Refleksi S.D. Dharmono akan Perjalanan Indonesia…

“Kalau saya lihat kita ini terus maju, meskipun tidak selalu smooth. Tapi, kalau dari saya sejak lahir (1949), waktu itu masih sangat sederhana semua keadaannya, malah katanya tahun ’45 tuh yang buta huruf itu masih 98 persen,  jadi kalau lihat sampai sekarang ya kita sudah jauh sekali berkembang yang harus disyukuri,”

โ€”Chairman Jababeka Group, S.D. Darmono

Indonesia negeri yang indah dan  kaya akan sumber daya alam. Indonesia negeri yang diberkati dengan belasan ribu pulau, keberagaman suku bangsa, bahasa, dan agama. Namun, Indonesia juga tak lepas dari begitu banyak masalah. Saking banyaknya permasalahan yang meliputi negeri ini, segala kebaikan yang ada rasanya menjadi kabur.

Korupsi merajalela, kekuasaan digunakan untuk memperkaya diri sendiri, politik uang, hukum diperjualbelikan, kerusakan lingkungan terjadi dan kian meluas.

Di tengah semua kondisi itu, masihkah Indonesia memiliki harapan, khususnya menuju Indonesia Emas di 2045?

Budiman Tanuredjo mengajak berbincang sosok pengusaha yang juga konsern di bidang pendidikan dan kebudayaan, Setyono Djuandi Darmono atau S.D. Darmono, yang ternyata selalu menggunakan perspektif positif untuk melihat Indonesia dengan segala macam dinamika yang ada di dalamnya.

Indonesia Sangat Berprogres

Dalam siniar Back to BDM yang dipandu Budiman, Darmono yang merupakan pendiri Jababeka Group memandang Indonesia sebagai negara yang masih terus berproses dan berprogres.

“Kalau saya lihat kita ini terus maju, meskipun tidak selalu smooth. Tapi, kalau dari saya sejak lahir (1949), waktu itu masih sangat sederhana semua keadaannya, malah katanya tahun ’45 tuh yang buta huruf itu masih 98 persen,  jadi kalau lihat sampai sekarang ya kita sudah jauh sekali berkembang yang harus disyukuri,” kata Darmono.

Usia Indonesia baru 80 tahun, sementara Soekarno pernah mengatakan negara ini umurnya nanti mencapai 1.000 windu atau 8.000 tahun. Hari ini, Insonesia baru menjalani 1 persen pertama dari angka harapan usia yang pernah disampaikan presiden pertamanya.

Kita juga tidak boleh menutup mata, bahwa Indonesia adalah negara yang sangat besar secara geografis dan begitu homogen latar belakang bangsanya. Bagi Darmono, tidak mudah memimpin negeri seperti ini.

“Menurut saya sih membangun negara begini besar memang tidak mudah. Kalau mau menggali referensi dari negara lain kan enggak mudah. Mana yang kita mau pakai sebagai benchmark?,” kata pendiri Tidar Heritage Foundation itu.

Membangun sesuatu yang besar memang perlu waktu dan pengorbanan. Namun kita harus menyadari, dulu banyak masyarakat di daerah yang tidak bisa berhasa Indonesia, kini hampir semua bisa, mulai dari mereka yang tinggal di ujung-ujung Pulau Sumatera, hingga mereka yang ada di pedalaman Papua. Kualiyas sumber daya manusia juga terus diasah, terbukti hingga kini sudah ada lebih dari 4.000 perguruan tinggi yang berdiri di Indonesia. Bagi Darmono, ini adalah bukti serius Indonesia ingin terus maju dan berkembang.

Dengan alasan itu, bagaimanapun kondisi Indonesia sekarang, SD Darmono melihatnya negerinya sudah mengalami progres kemajuan yang luar biasa.

Transisi Kekuasaan Kasar, Waspadai Potensi Intervensi Asing

Sebagai negara demokrasi, di Indonesia tampuk kepemimpinan terus berubah. Tiap 5 tahun sekali, kita mengadakan pemilihan langsung untuk pimpinan pusat hingga daerah.

Masalahnya, dalam setiap pergantian kepemimpinan itu kerap kali terjadi patahan-patahan yang membuat proses transisi berjalan kasar.

Darmono tidak menyangkal hal itu, namun ia membuka opsi bahwa mungkin saja ada pihak asing yang memang menginginkan hal itu terjadi pada Indonesia, mengingat potensi luar biasa yang ada pada Indonesia yang mereka juga ingin turut menikmatinya. Pun dengan letak geografisnya, Indonesia sangat strategis menjadi jalur perlintasan antara Australia dan dunia barat.

“Selalu akan menjadi pertikaian antara perebutan kekuasaan di dunia, karena sumber daya alamnya, karena geografinya. Jadi apakah gejolak itu timbul karena pemimpin kita yang terlalu ambisius, belum bisa diterima oleh rakyatnya, atau karena luar negeri tidak menginginkan ini (Indonesia) terlalu maju sehingga hanya dinikmati oleh tetangga-tetangga dekatnya saja? Jadi sulit untuk melihat ini hanya sebagai kesalahan pemimpin kita misalnya, harus dilihat konteksnya juga secara global,” ungkap usahawan senior itu.

“Banyak kepentingan dari negara lain yang bisa dijadikan satu keuntungan maupun bisa juga menimbulkan ancaman buat Indonesia. Tinggal kita bagaimana mengelolanya antara opportunity sama threat-nya ini kan,” lanjutnya.

S.D. Darmono dalam Back to BDM

Lagi pula, secara internal memang ada pola tersendiri yang sudah berlangsung sejak lama di Indonesia yang menyebabkan transisi kepemimpinan menjadi sering bergejolak alias tidak mulus.

Pertama, kebiasaan untuk menyalahkan pemimpin sebelumnya ketika ketegangan politik terjadi di suatu masa kepemimpinan. Harapannya, tekanan politik tidak semuanya terpusat pada pemimpin yang sedang menjabat.

Kedua, ada semacam karma, demikian Darmono menyebutnya.

“Kalau kita ngomong karma, ya mungkin karma juga. Bung Karno diturunkan dengan tidak nyaman, Pak Harto bayar karmanya, diturunkan juga dengan tidak nyaman. Kalau percaya karma, kalau saya percaya karma,” sebutnya.

Tapi semua itu masih bisa dipahami, karena bagi pengusaha asal Magelang itu kita masih dalam tahap membangun bangsa dan negara.

Gesekan dalam transisi kekuasaan juga terjadi dalam perusahaan. Bukan hal yang aneh dan perlu dikhawatirkan berlebih, terlebih dengan realitas baha negara ini adalah negara yang begitu besar dan kompleks.

Semua Pemimpin Kita Hebat

Masih dari cara pandangnya yang positif, SD Darmono memilih untuk mengatakan semua presiden yang pernah memimpin Indonesia adalah hebat, tak terkecuali.

Ia yakin mengutarakan penilaiannya, meski di luar sana banyak yang mengkritik kinerja presiden, siapapun itu. Presiden A disebut tidak cakap, Presiden B disebut otoriter, Presiden C disebut korup, dan sebagainya.

“Kita harusnya sangat bersyukur bahwa masing-masing pemimpin itu di masanya adalah pemimpin yang hebat, tanpa kecualian. Dari (Soekarno) sampai sekarang pemimpin ke-8 kita, menurut saya pemimpin kita itu hebat-hebat pada saatnya,” jelas Darmono.

Jadi misalnya bilang Pak Habibie, meskipun hanya 1 tahun tapi tindakan yang beliau ambil itu sangat-sangat strategis untuk waktu itu. Juga Gus Dur, meskipun juga sebentar, tapi Gus Dur mampu mempersatukan lagi kekuatan politik Indonesia yang waktu itu sebetulnya sudah dalam posisi membahayakan,” ia melanjutkan.

Jadilah Bangsa Adaptif

Kembali pada pernyataan di awal bahwa Indonesia baru berjalan 80 tahun dari 8.000 tahun sebagaimana diproyeksikan oleh Soekarno, maka kita ini sesungguhnya masih dalam tahap uji coba dalam bidang apapun. Dalam bernegara, dalam berdemokrasi, dalam berhukum, sistem ekonomi, sistem pendidikan, dan seterusnya.

Tapi yang pasti, Darmono selalu melihat ada progres dalam tiap perubahan yang terjadi.

“Dulu Bung Karno dengan demokrasi terpimpin terus dilaksanakan oleh Pak Harto dengan lebih baik daripada Bung Karno dalam melaksanakan demokrasi terpimpin. Karena Pak Harto dasarnya memang tentar, jadi bisa lebih baik dalam melaksanakannya. Kemudian reformasi, ini memberikan satu pengalaman baru dan tumbuh kelas menengah yang jauh lebih besar dibandingkan zaman Orde Baru. Pendidikan juga lebih merata, terutama pendidikan politik,” ujar Darmono.

