“Sangat tough dan dia juga berdikari. Jadi yang poin ketiga (pendidikan) menjadikan Iran itu berdikari. Kalau yang kita baca terjadi pembunuhan terhadap ahli nuklir, orang-orang pinter kan disasar, tapi selalu ada yang menggantikan. Selalu mereka bisa…,”
โPengamat Politik Timur Tengah, Nasir Tamara
Di mata dunia internasional, Iran dilabeli sebagai satu negara yang kuat dan tak terpatahkan. Iran tetap bertahan meski di bawah embargo Amerika Serikat sejak 1979 yang membuat nilai mata uangnya rendah, akses perdagangan internasional dan impor teknologi sangat dibatasi.
Tak hanya bertahan secara ekonomi, melalui taktik cerdas dan kesungguhan tekad, Iran juga membuktikan negaranya bisa berkembang dalam berbagai hal, termasuk dalam teknologi perang dan ilmu pengetahuan.
Kini, saat semua negara tak berkutik atas serangan Israel, Iran tampil beda. Iran beran melawan Israel ketika kedaulatannya diganggu. Bahkan perlawanan Iran dilakukan dengan kekuatan yang membuat Israel ciut hingga meminta bantuan Amerika Serikat.
Tak hanya negara dan pemerintahannya yang kuat, rakyat Iran tak kalah hebat. Mereka memiliki kepercayaan yang tinggi pada para pemimpinnya, sehingga ketika ada pihak asing yang coba mengintervensi, mayoritas rakyat Iran bersatu, tidak membelot, dan tetap mendukung pemerintah mereka di bawah Presiden Masoud Pezeshkian dan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei.
Lantas apa yang membuat Iran tumbuh menjadi negara bangsa yang demikian kuat?
Budiman Tanuredjo berbincang dengan wartawan senior Nasir Tamara, seorang wartawan senior yang turun langsung dalam peliputan Revolusi Iran 1997 untuk Harian Sinar Harapan. Nasir menjabarkan apa saja yang menjadikan Iran menjadi kuat seperti hari ini.
Ekonomi
Ada beberapa alasan yang bisa dikemukakan, pertama adalah kebijakan ekonomi pemerintah yang mengutamakan kesejahteraan para masyarakat yang sebagiannya merupakan kaum lemah, kaum yang dianggap hina, rendah, dan sebagainya.
Pasca pergantian rezim, Iran dipimpin oleh seorang Pemimpin Agung atau Pemimpin Tertinggi, yakni Ayatollah Ali Khamenei yang juga merupakan seorang ulama besar Syiah.
Kepemimpinannya tidak absolut, Ali Khomenei menunjuk Presiden untuk memimpin pemerintahan juga membentuk Majelis Pakar yang terdiri dari 88 orang ulama yang bertugas untuk memilih dan mengawasi kinerja Pemimpin Agung.
“Dia (Iran) itu memutuskan bahwa program ekonomi adalah program untuk rakyat kecil semuanya. Dan program ekonomi itu dijalankan semasa dia perang,” ungkap Nasir.
Hingga kini, kemiskinan di Iran masih ada, namun sangat rendah, dan perekonomian masyarakat secara umum berjalan baik.
Teknologi
Faktor kedua mengapa Iran menjadi negara yang kuat adalah teknologi juga ilmu pengetahuan benar-benar dikembangkan di sana.
Nasir menceritakan bagaimana Gus Dur pernah berkunjung ke Iran sebelum menjadi Presiden ke-4 RI, ia kagum akan tingkat intelektual para ulama di Iran yang bisa memimpin think tank di berbagai bidang ilmu pengetahuan, mulai dari ekonomi, teknologi, industri, persenjataan, moda transportasi, dan sebagainya.
Padahal, kondisi Iran ketika itu baru 10 tahun rampung dari perang dengan Irak akibat adanya ketidakstabilan yang timbul pasca Revolusi Iran 1978.
“Gus Dur kaget, karena para ulama di sana itu kok memimpin think tank ekonomi, memimpin think tank teknologi, kemudian bisa ngurusin pabrik mobil, bisa ngurusin pabrik senjata, kapal terbang, segala macam. Dia ketemu dengan banyak ulama, dia berpikir mungkin enggak ya seperti ini bisa terjadi di negara lain,” ujar Nasir.
Pendidikan
Alasan selanjutnya adalah kualitas intelektual masyarakat Iram yang mumpuni, karena Negara memfasilitasi mereka pendidikan yang baik dan berkualitas.
