“…kita menaruh tujuan ke langit, but kita enggak lihat kita di mana. Ini teori saya, kita juga tidak aware tujuan kita itu sebetulnya sulitnya seperti apa, jadi kita seperti terombang-ambing di atas jargon. Wah, kita Indonesia emas nih. As if like easy to get there but actually it’s a lot of hard work and a lot of revolution yang harus dilakukan untuk itu,”
โProfesor Ekonomi di Azusa Pasific University, Prof. Elwin Tobing
Pemimpin negeri kita telah lama menarasikan Indonesia akan menuju masa keemasan di tahun 2045, di usia NKRI yang genap menginjak 100 tahun. Mereka menyebutnya sebagai Indonesia Emas 2045.
Namun, realita di lapangan masih menunjukkan banyak hal yang jauh bertolakbelakang dengan keemasan yang dijanjikan itu. Padahal, menuju 2045 kita hanya memiliki sisa waktu 19 tahun saja.
Misalnya jika kita berbicara soal kemakmuran rakyat, rakyat kita masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan, terlilit utang online, terlibat judi. Soal pendidikan, hanya segelintir kecil dari masyarakat kita yang mengenyam bangku pendidikan tinggi. Sisanya, masih banyak yang hanya tamat pendidikan dasar.
Belum lagi soal KKN, kerusakan lingkungan, ketimpangan ekonomi, banyak orang masih sulit membayangkan Indonesia Emas yang diperkenalkan oleh pemerintah.
Begitu juga yang ada dalam benak dan pikiran seorang Profesor Ekonomi asal Indonesia yang 31 tahun terakhir tinggal dan berkarier di Amerika Serikat, Prof. Elwin Tobing.
Meski tingal jauh di benua yang berbeda, Prof. Elwin rutin pulang ke Indonesia, sehingga ja pun tahu betul diskursus apa yang tengah terjadi di negeri ini.
Mimpi Indonesia Emas
Soal Indonesia Emas, baginya itu adalah tujuan besar yang diciptakan tanpa kita melihat di mana posisi kita saat ini berada.
“Kita taruh tujuan yang kita tidak bisa bandingkan dengan sekarang, seperti kita menaruh tujuan ke langit, but kita enggak lihat kita di mana. Ini teori saya, kita juga tidak aware tujuan kita itu sebetulnya sulitnya seperti apa, jadi kita seperti terombang-ambing di atas jargon. Wah, kita Indonesia emas nih. As if like easy to get there but actually it’s a lot of hard work and a lot of revolution yang harus dilakukan untuk itu,” ungkap Prof. Elwin dalam siniar Back to BDM bersama Budiman Tanuredjo.
Lebih jauh, di Indonesia berlaku pemahaman, jika target sudah ditetapkan seolah-olah solusi sudah ditemukan. Padahal, bagi Elwin kita masih amat jauh dari titik menemukan solusi bagi persoalan-persoalan dalam negeri.
Target yang ditetapkan saja bisa dikatakan tidak realistis, mengingat kondisi Indonesia yang masih memerlukan banyak perhatian dan perbaikan di banyak bidang.
“(Targetnya) Tidak realistis. Dan kita seperti menganggap bahwa adanya target seperti sudah menjawab situasi,” kata dia.
Padahal, antara realita dan target itu terdapat banyak pekerjaan rumah dan tantangan yang harus diselesaikan. Ingin menjadi negara maju, negara bertaraf global, namun tidak melakukan hal-hal yang mendukung untuk menjadikan negaranya seperti apa yang dicita-citakan. Kita bisa menentukan titik awal dan akhirnya, namun melupakan apa yang ada di bagian tengahnya.
Kembali pada target yang dinilai tidak realistis, Prof. Elwin coba mengomparasikan skor PISA antara Indonesia dengan Korea Selatan, negara yang sama-sama merdeka pada Agustus 1945. Skor PISA merupakan asesmen global untuk mengukur literasi membaca, matematika, dan sains siswa berusia 15 tahun. Skor ini menunjukkan seberapa baik siswa mampu menerapkan pengetahuan untuk memecahkan masalah di kehidupan nyata.
Skor PISA Indonesia di tahun 2022 adalah 1.108, menempatkan Indonesia di posisi ke 69 dari total 80 negara yang ikut dalam pemeringkatan. Sementara Korea Selatan, negara yang memiliki waktu start kurang lebih sama dengan Indonesia, skor PISA-nya sebesar 1.570 dan berada di peringkat 5, di bawah Singapura, China, Taiwan, dan Jepang.
“Anak-anak kita umur 15 tahun 80 persen masih kapasitas minimum. Jadi kalau skor 1 sampai 6, 80 persen kita masih di bawah 2, kurang dari 1 persen di atas 3. Korea Selatan di atas 3 itu sudah 24-25 persen. 2045 (pemerintah Indonesia) mengatakan PISA kita akan melampaui Korea sekarang,” jelas Prof. Elwin.
Baginya, target itu terlalu muluk-muluk dan cenderung tidak masuk akal. Secara poin, Indonesia dan Korea Selatan terpaut 462 poin. Padahal, untuk meningkatkan poin itu dibutuhkan sistem dan kualitas pendidikan yang jauh lebih baik.
China memerlukan waktu 1 generasi untuk meningkatkan kualitas pendidikannya, itupun dilakukan dengan cara yang amat serius. Indonesia?
“Kalau seperti sekarang berjalan apa adanya ya, 100 tahun juga enggak tercapai. So we put the target so high dan kita tidak melakukan konsolidasi dan mobilisasi sumber daya bagaimana mencapai itu,” sebut Prof. Elwin.
Kita pandai memasang target, membuat jargon, tapi kita tidak bisa menentukan di mana posisi kita sekarang, apa permasalahan yang dihadapi, dan apa saja yang harus dilakukan untuk memperbaikinya, apa yang kita perlukan.
Hal Fundamental yang Tak Terselesaikan
Bagi Elwin, Indonesia tidak menyelesaikan hal-hal fundamental yang seharusnya sudah diselesaikan. Salah satunya soal menentukan dasar ekonomi kita.
Dulu, Presiden Soeharto bertekad akan menjadikan Indonesia sebagai negara industri berbasis pertanian yang tangguh. Pertanian yang tangguh itu benar-benar dibangun, Indonesia bisa swasembada beras. Pelan-pelan, industri mulai dikembangkan.
Rezim Orde Baru serius merencanakan dan mengeksekusi rencana itu, terlepas dari sempurna atau tidak eksekusi di lapangan. Misalnya mereka menyusun Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) dan pembangunan jangka panjang 25 tahun. Soeharto juga selalu menekankan pembangunan ekonomi sosial dalam pidato-pidatonya.
Sayangnya, di akhir 1990-an Indonesia turut terdampak krisis moneter saat aspek industri belum selesai terbangun dengan tangguh. Pasca krisis, kita tidak ada perbaikan signifikan. Skor PISA 2000 dan 2022 sama, KKN masih ada, dan seterusnya.
“Jadi kita belum recover dari suasana 99-98. Belum recover mentally, belum recover secara konseptual Indonesia mau ke mana, tetapi ada ombak yang besar ini, kekuasaan dibungkus democracy, politics, dan segala macam,” ujar penulis buku Indonsian Dream itu.
Para elite negara kini sibuk dengan urusan elektoral, urusan politik 5 tahunan. Mereka tak lagi memikirkan soal arah perjalanan bangsa secara serius.
Demokrasi hanya dijadikan bungkus, pemanis, bukan produk utama yang mereka usahakan.
Misalnya pemilu, proses pemungutan suara mungkin benar mencerminkan demokrasi, pemilu masih rutin digelar 5 tahun sekali. Rakyat berhak menentukan sendiri siapa yang akan menjadi pemimpinnya.
Namun bukan itu yang menjadi arena utama kerja para politisi hari ini. Mereka akan sibuk melakukan berbagai cara yang cenderung menyimpang, demi memenangkan pemilu yang ada. Kita tidak bisa menyangkal lazimnya praktik politik uang, represi, pengerahan aparat, atau penggiringan opini yang dikerjakan demi mendapatkan suara rakyat.
“Makanya kita agak lelah ini setiap 5 tahun we talk about kekuasaan. Kita bicara politik, demokrasi kekuasaan. Lupa ini yang the main thing bagaimana membangun Indonesia sosio-ekonominya,” ujar Prof. Elwin.

Padahal, seharusnya kita kembali ke pokok persoalan yang kita hadapi. Akibat krisis, cita-cita negara industri berbasis pertanian yang dicanangkan Soeharto gagal diselesaikan. Seharusnya, rezim penggantinya fokus meneruskan cita-cita itu, tentu dengan perbaikan-perbaikan, bukan malah sibuk bermain politik kekuasaan.
Politik kekuasaan ini diibaratkan Elwin sebagai ombak, sedangkan Indonesia adalah kapal besar yang sedang berlayar ke tujuannya, yakni menjadi negara industri agraris.
Ombak yang datang silih berganti perlahan membuat arah kapal ini berubah, dia melenceng dari arah yang seharusnya menjadi tujuan utamanya.
“Ada tujuan ke sana, tapi di tengah jalan kita melalui prahara. Prahara ini membuat kita agak melenceng ke tujuan. We are busy now here,” kata pendiri Inadata Consulting, LLC itu.
Dan sampai saat ini, Prof. Elwin belum bisa melihat kemana sesungguhnya arah pembangunan Indonesia akan dibawa.
“Terus terang belum. Saya baca Undang-Undang RPJP 2045, di situ eksposisi masalahnya detail, tapi bagaimana kita mau ke depan dan bagaimana mencapai itu saya agak pusing membacanya bagaimana, enggak clear. Itu para perencana nanti bisa kembali baca itu siapa sih yang menyusun itu sebenarnya,” nilai Prof. Elwin.
Jadi, Indonesia pandai mengidentifikasi permasalahan yang ada, namun kurang terampil dalam menyusun langkah solusi yang diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada.
Menurut Prof. Elwin alasannya ada 2, ketika mengidentifikasi masalah kita tidak menggunakan negara lain sebagai pembanding dan kita tidak mencari tahu dan menyadari di mana posisi kita saat ini.
Oleh karena ada hal-hal fundamental yang belum diselesaikan itu, dan ada sejumlah pertanyaan mendasar yang belum dijawab oleh Indonesia, maka hari ini kita jauh tertinggal dari Korea Selatan yang padahal merdekanya hanya selisih 2 hari saja.
Kita masih sibuk menggali lubang baru dan menutup lubang lama, Korea Selatan sudah selesai dan kini bisa melesat menjadi negara maju.
“So, that’s where we are now adalah produksi (hasil) daripada kita tidak mengerjakan secara tuntas berbagai hal yang sangat fundamental di masa lalu. So ini bukan satu dua pemerintahan, actually the last 25 years we got confused. We are so busy dealing with politik kekuasaan, ” jelas akademisi yang pernah mengajar di California State University itu.
Lupa Membangun SDM
Selain tidak menyadari di mana posisi riil negara saat ini, asal menentukan tujuan tinggi tanpa memikirkan perlu berapa anak tangga dan bagaimana cara menaiki anak tangga tersebut untuk mencapai mimpi besarnya, pemerintah kita juga kurang menaruh perhatian pada pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk Indonesia sudah melebihi angka 290 juta jiwa.
Manusia-manusia itu bukan hanya sekadar angka, mereka adalah sumber daya, mereka adalah potensi. Untuk itu perlu dilatih, dididik, dikembangkan, agar potensinya bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk negara.
Sayangnya, ratusan juta penduduk Indonesia itu, masih belum terlatih. Prof. Elwin bahkan menggunakan istilah “masih tertanam”, belum muncul menjadi tunas apalagi berbuah yang bisa kita panen.