Memang akan selalu ada biaya yang dibayarkan untuk setiap langkah kemajuan. Misalnya kericuhan besar-besaran di Mai 1998 untuk menggulingkan rezim Soeharto. Namun seperti itulah proses berjalan. Dan yakinlah, badai pasti berlalu.

Dan kini, masa depan Indonesia ada di tangan Presiden Prabowo dengan segala program pemerintahannya. Dialah yang tengah mendesain mau dibawa ke mana Indonesia kelak melalui program-program itu.

“Saya kira banyak juga nanti manfaatnya, meskipun belum bisa dilihat. Orang kan selalu cenderung negatif,” kata dia.

Sekali lagi, kita harus bisa menjadi bangsa yang adaptif terhadap segala bentuk perubahan. Selain itu, kita harus memandang semua yang terjadi tidak lepas dari kehendak Tuhan, jadi harus kita terima dan syukuri.

Kita bukan Tuhan yang bisa melihat masa depan, sebagai bangsa yang beragama, Darmono mengajak kita semua untuk mempercayai bahwa akan selalu ada hal baik yang Tuhan siapkan di balik tiap badai yang Tuhan izinkan terjadi pada Indonesia.

Jadi saya kalau bilang ke teman-teman di perusahaan, selalu expect for the worst but prepare for the best. Hope for the best,” sebut Darmono.

Optimisme untuk Indonesia Emas 2045

Kurang dari 20 tahun ke depan, Indonesia akan mencapai usia 100 tahun. Satu abad Indonesia akan terjadi pada 2045 yang diharapkan akan terjadi Indonesia Emas.

Masihkah kita bisa berharap Indonesia Emas benar-benar akan tercapai?

“Saya kira iya, karena kita cycle-nya itu kan kalau bilang tadi 45, 65, 98, sekarang ini kita masuk di cycle tahun 2026. 26 ini justru akan banyak opportunity, karena dengan adanya revolusi industri di bidang AI, itu justru anak-anak muda akan menikmati, karena yang muda-muda ini yang paling canggih dalam AI. Kalau yang kayak saya ini ketinggalan,” ujar Darmono yakin.

Baginya, potensi anak muda harus dioptimalkan dan dikombinasikan dengan potensi generasi yang sudah lebih senior seperti dirinya.

Anak muda boleh memiliki energi dan kemampuan baru, tapi orang tua memiliki pengetahuan, pengalaman, koneksi, dan kebijaksanaan berpikir yang belum dikantongi anak muda.

“Bung Karno bilang, kasih saya 1.000 orang tua saya cabut akar-akar Gunung Semeru. Kasih saya 10 anak muda, saya guncangkan dunia. Ini saatnya, anak muda (Indonesia) banyak sekarang. Di China, di Singapura, Korea Selatan, orangtuanya banyak, anak-anak yang muda enggak mau punya anak. Kesempatan enggak buat Indonesia? Kesempatan kan?,” seru Darmono.

Kita harus selalu berpikir optimis. Tidak ada opsi untuk menyerah, karena Indonesia sudah berjalan sejauh ini. Langkah yang terseok, lompatan yang terjeda, progres yang berjalan lambat, tidak bisa dijadikan alasan kita menyerah dengan keadaan.

Di 100 tahun usia Indonesia nanti, SD Darmono ingin Indonesia tampil memimpin pertumbuhan ekonomi dunia. Selain sumber daya alam dan bonus demografi yang melimpah, Indonesia juga memiliki kekayaan budaya dan budi pekerti luhur yang membuatnya unik.

“Tapi ya kita sendiri harus berbudi luhur dulu, jangan mau jualan tapi pemimpin-pemimpin kita belum belajar budi luhur. Tapi harus sabarlah, karena dasarnya ada. Pasti kakek neneknya biasa memberikan wisdom yang dulu-dulu. Ini sering lupa (dengan nasihat kearifan lokal), karena terlalu banyak belajar di universitas dengan kurikulum barat,” ujar Darmono.

Ia berharap agar bangsa Indonesia harus terus belajar secara imbang. Pelajari ilmu sains yang mengantarkan pada berbagai kemajuan, tapi juga tetap pelajari dan pegang teguh budi pekerti, kearifan lokal.

Jika keduanya dipelajari, maka manusia Indonesia akan tumbuh menjadi manusia yang berotak dan berhati nurani. Manusia Indonesia menjadi manusia yang memiliki kemampuan seimbang. Otak berjalan, hati bekerja. Bisa berpikir, tapi tetap pandai berempati dan mengolah rasa.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *