Pengalaman 2 Kali Dampingi Gus Dur ke Iran, Wahyu Muryadi: Iran Bangsa Tangguh

“Iran itu adalah bangsa yang tangguh waktu itu. Ketika dia diembargo itu dia mampu berusaha dengan kemampuannya sendiri. Berdikari,”

โ€”Ketua Umum Serikat Wartawan Senior Indonesia, Wahyu Muradi

Wartawan senior dari Tempo, Wahyu Muryadi membagikan pengalamannya selama dua kali mendampingi Abdurrahman Wahid alias Gus Dur melakukan kunjungan ke Iran.

Kunjungan itu terjadi 2 kali. Pertama, di bulan Agustus tahub 1999 ketika Gus Dur menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sementara Wahyu dalam konteks sebagai wartawan.

Gus Dur datang ke Iran atas dasar undangan Pemerintah Iran untuk urusan agama, khususnya merekatkan jarak antara Syiah dan Sunni. Kita tahu, Iran sangat lekat dengan aliran Syiahnya, sementara Indonesia mayoritas merupakan Islam aliran Sunni di bawah bendera NU.

Dalam rangkaian kunjungan itu, Wahyu sempat mengikuti ibadah shalat Jumat di Masjid Universitas Teheran yang diimami oleh Ayatullah Amid Zanjani. Saat itu, Amid Zanjani adalah Ketua Mahkamah Agung dari Iran.

“Shalat Jumat di sana itu bisa 2-3 jam, lama sekali, dan diisi dengan pidatonya pidato-pidato politik memang dengan teriakan-teriakan yang revolusioner,” kisah Wahyu dalam siniar Back to BDM.

Selama kunjungan berlangsung, Gus Dur banyak bertemu dengan sejumlah Ayatullah dan tokoh sufi. Gus Dur memang ingin banyak berinteraksi dengan mereka. Tujuannya untuk belajar tentang bagaimana memaknai dan menjalankan ajara Syiahnya.

“Ini kata Gus Dur, saya ingat, kita harus belajar. Kita paling tidak memahami cara berpikir mereka, karena banyak hal, tradisi maupun model-model istilahnya kembangan-kembangan ibadah yang ada di Syiah itu mirip dengan NU. Dan soal ziarah kubur, kulturnya itu mirip NU,” ucap Wahyu mengulang ucapan Gus Dur.

Wahyu bahkan mengaku sempat diberi pertanyaan oleh seorang Hujjatul Islam (ulama tingkat menengah di Syiah), mengapa kitab-kitab yang dirujuk Sunni tidak pernah merujuk pada ulama Syiah untuk dijadikan referensi, padahal kitab-kitab Syiah banyak merujuk pada kitab-kita yang disusun oleh Bukhori dan Muslim (Sunni).

Ia pun tak bisa menjawab dan merasa tidak memiliki kapasitas untuk menjawab pertanyaan sulit itu, mengingat posisinya adalah seorang wartawan, bukan ulama yang mendalami soalan kitab-kitab agama.

Tak hanya itu, Gus Dur juga berkunjung ke makam-makam para tokoh Iran yang dihormati.

Tak lupa, Gus Dur dan Wahyu juga berkunjung ke rumah dari Ayatullah Ruhollah Khomenei di Kota Qom. Ini adalah situs bersejarah yang memang sering dikunjungi orang-orang.

“Kami sampai ke petak rumahnya yang mungil itu. Saya ingat ada tempat duduk kursi semacam kayak kursi khotbah yang kusam. Gus Dur merenung, memegang kursi itu. Saya memperhatikan debu di mana-mana waktu itu,” ujar Wahyu menggali ingatannya.

Kunjungan kedua terjadi pada Juni tahun 2000, saat itu Gus Dur sudah menjabat sebagai Presiden RI dan Wahyu diangkat sebagai Kepala Protokoler Presiden.

Kunjungan kedua lebih banyak urusan dengan pendidikan dan keagamaan. Gus Dur banyak berkunjung ke pesantren-pesantren di sejumlah kota di Iran, misalnya di Masyhad dan Qom.

Selama dua malam, Gus Dur berada di Iran bertemu dengan Presiden Iran, Mohammad Khatami. Mereka banyak berbincang dalam konteks menjaga tali persaudaraan antara Indonesia dan Iran, menumbuhkan rasa saling mengerti satu sama lain, san belajar tentang hal-hal positif dari masing-masing negara dalam konteks pendidikan dan keagamaan.

Wahyu Muryadi dalam Back to BDM.

Dari dua kali kesempatan berkunjung ke Iran, Wahyu bisa menangkap kesan bahwa Iran adalah bangsa yang tangguh dan konsisten dalam mempertahankan keyakinannya, dalam hal ini Syiah.

“Iran itu adalah bangsa yang tangguh waktu itu. Ketika dia diembargo itu dia mampu berusaha dengan kemampuannya sendiri. Berdikari,” ujar Wahyu.

Kehidupan mereka juga sederhana. Meski sederhana, Iran mampu menjalankan negara di tengah segala keterbatasan akibat embargo Amerika Serikat.

Mobil-mobil di tahun 1999-2000 itu adalah seperti mobil-mobil era 70-80an di Indonesia. Hotel-hotel juga jauh dari kata megah, sederhana saja.

Kesederhanaan itu juga tercermin dari tempat tinggal para Ayatullah di sana. Rumah mereka penuh dengan kesederhanaan, sama sekali tidak menunjukkan unsur kemewahan walaupun mereka adalah orang-orang penting dan petinggi di negaranya.

“Model-model kesederhanaan ini yang cocok ini sama Gus Dur. Kemudian kebersahajaan, endurance resiliance mereka itu daya tahan yang luar biasa mengumpulkan keyakinan masyarakatnya untuk bisa bertahan, untuk bisa tetap mandiri, untuk bisa menjaga kedaulatannya walaupun dengan kekuatan sendiri. Itu yang menarik,” ungkap Wahyu.

Pemandangan berbeda 180 derajat Wahyu jumpai saat berkunjung ke Israna Syah Reza Pahlavi, Raja Iran yang berkuasa sebelum revolus 1979 terjadi. Istana itu sangat mewah dan megah, kontras dengan kondisi rakyat Iran ketika itu.

Mengetahui kondisi itu, Wahyu pun memaklumi mengapa rezim Syah Reza Pahlavi ditumbangkan rakyat Iran ketika itu.

Ketika ditanya bagaimana perbandingan gaya hidup antara pejabat Iran dengan pejabat Indonesia, Wahyu tidak bisa menilai terlalu jauh. Yang pasti, para pejabat Iran nampak sederhana baik kendaraannya, tempat tinggalnya, dan sebagainya.

“Waduh. Saya enggak tahu spesifik fasilitas yang mereka terima apa, terus terang saja. Tapi yang saya tahu adalah mereka pakai kendaraan apa adanya, kendaraan tahun 70-an 80-an itu. Terus kemudian juga dari meublewear-nya, furniturnya tuh, kok biasa gitu loh yang kalau kita bandingkan dengan ukiran Jepara ketinggalan jauh itu. Ambalnya juga banyak yang kusam. Saya lihat gitu kan,”jelas Wahyu.

Meski hidup sederhana di tengah embargo dan mengantun Syiah secara taat, Wahyu melihat Iran sebagai bangsa yang tidak menutup diri dari pengaruh seni dan budaya luar. Misalnya soal musik.

Di hotel tempatnya menginap ketika kunjungan kedua bersama Gus Dur, di lobby hotel itu terdapat sebuah piano. Tak hanya menjadi pajangan, di sana ada pianis yang memainkan tuts-tuts piano itu dan memainkan lagu-lagu Iran.

Dari hal itu, Wahyu merasa kagum karena melihat masyarakat Iran tetap ingin memperkuat jati diri mereka melalui apapun budaya luar yang masuk ke negaranya.

Hal lain yang tak kalah mengagumkan baginya adalah bagaimana kondisi jalan raya di Iran yang begitu mulus dan nyaman untuk dilalui. Jalan mulus mungkin biasa, tapi ingat, ini di Iran, satu negara yang dikenai sanksi ekonomi global.

“Baik tahun 2000 dan yang sebelumnya itu mulus. Saya ingat waktu itu dari Teheran ke Masyhad itu jalan darat, jalannya kok enak banget. Enggak ada geronjalannya ini. Tahun ’91 loh itu, apalagi setelah itu, iya kan? Jadi mereka itu serius membangun negaranya,” ungkap Wahyu.

Dari pengalaman-pengalaman singkat kunjungannya di Iran bersama Gus Dur, Wahyu sudah bisa menangkap kesan bahwa Iran adalah bangsa yang bersungguh-sungguh mempelajari ilmu pengetahuan dan optimal dalam pemanfaatan segala sumber daya yang ada di dalam negerinya sendiri.

Pun dalam urusan berbahasa. Masyarakat Iran termasuk para pemimpinnya bangga menggunakan bahasa Parsi, bahasa asli mereka, ketimbang menuturkan bahasa Arab ataupun Inggris.

Para Ayatullah itu cenderungnya itu pakai bahasa Parsi daripada bahasa Arab. Gus Dur mencoba memancing bahasa Arab, tapi dia jawabnya bahasa Parsi. Karena ini pride, national pride,” kata Wahyu.

Meski begitu, Gus Dur yang tidak menguasai bahasa Parsi terap menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab dalam komunikasinya.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *