Serikat Wartawan Senior Indonesia Dideklarasikan, Wadah Bagi Jurnalis Usia 60+ untuk Berkarya

“Kami itu lebih dari 60 tahun kan sudah pensiun, terus ngapain lagi, kita mau liputan lagi kalah sama adik-adik itu. Ya sudah kita menganalisis, kita membikin esai, kita duduk manis sambil mikir, yang paling penting jadi coach untuk yang muda-muda itu. Bekalnya dari pengalaman dan kebijaksanaan yang kami miliki itu coba ditularkan pada adik-adik,”

โ€”Ketua Umum SWSI, Wahyu Muryadi

Mantan Pemimpin Redaksi Tempo, Wahyu Muryadi menginisiasi pembentukan Serikat Wartawan Senior Indonesia atau SWSI.

Perserikatan itu ia gagas untuk menjadi wadah pensiunan jurnalis seperti dirinya agar tetap bisa berkarya, khususnya dalam bidang jurnalistik, meski telah memasuki masa pensiun.

“Yang namanya wartawan, yang namanya jurnalis, yang namanya orang yang selama ini suka blusukan, kasak-kusuk cari informasi, itu kan rasanya ada sesuatu yang hilang kalau kita itu sudah selesai (purna tugas). Loh apa iya pekerjaan kita ini berhenti ketika kita secara formal tidak lagi bekerja di institusi atau industri pers, enggak kerja di Kompas, enggak kerja di Tempo, pensiun,  apa sudah selesai? Ah menurut saya kok itu salah besar. Enggak ada yang namanya jurnalisme itu harus berhenti, enggak ada,” kata Wahyu kepada Budiman Tanuredjo dalam siniar Back to BDM.

Memasuki masa pensiun, Wahyu yangmerasa ada ruang kosong dalam hari-hari yang biasanya terisi dengan kesibukan meliput peristiwa dan menelisik isu terhangat. Kesibukan hari-hari itu sudah tak lagi ada.

Namun demikian, jiwa-jiwa sebagai seorang wartawan yang penuh rasa ingin tahu dan penasaran masih bergelora. Umur boleh masuk usia pensiun, tapi kondisi fisik dan kapasitas sebagai jurnalis masih bisa diajak untuk produktif. Hal itu menurutnya harus dikelola secara produktif.

“Kami itu lebih dari 60 tahun kan sudah pensiun, terus ngapain lagi, kita mau liputan lagi kalah sama adik-adik itu. Ya sudah kita menganalisis, kita membikin esai, kita duduk manis sambil mikir, yang paling penting jadi coach untuk yang muda-muda itu. Bekalnya dari pengalaman dan kebijaksanaan yang kami miliki itu coba ditularkan pada adik-adik,” sebut Wahyu.

Selain itu, mereka juga bisa menghadirkan pandangan-pandangan konstruktif untuk pihak-pihak yang membutuhkan, termasuk memberikan policy brief bagi pemerintah. Bukan hal yang mustahil, karena banyak dari wartawan senior ini yang memiliki pengetahuan dan pengalaman mendalam tentang bidang-bidang tertentu, kredibilitas mereka juga sudah teruji.

Atas dasar tersebut, Wahyu merasa harus ada wadah yang bisa mengasah kemampuan wartawan senior atau para pensiunan wartawan, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga rekan sesama wartawan senior yang lain, baik yang masih aktif dan menjabat maupun sudah pensiun.

“Batasannya umurnya itu semulai kita batasi 50, tapi 50 ternyata dalam pertimbangan rapat-rapat kita para pendiri, terlalu banyak, harus dipersempit lagi yang kira-kira lebih eksklusif dan lebih terbatas. Berapa, dicek ternyata menurut standar WHO dan ndilalah sama dengan Undang-Undang Nomor 13 tentang Kesejahteraan Lansia, umur pensiunan itu 60 plus. Itulah yang kita jadikan patokan. Ya sudah kita kumpulin wartawan-wartawan senior yang umurnya minimal 60 tahun,” jelas dia.

Awal Terbentuk

Pria kelahiran Surabaya, 23 April 1963 itu mengaku SWSI dimulai dari guyon-guyon semata alias tidak terlalu serius sejak beberapa tahun yang lalu. Hanya saja, di perjalanannya, Wahyu menceritakan keinginannya itu pada beberapa rekan sesama wartawan senior seperti Marah Sakti Siregar, Budiman Tanuredjo, Daud Sinjal, dan Banjar Chairudin.

Mereka-mereka inilah yang kemudian membuat angan-angan Wahyu menjadi terdengar serius. Mereka membuat grup diskusi untuk membahas isu-isu aktual. Mereka pun tergabung dalam satu organisasi yang cair dan terbatas.

Pembicaraan soal perkumpulan wartawan senior ini terus Wahyu bawa hingga ke momentum Hari Pers Nasional 9 Februari 2026 yang diselenggarakan di Serang, Banten.

Di sana, ada Rahmi Hidayati, Firdaus Baderi, Martin Slamet, dan lain-lain. Makin gencarlah semangat Wahyu untuk mengumpulkan teman-teman wartawan senior.

“Setelah itu kita ketemu minggu depan. Harus ada progres setiap pertemuan. Makanya kita bikin pertemuan janjian, kita buka puasa bersama tanggal 16 Februari 2026 di Kedai Kopi Cikini. Di situ mulailah kita mulai ngomong ini itu,” ungkap Wahyu yang kini menjabat Ketua Umum SWSI.

Dalam pertemuan di kedai kopi tersebut hadir jurnalis senior Abdullah Alamudi yang usianya sudah mencapai 86 tahun, berjalan dengan alat bantu tongkat. Hal itu membuat Wahyu merasa haru sekaligus kaget.

Selain Abdullah Alamudi, hadir pula Marah Sakti Siregar, Ilham Bintang yang dikenal sebagai pelopor jurnalistik entertainment, dan beberapa lainnya. Total ada 9 orang yang hadir.

Pertemuan selanjutnya digelar pada 3 Maret 2026. Dalam pertemuan kali itu Budiman Tanuredjo hadir. Pada momentum pertemua itu, mulai tercetus untuk berhimpun menjadi sebuah organisasi yang berbadan hukum. Badan hukum yang menjadi opsi antara yayasan atau perkumpulan.

“Tapi yang cocok adalah perkumpulan, karena ini kumpulan dari para wartawan senior, pensiunan, segala macam, yang jumlahnya tentu banyak di Tanah Air,” ujar Wahyu.

Namun, ia diingatkan agar tidak terlalu banyak mengajak orang, alias jangan terlalu besar organisasi ini dengan harapan bisa tertata dengan baik dan berjalan efektif.

Ia pun membuat group percakapan di WhatsApp dengan nama “Serikat Wartawan 60+” atau singkatnya SW60. Ternyata ada banyak orang yang masuk di dalam group tersebut. Wahyu menceritakan awalnya hanya 10 orang, lama-kelamaan mendekati 100 orang.

Budiman Tanuredjo mencoba menahan agar tidak makin meluas, BDM ingin agar tidak sembarang orang masuk dalam kelompok ini. Bukan bermaksud untuk mengekslusifkan diri, namun lebih pada aspek kehati-hatian, ada reputasi organisasi yang harus dibentuk sehingga dinilai baik. Wahyu menyebut BDM berperan sebagai rem, sedangkan dirinya sebagai gas.

“Benar juga. Kalau saya ini kan orangnya terlalu meledak-ledak, energiku berlebih-lebihan, makanya harus disalurkan yang benar. Lalu sudah kita sepakat bikin perkumpulan,” kisahnya.

Suatu ketika, mereka mendengar kabar ada rekan wartawan senior Bob Iskandar yang menderita sakit komplikasi serius. Mereka pun berinisiatif untuk urunan dana seikhlasnya guna membantu biaya pengobatan Bob Iskandar dan sebagai wujud kepedulian terhadap rekan satu profesi yang kondisinya kurang beruntung.

Meski jumlah uang yang terkumpul tidak terlampau banyak, namun terasa begitu berarti bagi penerima, karena paling tidak Bob merasa masih ada atensi dan perhatian dari rekan-rekan terhadapnya.

“Dari situ makin meneguhkan niat saya, tekad saya ya sudah kita harus bikin serius ini. Mulai saat itu diminta KTP, NPWP, segala macam untuk masuk semuanya ke dalam akta pendirian dari perkumpulan ini yang tercatat resmi di Direktorat Jenderal AHU (Administrasi Hukum Umum) di Kementerian Hukum,” kisah Wahyu dengan semangat.

Pertemuan selanjutnya dilakukan di restoran The Aceh Connection, Bendungan Hilir Raya. Di saba diskusi makin intens, mulai disiapkan konsep Anggaran Dasar dan Anggara Rumah Tangga (AD/ART), ditentukan persyaratan atau kriteria untuk menjadi anggota, bahkan disiapkan deklarasi SWSI.

Wahyu Muryadi dalam Back to BDM.

Singkat cerita, pada pertemuan berikutnya banyak yang sudah menyerahkan KTP dan NPWP-nya, termasuk jurnalis senior Karni Ilyas. Total ada 17 orang. Merekalah yang akhirnya disebut sebagai kelompok penggagas Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI).

Nama serikat dipilih bukan tanpa alasan. Wahyu bersikeras menamai perkumpulan ini dengan nama serikat dengan alasan sederhana: karena hanya itu yang belum digunakan sebagai nama perkumpulan jurnalis di Indonesia.

“Aliansi kan sudah dipakai AJI, persatuan sudah dipakai PWI, forum sudah dipakai Forum Pemred. Jadi kalau sudah ada tuh harus beda dong secara brand. Maka apa? Serikat. Belum ada serikat,” ujarnya bangga.

Seolah tanpa halangan, nama yang didaftarkan ke Dirjen AHU Kementerian Hukum itu lolos.

Setelah permohonan pengajuan sebagai organisasi berbadan hukum diterima, mereka pun menyepakati tanggal 17 April sebagai hari lahirnya SWSI atau SW60+. Tanggal 17 April adalah hari di mana Deklarasi Serikat Wartawan Senior Indonesia dibacakan.

Keanggotaan

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, SWSI hanya menerima anggota yang memenuhi beberapa syarat formal. Yang pertama adalah usia minimal 60 tahun. Kedua, harus benar-benar memiliki pengalaman sebagai seorang wartawan, bukan sebatas pemilik media.

Wahyu mengungkap sudah ada banyak yang mau mendaftar, bahkan mereka rekan-rekan wartawan yang usianya belum memenuhi kriteria minimal. Salah satunya Meutya Hafid, mantan penyiar berita dan jurnalis senior Metro TV yang kini menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika.

Ada juga yang mengusulkan agar nama-nama seperti Ira Koesno, Najwa Shibab, dan Rosiana Silalahi turut dijadikan anggota, namun lagi-lagi hal itu belum bisa dilakukan karena faktor usia.

Jadi sorry to say, bahasanya Pak Karni Ilyasโ€”ini Bang Karni yang ngomong, belum akil balig itu, jadi harus masuk waiting list dulu,” kelakar Wahyu.

Meski belum bisa menjadi anggota,  para jurnalis yang masih berusia di bawah 60 tahun itu tentu bisa bergabung dalam acara-acara yang dibuat SWSI ke depannya. SWSI siap berkolaborasi dengan berbagai pihak, apakah organisasi profesi sejenis, asosiasi wartawan, asosiasi media siber, dan lain sebagainya.

Sumber Dana

Sebagai perkumpulan para pensiunan wartawan, SWSI tidak memiliki penyokong dana tertentu, melainkan dari iuran para anggotanya.

Masing-masing anggota membayarkan uang iuran yang telah ditetapkan dan disepakati, yakni Rp100.000 per bulan. Sementara khusus untuk 17 orang pendiri  iuran harus dibayarkan langsung untuk 1 tahun, jadi Rp1,2 juta.

Tidak banyak, namun uang itulah yang mereka gunakan untuk menyelenggarakan acara Deklarasi SWSI atau SW60+ pada 17 April di LSPR.

“Itulah yang dipakai untuk bayar fotografer yang ternyata bukan profesional, fotografernya kayaknya sepuh juga itu. Banyak hasil-hasilnya agak miring-miring, tapi ya kita maklumilah,” kata Wahyu.

“Terus juga Cak Lontong (menjadi pembawa acara). Cak Lontong itu tak tanya, ini gimana nih budget-nya enggak ada. Gimana lah monggo to ya. Walaupun kita disindir-sindir waktu pentas. Akhirnya kita kasih ala kadarnya, Cak Lontong luar biasa. Respek. Terima kasih Cak Lontong,” lanjutnya.

Acara juga bisa terselenggara lancar dengan bantuan-bantuan kecil namun sangat berarti dari para anggota lainnya.

Misalnya, mengambil tempat di London School Public Relation (LSPR) di Sudirman Park yang merupakan sumbangan dari Kemal Gani selaku pemilik LSPR. Kemal pula lah yang menyiapkan makanan seperti bakso dan lainnya.

Rekan yang lain, jauh-jauh dari Malang, Jawa Timur, Najib, mengirimkan jajanan kecil seperti pastel dan lemper ke Jakarta.

“Dari Malang khusus didatangkan coba, tiba-tiba dua box sudah datang ke LSPR. Ya udah wis pokoknya jalan sendiri. Tamunya kayak sudah paham semua, tamunya pun maklum,” ungkap Wahyu.

Acara deklarasi itu tidak bisa mengundang terlalu banyak pihak, bukan tidak ingin mengundang, namun karena keterbatasan tempat yang tersedia di lokasi acara.

Selain wartawan, hadir dalam acara tersebut Menkominfo Meutya Hafid, Kepala Staf Kepresidenan M. Qodari, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan, dan sederet tokoh lainnya.

Mohon maaf untuk yang luput-luput yang gak terundang. Bukan berarti kami mau pilih kasih, enggak, eemuanya mau kita undang. Cuma satu, keterbatasan tempat. Tempatnya itu maksimum 150, yang datang 300. Mohon maaf,” kata Wahyu.

Masih berhubungan dengan keterbatasan dana yang dimiliki, tanggal 17 April dipilih sebagai hari lahir SWSI juga masih berhubungan dengan keterbatasan kas yang dimiliki oleh SWSI.

Disebutkan sebelumnya, lokasi deklarasi dilakukan di LSPR yang merupakan bantuan dari Kemal Gani, gedung di sana hanya kosong di tanggal 17 pukul 16.30-18.30 WIB.

“Kenapa kok jamnya jam 16.30 sampai 18.30, lah kalau lebih 18.30 nyiapin makan malam, duit lagi itu, wong kita masih pis holopis kuntul baris kok. Hikmahnya, justru malah dengan penyelenggaraan yang sifatnya sangat natural, genuine kayak begini jadi sincere, jadi orang akhirnya serba memaklumi,” sebutnya.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *