“Jangan menipu diri lah. Barangkali beginilah, satu gelas ini, katakanlah gelas ini (berisi) separuh, yang dibicarakan pemerintah barangkali separuhnya itu. Data-data betul pertumbuhan 5 persen, ekspor kita, surplus, dan lain-lain. Tapi kita lihat (pula) separuh yang kosong ini,”
โAnggota Dewan Pakar Apindo, Anton Supit
Perang yang meletus di kawasan Timur Tengah, antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat tidak hanya menyebabkan ketegangan di antara negara yang terlibat, tapi juga sebagian besar negara-negara di seluruh dunia. Tak terkecuali Indonesia.
Kondisi konflik menyebabkan pasokan berbagai bahan, mulai dari bahan bakar hingga bahan-bahan produksi berbagai macam kebutuhan di dalam negeri menjadi terhambat yang secara langsung memengaruhi kondisi dunia usaha kita.
Dalam siniar Back to BDM, Budiman Tanuredjo mengundang Anggota Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Anton Supit untuk membicarakan persoalan yang satu ini.
Sebelum jauh menjelaskan kondisi dan kerisauan teman-teman pengusaha saat ini, Anton menggarisbawahi bqhwa dunia usaha kita saat ini sedang galau akibat dilanda begitu banyak ketidakpastian, baik yang datang dari luar maupun dalam negeri.
Dan sayangnya, Anton menyebut jika krisis ekonomi terjadi, akan jauh lebih sulit menanganinya dibanding menangani krisis politik.
“Kacau politik, begitu kita duduk bersama, atur-atur bagi kekuasaan, semua setelah settle, ya sudah damai. Tapi ekonomi kalau sudah terpuruk, investor malah berkurang, unemployment-nya bertambah, dan lain-lain. Ini kan masalah sosial akan makin rumit,” jelas Anton.
Apalagi kondisi keuangan negara saat ini tidak bisa dibilang baik-baik saja, APBN defisit, transfer ke daerah berkurang, efisiensi dilakukan di berbagai lini. Salah satu dampaknya, pemerintah daerah akan menaikkan pajak-pajak daerah demi memenuhi kebutuhan keuangan daerah masing-masing. Yang demikian tentu akan semakin memukul dunia usaha.
Oleh karena itu, ia berharap pemerintah jujur dengan kondisi negara, segera mencari solusi, dan memecahkan masalah utamanya. Setidaknya pemerintah segera memberi signal yang jelas, apa yang akan dilakukan dalam waktu singkat, sehingga publik menjadi tenang dan tahu apa yang sedang mereka upayakan.
Bagi Anton, sejauh ini pemerintah belum melakukan apa yang ia sampaikan sebelumnya. Belum ada pernyataan tegas yang membuat publik bisa tenang. Ia justru mendengar pernyataan Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong soal apa yang pemerintah Singapura lakukan di tengah krisis ekonomi akibat perang saat ini.
“Saya kira ya itu saja yang kita pakai sebagai guidance. Yang kita anggap make sense juga untuk kita lah. Dia realistis, kita menghadapi situasi tidak enak, bukan suasana yang enak ya ini,” ujarnya.
Ia pun mengajak kita semua untuk saling gotong-royong, tolong-menolong, bahu-membahu menyelesaikan masalah yang kompleks dan tidak mudah ini. Tidak bisa jika kita hanya diam mengandalkan kerja-kerja pemerintah.
Sedangkan pemerintah harus bisa menjadi rujukan, perbaiki data yang digunakan, buat kebijakan-kebijakan yang sesuai dan tepat dengan kondisi yang sedang dihadapi, sehingga masyarakat bisa percaya dan tenang.
“Ini yang tidak terlihat di dalam kebijakan-kebijakanโ terutama di bidang usaha, keadaan yang extraordinary ini tapi kok di dalam pelaksanaan kebijakan lain business as usual,” kata Anton.
Saat ini banyak teman-teman pengusaha yang mengaku situasinya begitu sulit, toko-toko sepi, harga bahan baku melonjak, sementara upah pekerja harus tetap dibayarkan. Bagi Anton, ini bukan testimoni satu dua orang pengusaha saja, tapi mencerminkan kondisi secara umum.

Hingga saat ini, pemerintah kita, baik Presiden Prabowo, maupun Menteri Keuangan Purbaya selalu menegaskan bahwa kondisi negara dan keuangannya baik-baik saja. Jika ada yang mengkritik, beberapa kali kritik itu justru dimentahkan.
Anton berharap, pemerintah bersifat jujur dan terbuka dengan kondisi yang sedang dijalani, tidak perlu menutup-nutupi fakta. Jika memang kondisi negara sedang berat, sampaikanlah.
“Jangan menipu diri lah. Barangkali beginilah, satu gelas ini, katakanlah gelas ini (berisi) separuh, yang dibicarakan pemerintah barangkali separuhnya itu. Data-data betul pertumbuhan 5 persen, ekspor kita, surplus, dan lain-lain. Tapi kita lihat (pula) separuh yang kosong ini,” jelas Anton.
Pemerintah mungkin tidak bermaksud sengaja untuk menipu kita dengan data-data yang mereka sampaikan. Misalnya soal angka pengangguran yang dikatakan menurun, padahal kondisi di lapangan begitu banyak orang yang berebut pekerjaan.
Bisa jadi, ada perbedaan diksi, perbedaan standar penilaian, dan sebagainya, sehingga pada akhirnya pengangguran dinyatakan menurun. Bukan tidak mungkin, kelompok pencari kerja tidak dimasukkan sebagai kelompok pengangguran. Padahal secara praktis, mereka masih mencari pekerjaan dan belum memiliki pekerjaan alias menganggur.
“Bayangkan saja, di DKI pada waktu dibuka (lowongan kerja) untuk pasukan orange, ternyata yang melamar banyak (kelompok) sarjana juga. Bayangkan, sarjana yang rela mau bekerja itu. Saya tidak menganggap enteng atau undergrade orang-orang itu, mereka berjasa juga kan, tapi sarjana itu mau menerima, yang penting ada upah minimum 5 juta lebih. Kita jangan menutup mata terhadap begini. Kalau betul baik, kenapa ini terjadi?,” tanya Anton.
Jika ditarik kembali ke dunia usaha, Anton berani mengatakan sesungguhnya minat dunia internasional masih tinggi terhadap Indonesia, sayangnya ada banyak faktor yang membuat mereka berpikir ulang untuk mengeluarkan uangnya.
Bukan hanya soal fiskal dan moneter saja, tapi bagaimana iklim investasi kita yang belum baik, kepastian hukum yang tidak bisa diandalkan, kebijakan yang berubah-ubah, dan banyak hal lain yang turut memengaruhi.
Jika pemerintah mrngklaim angka PHK berkurang, Anton mengatakan bahwa teman-teman pemimpin di sejumlah perserikatan buruh mengaku jika anggota mereka terus berkurang.
“Jadi inilah yang semestinya kalau kita punya good will mau menyelesaikan masalah, harus mendengar juga. Terus jangan sampai lebih banyak orang yang yes man hanya untuk memuaskan, untuk kita dengarnya enak, tapi kenyataan kan tidak seperti itu,” harap Anton.
Secara umum, orang-orang di Indonesia memang cenderung demikian, enggan menyatakan hal buruk, lebih senang menyampaikan yang baik-baik, demi menghindari masalah, demi mengghindari perpecahan. Anton menggunakan istilah “jangan cari musuh” untuk menggambarkan pola pikir orang-orang kita.
Lebih Berat dari Krisis Covid-19
Indonesia sudah beberapa kali diterjang krisis keuangan, mulai dari krisis moneter 1998, krisis finansial global 2008, krisis Covid-19, dan 2026 saat ini krisis global akibat perang.
Sebagai orang yang sudah melalui berbagai macam jenis krisis itu, Anton Supit bisa mengatakan krisis yang terjadi saat ini lebih berat dibandingkan dengan krisis saat terjadi pandemi Covid-19.
Alasannya, pandemi adalah semacam bencana yang meskipun kita tidak tahu kapan akan berakhir, namun bisa dipastikan itu akan berakhir dan teratasi. Dan benar pandemi berakhir di pertengahan 2023.
“Tapi kalau ini (krisis 2026) saya rasa sistemik,” sebut Anton singkat.
Ia mencontohkan bagaimana seorang pengusaha industri yang membutuhkan garam atau gula sebagai bahan produksinya justru kesulitan mendapatkannya, karena regulasi yang diterapkan oleh pemerintah sehingga harga melambung dan akan memengaruhi ongkos produksi.
Hal serupa terjadi di banyak aspek yang lain, namun Anton tidak membukanya satu per satu.
“Saya tidak bisa mengatakan satu persatu, karena seperti saya bilang tadi, kita ini terlalu riskan juga menjadi orang yang mau berjuang untuk kepentingan bangsa. Artinya sebagai pengusaha, saya kan bukan aktivis, jujur saja saya sangat appreciate dengan para aktivis. Berani mempertaruhkan nyawa sekalipun demi tujuan yang luhur,” sebut Anton.
Ia menyebut ada dua kelompok manusia yang bekerja untuk kebaikan bangsa: orang berjasa dan pahlawan. Bedanya, orang berjasa akan diberi imbalan, entah penghargaan, diberi bintang, namanya diabadikan, dan sebagainya. Namun pahlawan, mereka adalah orang yang rela mengorbankan apapun, termasuk nyawanya, demi bangsa dan negara.
“Saya terus terang saja tidak ada potensi untuk jadi pahlawan begini. Harus tahu dirilah, kondisi sekarang tidak kondusif. Saya pernah tanya ke seorang tokoh yang kita anggap tokoh benar, yang menjadi panutan, bagaimana sekarang? Jawaban dia yang saya juga surprise dan dia juga sudah melakukan seperti itu, ‘sekarang urus diri sendiri-sendiri saja. Jadi, udahlah daripada kita mau sok jadi pahlawan malah jadi pusing,” Anton menyebutkan jawaban tokoh yang ia temui.
Ia berharap, kebijakan apapun yang dibuat oleh pemerintah harus menjadikan ekonomi berjalan secara lebih efisien, harga barang myrah, ketersediaan aman, pasar bisa menyerap.
Pemerintah harus benar-benar menyaring siapa saja pihak yang akan dilibatkan dalam program-program yang dijalankan. Harus orang yang memiliki kemampuan dan kapasitas, jangan sampai memasukkan orang-orang inkompeten untuk urusan bangsa.
“Kalau kebijakan ini melibatkan pihak ketiga yang tidak profesional, ini akan menambah beban. Saya ingat ada seorang teolog jerman yang menulis, inkompetensi itu lebih berbahaya dari penjahat, karena kalau saya tidak punya kompetensi tapi saya menjadi penguasa, apa kata saya, salah benar you harus ikut, kan?,” ujar Anton.
Kembali pada pernyataannya sebelumnya, ia mengajak semua pihak untuk saling merangkul, solid, antara masarakat dan pemerintah, antara swasta dan BUMN.
Termasuk teman-teman pengusaha juga selama ini membantu pemerintah, meski motivasi utama berusaha adalah mencari provit untuk berkembang.
Tapi di samping itu, usaha bisa mendatang penerimaan pajak, membuka lapangan kerja, menambah devisa, dan sebagainya. Tapi justru teman-teman pengusaha ini mengalami hambatan atau dipersulit di banyak hal.
“Jadi kita betul-betul sebenarnya tidak ingin macam-macam. Kita hanya ingin bangsa kita ini survive, terutama yang di bawah itu bisa mendapatkan haknya, karena hak yang paling mendasar dari seorang manusia adalah hak hidup,” kata Anton.
Presiden Prabowo dalam pertemuannya dengan teman-teman pengusaha di Hambalang telah memaparkan iktikad baiknya untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dikeluhkan.
Anton mengakui selama ini banyak permasalahan yang sudah berhasil diatasi, jika dilaporkan. Namun, permasalahan di lapangan ada begitu banyak dan tidak mungkin semuanya dilaporkan satu per satu. Anton pun berharap ada sistem pelaporan dan kontrol yang dibangun sehingga tiap persoalan yang dihadapi teman-teman pengusaha bisa diselesaikan dengsn sistem yang jelas.
Pemerintah memang sudah membentuk sejumlah satuan tugas untuk hal ini, namun Anton tidak mengetahui secara pasti apakah satgas-satgas itu bekerja efektif.
“Kita ini sistemnya juga tidak baik, tapi orangnya baik, akan lancar. Tapi kalau sistem baik, orangnya jelek, ada saja yang dia bisa bikin sampai susah. Jadi ini memang menurut saya memerlukan satu leadership yang kuat,” kata Anton.


Leave a Reply