“Penduduk kita banyak, ini yang saya namakan sumber daya. Sama seperti minyak, itu sumber daya, tetapi masih tertanam, masih di bawah nih. Kita belum konversi menjadi modal manusia. It’s a human capital. It’s actually still sumber daya manusia,” tegas Prof. Elwin
Dari 290 juta jiwa itu, manusia-manusia yang muncul sebagai orang berpendidikan, inovatif, dan produktif, masih sangat sedikit.
Alasannya, pemerintah kita tidak fokus membangun ekosistem pendidikan. Pemerintah kita pelit anggaran untuk urusan riset and development (RnD).
Sumber daya alam (SDA) Indonesia melimpah-ruah. Namun, kita hanya bisa menjualnya dalam bentuk mentah. Kita belum bisa mengolahnya sehingga bisa meningkatkan nilai jual dari kekayaan alam kita.
“Belakangan ini sudah ada hilirisasi, tetapi hilirisasi kalau kita lihat lebih jauh ini sudah agak terlambat dan belum akselerasi. Yang kedua, hilirisasi tidak bisa lagi kita bilang hilirisasi ketika industri pengguna utamanya adalah di luar. Seperti baterai dengan mobil listrik misalnya. Jadi menggunakan itu (hilirisasi) sebagai backbone saya kira kurang tepat,” sebut dia.
Indonesia menurut Elwin sebaiknya kembali ke rencana awal menjadi negara dengan basis agroindustri, termasuk maritim di dalamnya.
Tapi, pasca reformasi kita justru mengalami deindustrialisasi. Penyerapan tenaga kerja stagnan, padahal di negara lain meningkat. Ini adalah persoalan yang sudah muncul sejak 20 tahun yang lalu, bukan urusan kemarin sore.
Prof. Elwin mempertanyakan, mengapa belum juga ada penanganan serius dari pemerintah?
Jumlah tenaga kerja kian meningkat, tapi tidak tersedia lapangan kerja yang cukup. Akhirnya, mereka yang tidak terserap industri lari ke bidang jasa dan bidang informal lainnya.
Makanya persentase pekerja informal di Indonesia kalau kita menggunakan data ILO, International Labour Organizations itu 80 persen. Negara maju itu 10%. So, that’s how far we are,” papar Prof. Elwin.
Optimisme di Tengah Pesimisme
Meski tak bisa menyangkal bahwa ada rasa pesimis yang menggelayuti hatinya soal Indonesia Emas 2045 dengan alasan-alasan yang sudah dijelaskan sebelumnya, Prof. Elwin bagaimanapun tetap mencoba untuk optimis.
“Dengan tren sekarang, sulit untuk optimis sampai kita jawab dulu dua pertanyaan tadi. Kita ini di mana sekarang? Ada pepatah the danger thing in life. You don’t know where you are. Sehingga you don’t know where to go,” kata Prof. Elwin.
Kita harus segera menyadari itu lalu segera bergerak melakukan mobilisasi juga konsilidasi untuk mencapai tujuan kita bersama. Jangan hanya melempar jargon lalu merasa sudah mendapatkannya.
Jika Indonesia ingin menjadi negara maju, memimpikan pendapatan perkapita yang tinggi, maka usahakan. Karena semua itu bukan sesuatu yang tiba-tiba jatuh dari langit. Perlu usaha, strategi, peerbaikan, kerja keras.
Kalaupun tiba-tiba negara ini mendapatkan pendapatan nasib baik, menjadi negara maju, pendapatan perkapita tinggi. Akan tetapi, jika tidak diimbangi dengan peradaban, semua itu tidak ada artinya. Kemajuan semu itu bisa lenyap dalam waktu singkat.
“Development is actually building the civilizations. Pembangun adalah develop kemandirian, dignity,sovereign, kedaulatan. Kita membangun seperti langsung, oke 25.000 income per capita, we don’t know ini akan menjadi pencuri semua atau apa,” pungkasnya.


Leave a Reply