Nasir menjelaskan, pemerintah Iran menggratiskan akses pendidikan mulai dari TK hingga perguruan tinggi pada seluruh rakyatnya.
Hal itu makin memantapkan kualitas intelektual rakyat di Iran, karena pada dasarnya mereka merupakan bangsa yang cerdas.
“Dalam catatan riset genetik tentang IQ, dia termasuk lima yang tertinggi di dunia, mungkin dia nomor tiga atau nomor dua di dunia. Ditambah lagi dengan pendidikan, ditambah lagi dengan memobilisir, membantu orang miskin, menjadi Iran tuh kokoh,” sebut Nasir.
Tiga hal inilah yang menjadi pondasi utama yang hari ini melahirkan Iran sebagai negara yang kuat. Kondisi itu semakin dimantapkan dengan besarnya keimanan masyarakat juga pemimpin di Iran akan Tuhan. Jadi, bisa dikatakan Iran berjalan di atas intelektualitss dan spiritualitas yang kuat. Kecerdasan mereka dikembangkan dalam bingkai iman dan ketaatan beragama.
Iran boleh teralienasi dari hingar-bingar dunia global akibat sanksi AS sejak hari pertama Reformasi Iran berlangsung. Iran diboikot, tidak bisa menjual minyaknya secara bebas, bank-bank dibekukan, kekayaan yang ada di luar negeri tidak bisa ditarik, rakyatnya sulit bepergian ke berbagai negara karena visa begitu dibatasi. Bahkan, Iran dipropagandakan oleh AS dan negara-negara yang memusuhinya sebagai negara yang menjadi sponsor organisasi-organisasi teroris di berbagai negara Timur Tengah.
Tapi dalam keterasingan itu, Iran terus bertumbuh dan berkembang hingga hari ini muncul sebagai kekuatan besar yang mampu menghadapi dan melawan serangan militer Israel dan Amerika.
“Sangat tough dan dia juga berdikari. Jadi yang poin ketiga (pendidikan) menjadikan Iran itu berdikari. Kalau yang kita baca terjadi pembunuhan terhadap ahli nuklir, orang-orang pinter kan disasar, tapi selalu ada yang menggantikan. Selalu mereka bisa. Dari mana? Mereka enggak dididik di luar negeri. Mungkin S1-nya di sana, S2-nya di sana (luar negeri), tapi lanjutannya sama praktiknya itu dilakukan di Teheran, di Iran, di mana-mana,” sebut Pengamat Politik Timur Tengah itu.
Iran belajar dan mengembangkan reaktor nuklir. Ilmu itu mereka dapat dari Perancis dan Rusia. Mereka memiliki laboratorium pengembangan nuklir di sekitar Selat Hormuz yang disebut sebagai The Bushehr Nuclear Power Plant (BNPP).
Selain itu, Iran juga mempelajari dan mempraktikkan teknologi nano. Mereka dibatasi dan dipersulit dalam belanja alat atau kendaraan tempur militer. Oleh karena itu, mereka memanfaatkan pesawat-pesawat yang ada, seperti pesawat F-16 yang pernah mereka gunakan dalam perang melawan Irak yang kondisinya sesungguhnya sudah rusak. Pesawat itu mereka perbaiki sedemikian rupa dengan tekonologi nano tersebut.
Rakyat Berani Mati Bela Negara
Hal lain yang juga menarik diketahui adalah bagaimana sikap dari masyarakat Iran yang berani mati demi membela negaranya. Terdengar klise, namun fakta memang demikian adanya.
Yang paling jelas kita lihat, misalnya di awal serangan Israel kepada Iran yang menewaskan Pemimpin Agung Iran. Tak butuh waktu lama, Iran melancarkan serangan balasan. Eskalasi perang antar Israel dan Iran pun meningkat.
Orang-orang di Israel sibuk mengamankan diri di bunker-bunker ketika sirine tanda bahaya dibunyikan. Sebaliknya, masyarakat di Iran justru keluar rumah, berkumpul di berbagai titik -alan, di ruang publik.
Mereka mengutuk Israel, mendukung negaranya untuk terus melawan, sekaligus menyerukan duka mendalam atas kematian Ayatollah Khamenei, pemimpin yang mereka hormati.
“Mereka itu sudah mengalami perang 8 tahun dengan Irak itu dan banyak sekali yang mati. Kemudian mereka menjadi sangat menunjukkan bahwa mereka itu orang yang sangat berani mati untuk membela negaranya. Dan kita lihat sekarang betapa nasionalisme mereka tanpa mempedulikan agama, ataupun keyakinan politik,” kata Nasir.
Sikap ini semakin terlihat ketika Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menyerang Iran hingga hancur lebur dan kembali ke zaman batu, tepat di Hari Paskah. Hari yang dianggap penting bagi umat Nasrani, termasuk umat Nasrani yang menjadi minoritas di Iran.
Tak lama, Trump kembali membuat murka masyarakat Iran, karena menyebut mereka seperti binatang dan layak dihancurkan.
“Itu yang sangat enggak kebayang, seorang kepala negara besar bisa mengatakan begitu. Jadi itu membikin orang Iran bersatu lagi yang dulunya mau menjatuhkan pemerintah, mereka malah balik lagi sekarang. Mereka enggak mau lagi untuk melawan pemerintah. Pokoknya pulang dulu membela negaranya dulu,” ungkap dia.
Sebagai konteks, sebagian warga Iran, khususnya yang datang dari kelompok kaya dan pendukung Rezim Shah Pahlavi, melarikan diri ke Amerika Serikat saat Revolusi Iran meletus demi mengamankan asetnya. Mereka ingin agar Iran kembali dipimpin oleh Raja, dan melengserkan Rezim yang saat ini memimpin.
Ketika perang dengan Irak terjadi, nasionalisme rakyat Iran juga teruji sangat kokoh. Ketika itu Arab Saudi memihak pada Irak yang dipimpin oleh Saddam Husein.
Di daerah selatan Iran, ada masyarakat yang merupakan etnis Arab, mereka minoritas di Iran. Meski beretnis Arab, mereka tetap mendukung Iran, mereka tidak mengikuti Arab Saudi yang secara jelas berada di pihak Irak.
“Mereka menyatakan, I am Iranian. Saya orang Iran. Jadi mereka ikut melawan. Jadi bukan soal agama, tapi soal peradaban (yang terbangun) sudah 5.000 tahun,” jelas pria 75 tahun asal Bandar Lampung itu.
Rakyat Iran melihat dirinya seperti rakyat China, yakni sebagai the cradle of civilization atau tempat lahirnya peradaban.
Sistem bernegara datang dari mereka, banyak pemikir hebat lahir dari tanah mereka. Jadi mereka memiliki kebanggaan atas itu dan menjunjung tinggi sebagai sebuah harga diri atau martabat bangsa.
Ketika Israel menyerang, bahkan mengajak serta Amerika untuk membantu serangannua, Iran tak gentar. Mereka sudah bersiap untuk bisa melakukan serangan balasan. Tak ada rasa takut, tak ada rasa gentar terhadap lawan.
Bom-bom berjatuhan di Iran. Namun, musuh mungkin lupa bahwa geografis iran terdiri dari gunung-gunung dengan batuan yang sangat padat atau keras, sehingga tidak semudah itu untuk menghancurkan wilayah Iran.
Iran pun paham, tipikal Amerika dalam berperang adalah ingin menghancurkan infrasturuktur-infrastuktur pending di wilayah musuhnya. Iran belajar dari sejarah, bagaimana Amerika menghancurkan Irak, Libya, dan lain-lain.
Oleh karenanya, Iran menggali terowongan-terowongan untuk menyimpan drone, misil, dan sistem pertahanan mereka, sehingga tetap bisa melakukan serangan terhadap Israel.
Iran juga berhasil membuat drone murah namun efektif. Drone itu pertama kali diujicobakan oleh Rusia saat melawan Ukraina. Rusia menyempurnakannya dan dikembalikan lagi ke Iran.
Hasilnya, luar biasa. Iran tak perlu mengeluarkan dana yang fantastis hanya untuk menyerang musuh dengan drone-drone murahnya.
“Jadi itu yang begitu drone kecil yang murah gitu dikirim ratusan, semua alat penangkal serangan udaranya Amerika itu enggak berfungsi. Sehingga di Israel itu angkasanya sudah enggak bisa dikuasai. Dan ketika Iran menyerang seluruh pangkalan angkatan udara, pangkalan Amerika di negara Teluk, semuanya hancur karena teknologi mereka,” jelas Nasir.
“Jadi memang percaya diri kuat dan berani mati, itu sudah jelas, tapi percaya diri, kebanggaan nasional bahwa mereka itu bangsa,” lanjut penulis buku Revolusi Iran itu.


Leave a Reply