dampaknya sangat panjang, mulai dari melahirkan pejabat inkompeten, hingga melahirkan bibit-bibit korupsi di masa depan

Inilah hal yang sangat dihindari oleh mendiang Rachmat Gobel, sosok pengusaha yang sempat terjun ke dunia politik dengan menjadi Menteri Perdagangan dan 2 kali duduk di DPR RI untuk daerah pemilihan Gorontalo.

Staf Khusus Rachmat Gobel, Nasihin Masha, mengungkapkan betapa RG sangat anti terhadap politik uang atau money politics. Anti politik uang itu bukan hanya diyakini dalam bentuk prinsip, namun juga dalam praktik di lapangan.

Di dapilnya, Gorontalo, “serangan fajar” dikenal dengan istilah mea-mea (merah-merah atau warna uang Rp100.000) dan biu-biu (biru-biru atau warna uang Rp50.000).

Ketika RG mencalonkan diri menjadi anggota DPR, di malam sebelum hari pencoblosan, ia menyampaikan pada seluruh tim kampanye agar mereka pulang dan beristirahat, tidak ada uang yang perlu mereka sebar di waktu subuh.

“Kalian tenang saja silakan pulang tidur dengan nyenyak. saya tidak akan melakukan itu dan kalau memang saya tidak dipilih ya sudah berarti bukan takdir saya,” kata Nasihin meniru apa yang disampaikan Rachmat Gobel.

RG meyakini, money politics adalah hal yang sangat tidak elok untuk dilakukan. Pertama, melanggar hukum, bertentangan dengan aturan perundang-undangan. Kedua, merendahkan martabat dan harga diri manusia yang pada dasarnya mulia. Ketiga, tidak sepadan antara nilai uang yang diberikan dengan harga suara atau kepercayaan masyarakat yang didapatkan.

“Katakanlah Anda dapat Rp500.000โ€” padahal enggak ada kan yang namanya amplop Rp500.000, ada yang 100, ada yang 50, ada yang berapa. Katakan Rp.500.000 itu dibagi 5 tahun (satu) periode. Berarti per tahun Rp100.000. Bagi hari, 365 hari. (Hasilnya) Per hari 1 liter beras pun kata beliau itu enggak dapat. Sekarang saya tanya harga kambing berapa? Oh, sekian juta, sekian ini. Jadi mengapa Anda lebih murah daripada kambing?” Nasihin masih menirukan ucapat RG.

Lagi pula, hak politik setiap warga negara telah dijamin oleh konstitusi. Lalu, atas dasar apa kandidat politik harus membayar untuk mendapat suara dan rakyat menjual suaranya demi mendapat sedikit rupiah?

Dana Pribadi

Bukan mengeluarkan uang untuk mendapatkan suara sehingga bisa berkuasa, Rachmat Gobel justru tak jarang mengeluarkan uang pribadi ketika sudah berkuasa, hanya untuk memuluskan program pembangunan di dapilnya.

Ini hal langka, tidak semua politisi bisa melakukannya. Kebanyakan justru melakukan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Dan setelah kekuasaan di tangan, mereka memanaatkan kewenangan dan jabatannya untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya benefit bagi diri, keluarga, dan kelompoknya.

“Kata beliau ya, saya dipilih oleh rakyat Gorontalo, itu berarti saya diberi kehormatan oleh orang Gorontalo, maka saya harus membalas dengan kehormatan pula. Jadi kehormatan hanya bisa dibalas dengan kehormatan. Itu prinsip beliau,” jelas Nasihin yang memiliki latar belakang jurnalis itu.

Kepercayaan rakyat itu tidak bisa dibalas dengan uang, sebesar apapun nominalnya.

Rachmat Gobel menyadari bahwa Gorontalo merupakan salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Ia pun ingin melepaskan status itu dari tanah kelahiran ayahnya, Thayeb Muhammad Gobel.

Jika hanya mengandalkan anggaran dari negara, maka banyak program yang tidak bisa berjalan. Ia pun turut mengeluarkan dana dari kantong pribadi untuk menuntaskan program-program yang direncanakan.

Sebagai anggota dewan, ia tentu mengupayakan kesejahteraan Gorontalo melalui jalur perundangan, penguatan kelembagaan, dan seterusnya. Namun, sebagai pribadi RG juga melakukan sejumlah hal untuk Gorontalo.

Misalnya membentuk koperasi, membentuk sistem untuk merawat aset atau barang bantuan yang diberikan pusat kepada provinsi sehingga alat bisa bertahan lama, bermanfaat, dan tidak cepat rusak.

“Beliau membentuk koperasi di 5 kabupaten, ini ada hal yang sederhana. Setiap tahun mungkin Menteri Pertanian itu ribuan membagikan alsintan, alat mesin pertanian, traktor, hand sprayer, traktor tuh mulai yang roda dua yang roda empat ya kan, dan segala macam peralatan itu jumlahnya mungkin ribuan. Mohon maaf itu sebagian rusak begitu aja, umur setahun rusak, karena petani tidak punya kemampuan untuk merawat alat-alatnya dan juga belum tentu di sana ada bengkelnya,” jelas Nasihin.

Hal lain yang dilakukan RG menggunakan uang pribadinya adalah mengajak orang-orang Gorontalo untuk berkunjung ke luar negeri.

RG ingin masyarakat melihat sendiri bagaimana kualitas pelayanan publik, fasilitas umum, atau budaya baik orang di negara lain berjalan. Harapannya, nilai-nilai positif itu bisa dibawa pulang ke Gorontalo dan diterapkan di sana.

Bagaimana sebuah danau dijaga kebersihannya, dijadikan tempat wisata yang indah, mendatangkan pendapatan bagi daerah, dan bagaimana juga masyarakatnya bisa memiliki kesadaran akan menjaga kebersihan dan kelestarian alam, menjaga fasilitas umum, dan sebagainya.

Di Gorontalo, ada sebuah danau kecil bernama Danau Perintis. Danau itu sudah sempat dibangun, namun tidak terawat.

RG pun membangun ulang kawasan danau tersebut dan diletakkan di sana sebuah kapal berbahan perunggu yang akhirnya menjadi daya tarik baru wisata Danau Perintis.

“Bagus sekali, sangat ikonik, di sana sekarang menjadi tujuan wisata nomor dua setelah ikan hiu (Botubarani). Pendapatannya tinggi sekali dan itu untuk pemda. Pak Rachmat minta, biar kami aja yang mengelola tapi seluruh pendapatan pemerintah daerah, jadi PAD naik kan. Problem pemerintah daerah kan PAD, mereka tidak tahu bagaimana menaikkan PAD,” ungkap Nasihin.

Ketika Danau Perintis telah dipugar, wisata tumbuh, UMKM kembali hidup, kafe bermunculan, masyarakat mendapat hiburan, pendapatan pemerintah daerah pun meningkat.

Sampai ia wafat, masih ada sejumlah program yang sedang dijalankan di Gorontalo dan dilanjutkan oleh lembaga yang sudah terbentuk. Misalnya di Pantai Tamendao.

Nasihin berharap, program yang merupakan legasi mendiang masih terus bisa dijalankan, meski Rachmat Gobel sebagai inisiatornya sudah berpulang.

Semasa hidup, RG selalu menekankan 5 hal untuk kemajuan Gorontalo, yakni kepemimpinan, kolaborasi, Serambi Madinah yang merupakan adat masyarakat Gorontalo, peradaban baru, dan politik pembangunan juga politik kesejahteraan.

Kepemimpinan, suatu wilayah baik buruknya akan sangat bergantung pada kualitas kepemimpinannya. Kolaborasi, tidak mungkin kita bisa berjalan sendiri tanpa berkolaborasi dengan pihak lain. Serambi Madinah adalah akar budaya yang harus terus dijaga. Peradaban baru adalah memodernisasi kehidupan dan melibatkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan. Terakhir adalah politik pembangunan dan kesejahteraan, bukan politik adu domba atau politik kepentingan.

“Bagaimana membangun dan menciptakan kesejahteraan, itu fundamen yang harus dibangun untuk Gorontalo. Mudah-mudahan ini disadari oleh oleh elite Gorontalo kemudian, karena ini masih panjang perjalanan,” harap mantan Pemimpin Redaksi Republika itu.

Didikan Keluarga

Prinsip RG yang anti terhadap politik uang membuatnya merasa satu frekuensi dengan Partai Nasdem yang visinya menolak mahar politik. Maka dari itu, ia bergabung dengan partai yang didirikan Surya Paloh itu.

Ia memang dikenal begitu memegang tinggi moralitas. Kepribadian itu merupakan hasil didikan ayahnya, yakni Thayeb Gobel.

“Ada satu peristiwa yang selalu Pak Rachmat ceritakan (kepada) saya sebagai penasihat bidang komunikasi. Jadi suatu saat pulang sekolah diantar oleh sopirnya, masuk ke dalam, ditanya, ‘kamu sudah terima kasih belum sama sopir?’, kadi setiap hari dia turun harus terima kasih. Belum, ditempeleng itu sama bapaknya. ‘Kau minta maaf dan kau terima kasih’,” Nasihin mengisahkan.

“Jadi memang didikan keras dari bapaknya tentang bagaimana orang itu menghormati orang (lain),” imbuhnya.

Ajaran menghormati orang lain itu juga ada kaitannya dengan sikap anti politik uang RG. Ayahnya tidak pernah mengajarkan untuk menghargai orang lain dengan uang. Hargailah orang lain karena dia manusia yang mempunyai nilai dan kehormatan, hargai orang lain sebagai sesama insan mulia ciptaan Tuhan.

Ajaran moral itu tertanam kuat dalam diri seorang RG sampai ia dewasa dan tutup usia.

Rachmat Gobel selalu melakukan segala sesuatu dari hati. Jika ia merasa tidak senang diperlakukan tertentu, maka ia tidak akan melakukan hal yang sama pada orang lain.

“Dan beliau punya prinsip mutual respect, mutual trust, mutual benefit. Jadi, semua itu dimulai dari respek dulu. Dari respek kita menjadi saling percaya. Dari saling percaya baru orang dapat benefit. Jadi, jangan benefit dulu di depan. Jadi kita harus saling respek dulu,” kata Nasihin.
Pada akhirnya, Rachmat Gobel ingin mengembalikan esensi demokrasi pada jati diri yang sesungguhnya. Ada pendapat yang menyebut daerah miskin hanya bisa dimenangkan dengan transaksi, politik uang, dan sebagainya.

RG membuktikan hal itu tidak selalu benar. Di Gorontalo, provinsi ke-5 termiskin di Indonesia, ia bisa menang, mendapatkan suara tertinggi untuk DPR RI, tanpa mengeluarkan uang dan bertransaksi dengan masyarakat.

Jadi rakyat itu asal kita berikan kepercayaan, dia akan percaya sama kita. Menurut saya Indonesia akan bisa. Jadi tinggal bagaimana para elite berjuang, bergerak. Rakyat akan percaya kalau kita memang benar-benar bekerja dan itu terjadi. Kita bukan mendahului waktu ya, ibaratnya besok pun terpilih lagi kalau gitu (benar-benar bekerja),” pungkas Nasihin.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *