“Kita kalau mau dipercaya sebagai penengah kita mesti independen… Kalau (masuk BoP) membikin kita ini tidak dipercaya lagi oleh negara-negara Global South gini, kita kan dianggap dekat dengan Netanyahu, kita membiarkan Gaza. Kemudian karena kita membantu malah prajurit kita meninggal tiga orang kayak gitu kan. Jadi itu ada beberapa alasan mundur,”
โPengamat Politik Timur Tengah, Nasir Tamara
Perang yang terjadi antara Iran melawan Israel dan Amerika serikat tidak bisa dikatakan sebagai perang yang sebatas perang kawasan atau perang antar negara semata. Perang kali ini, sudah melibatkan banyak negara-negara lain, baik yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung.
Pengamat Politik Timur Tengah, Nasir Tamara mengatakan setidaknya sudah ada 20 negara di dunia yang terlibat dalam perang. Oleh karena itu, ia menyebut perang kali ini bisa memantik pecahnya perang dunia ketiga.
“Sangat (bisa memantik), sekarang kan sudah mulai 20 negara terlibat ya, (nantinya) akan lebih banyak lagi yang terlibat. Sekarang Rusia juga akan menggunakan kesempatan pada waktu Amerika pelurunya sudah habis,” jelas Nasir yang merupakan wartawan saksi hidup Revolusi Iran.
Ia menjelaskan, Rusia baru akan masuk ketika Amerika sudah kehabisan amunisi dan peralatan tempurnya seperti drone, rudal perlu diisi ulang. Nasir mengatakan, hal itu memerlukan waktu setidaknya 6 tahun untuk kembali mengisi senjata-senjata itu dengan peluru baru.
Oleh karena itu, Amerika saat ini sesungguhnya ada dalam posisi militer yang sangat lemah. Stok amunisi menipis, seluruh pangkalan militer di negara-negara Timur Tengah telah dihancurkan Iran. Jikapun masih ada pangkalan yang bisa dioperasikan, belum tentu negara tempat pangkalan itu berada mengizinkan Amerika untuk menggunakannya dalam konteks perang kali ini.
“Jadi mereka mau nembak pakai apa? Rudal mana? Mau diambil di mana? Pangkalan di Timur Tengah sudah hancur semua. Turki dia ada pangkalan, tapi apakah Turki akan ngizinin? Enggak aku rasa. Uni Eropa enggak izinkan, Inggris enggak mau kasihkan, Spanyol enggak mau kasihkan wilayah udara yang dipakai,” jabar Nasir.
Berkaca dari sejarah perang dunia sebelumnya dan kondisi Iran saat ini, Nasir melihat perang kali ini masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Jika perang dunia kedua berakhir karena Kaisar Jepang menyatakan menyerah pasca Amerika Serikat meledakkan bom atom di Nagasaki dan Hiroshima, maka kali ini hal serupa tidak akan terjadi.
Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei telah terbunuh. Yang menggantikannya kini adalah putranya, Mojtaba Khamenei. Jika dibandingkan dengan ayahnya yang masih bisa berunding, Mojtaba dikenal sebagai pemimpin yang lebih keras.
“Ayahnya masih berunding karena ayahnya dua kali (menjadi) presiden, jadi sudah biasa diplomasi. Tapi anaknya ini kan masih muda, juga dia pernah jadi Komandan Garda Revolusi kayak ayahnya. Ini kan menjadi lebih pusing lagi, karena orang-orang yang berani mati itu,” sebut proa yang menamatkan pendidikan master dan doktoralnya di University of Paris, Perancis itu.
Iran sulit ditaklukkan dengan pasukan berani matinya, sementara Amerika selain mulai kehabisan amunisi juga menghadapi perlawanan internal dalam lingkup politik domestiknya.
Dobald Trump terancam dimakzulkan melalui proses amandemen 25 yang kini tengah dibahas. Orang dari Partai Republik, partai tempat Trump berasal juga ada yang mengatakan bahwa Trump memiliki gangguan kesehatan mental dilihat dari perilakunya yang tidak terkendali dan pernyataannya yang ekstrem.
Salah satunya menyebut rakyat Iran sebagai binatang dan akan menghabisinya.

Tak berhenti di situ, Amerika juga akan sulit mendapatkan dukungan dari dunia internasional, termasuk negara-negara sekutu, karena pernyataan dan sikap Presiden Donald Trump.
Amerika kini memusuhi Denmark, Spanyol. Menyebut NATO (The North Atlantic Treaty Organization) tak lagi memiliki kekuatan, menyebut Inggris tak punya kapal induk, dan lain sebagainya.
“Dia (Trump) enggak sadar bahwa orang Eropa itu beda sama orang Amerika. Kulturnya juga tinggi, memori sejarahnya itu tinggi, karena hidup dari zaman peninggalan Roma. Mereka tersinggung sekali. Jadi bagaimana dia (AS) mau menang? Kemudian media massa sekarang sudah mendapat informasi banyakโ yang dulu dilarang oleh tentara Israel, tentara Amerika, sekarang orang Pentagon lah yang memang happy mensuplai,” ungkap Nasir.
Perang Berakhir, Jika…
Meski tidak bisa dipastikan, namun Nasir memperkirakan perang ini akan lebih cepat berakhir apabila tekanan dari domestik Amerika lebih kuat lagi.
“Itu akan lebih cepat,” jawab Nasir singkat.
Bukan tanpa alasan, hari ini nampaknya tidak ada satupun faktor eksternal yang bisa menghentikan Trump.
Pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus Leo telah menyatakan sikap tegas bahwa perang tidak seharusnya terjadi, kedamaian harus terwujud bagi siapapun. Paus juga tak ragu untuk menentang sikap Donald Trump yang seolah gemar menabuh genderang perang.
Bukannya mereda, Trump justru menghina Paus kelahiran Chicago, Amerika Serikat itu dan menolak untuk meminta maaf.
Dewan Keamanan PBB tidak berkutik, sekalipun hukum internasional sudah babak belur dilanggar oleh Trump.
Lantas apa yang bisa kita harapkan agar perang bisa berakhir?
Selain politik domestik Amerika, ternyata ada satu lagi faktor yang dimungkinkan bisa meredam eskalasi perang Amerika dengan Iran. Yakni masuknya China dan Rusia dalam arena pertempuran.
“Misalnya Tiongkok menggunakan kesempatan untuk melakukan penyerangan pada waktu USA enggak berdaya kayak gini, tapi itu kemungkinannya kecil karena Tiongkok sangat hati-hati. Tapi kan Putin kan bisa menggunakan kesempatan untuk menguatkan pengaruhnya di Uni Eropa. Putin kan juga seorang yang sangat ambisius dan sangat Pro peran. Dan Putin saat ini membela Iran,” jelas dia.
Jika perang tak juga berakhir, yang ditakutkan adalah perang dunia ketiga akan benar-benar terjadi di era moderen ini. Perang dunia di era di mana teknologi perang sudah sedemikian canggih, teknologi nuklir sudah demikian dikembangkan.
Wartawan senior itu menambahkan, di era moderen ini orang ingin memenangkan perang dengan cara yang cepat. Maka, penggunaan senjata nuklir bukan sesuatu yang mustahil.
Jika itu terjadi, maka kehancuran dunia sudah di depan mata, hilangnya peradaban atau end of civilization adalah konsekuensi logis yang harus diterima.
“The end of civilization, itu yang kita bisa bayangin,” sebut Nasir.
Namun, kembali berkaca pada sejarah, sebagaimana Jerman pernah dikalahkan dalam perang dunia pertama, kemudian bangkit membangun dirinya menjadi negara yang lebih kuat dalam kurun waktu relatif singkat, kemudian melancarkan perang dunia kedua. Hal seperti itu bukan tidak mungkin juga terjadi pada Iran, andai kali ini ia dikalahkan oleh Amerika.
Karena latar belakang masyarakat Iran adalah bangsa Persia, bangsa yang dikenal sebagai kekaisaran terbesar dan terkuat.
Peran Indonesia
Di tengah situasi konflik yang belum mereda di antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, apa yang bisa dilakukan Indonesia untuk mendorong terciptanya perdamaian dunia sebagaimana diamanatkam dalam Pembukaan UUD 1945?
Presiden Prabowo Subianto sempat menawarkan Indonesia menjadi juru damai di antara pihak-pihak yang berkonflik. Namun tawaran itu bersambut, karena pada akhirnya Pakistan lah yang dipercaya menjadi juru damai, meski belum juga berhasil menciptakan perdamaian.
Nasir menyarankan agar Indonesia fokus saja menjadi negara nonblok sebagaimana telah dijalankan selama ini. Lagi pula, nonblok adalah langkah yang telah disepakati oleh para pendahulu kita dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955.
“Kita kalau mau dipercaya sebagai penengah kita mesti independen. Kenapa Pakistan dipercaya, karena Pakistan dekat dengan Amerika tapi juga dekat dengan Iran.
Membangun kepercayaan ini harus ada langkah-langkah. Indonesia bisa kembali lagi lah seperti Bung Karno, mengambil forum podium internasional, mengungkapkan pendapat dia pidato di PBB,” kata Nasir.
Saat ini, Indonesia telah bergabung dalam Badan Perdamaian Dunia atau Board of Peace bentukan Donald Trump bersama dengan Israel dan sejumlah negara lain.
Keberadaan Indonesia di BoP membuat posisi kita seolah-olah mendukung blok kekuatan tertentu, kita meninggalkan prisnsip nonblok yang seharusnya dijalankan.
Untuk itu, Nasir menyarankan agar Indonesia keluar dari BoP.
“Kita berasal dari kesalahan, enggak ada perjanjian yang enggak ditinggalkan, kepentingan nasional nomor satu. Kalau (masuk BoP) membikin kita ini tidak dipercaya lagi oleh negara-negara Global South gini, kita kan dianggap dekat dengan Netanyahu, kita membiarkan Gaza. Kemudian karena kita membantu malah prajurit kita meninggal tiga orang kayak gitu kan. Jadi itu ada beberapa alasan mundur,” jelas Nasir.
Mundur dari BoP bukan sesuatu yang memalukan, bagi Nasir itu justru langkah terhormat, mundur demi mempertahankan prinsip negara.


Leave a Reply