Gandhi, Hatta, dan Bang Ali

Banyak orang berkelakar bahwa Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan bahkan teks undang-undang pada umumnya adalah karya sastra terburuk. Bahasanya kaku, kering, dan miskin rasa. Bahasa para sarjana hukum pun kerap dianggap tak ramah bagi pembaca awam, apalagi sebagai bacaan yang menggetarkan batin.

Namun buku Jendela-Jendela Suara Hati karya Prof. Dr. I Gede Dewa Palgunaโ€”mantan hakim konstitusi dan kini Ketua Dewan Kehormatan Mahkamah Konstitusiโ€”seakan menepis anggapan itu. Dalam buku ini, hukum tidak hadir sebagai teks beku, melainkan sebagai prosa yang hidup: reflektif, bernilai, dan menyentuh nurani.

Buku ini merupakan kumpulan 61 esai Palguna yang dimuat di Majalah Konstitusi, terbitan Mahkamah Konstitusiโ€”sebuah lembaga yang sendiri tengah berada dalam sorotan publik. Esai-esai itu lahir dari beragam peristiwa dan latar, ditulis dengan kedalaman sejarah dan keluasan bacaan yang terasa nyata.

Goenawan Mohamad, dalam pengantarnya, menyebut Palguna mendekati sosok juristโ€”bahkan intelektual organik dalam pengertian Antonio Gramsci: seorang pemikir yang tak sekadar menjelaskan hukum, tetapi menghidupkan kesadaran dan perlawanan moral.

Sementara I Gede Joni Suhartawan menyebut buku ini sebagai buku jurusan hati.
Di setiap halaman, terasa kegelisahan batin seorang hakim yang tak pernah benar-benar tenang melihat arah kebangsaan dan masa depan konstitusionalisme Indonesia. Palguna tidak menguliahi hukum; ia menyingkapnya lewat kisah, tokoh, dan peristiwa, membuka โ€œjendela-jendela kecilโ€ untuk memahami keadilan sebagai cita-cita, bukan sekadar norma.

Gandhi, Hatta, dan Bang Ali

Dari kumpulan esai itu, tampak jelasโ€”setidaknya menurut tafsiran sayaโ€”ada tiga sosok yang dikagumi Palguna: Mahatma Gandhi, Mohammad Hatta, dan Ali Sadikin.
Tentang Gandhi, Palguna mengutip Albert Einstein yang pernah berkata kurang lebih begini:

โ€œAndaikata sejarah tidak menuliskannya, sangat mungkin generasi sekarang tidak percaya bahwa sosok seperti ini sungguh-sungguh pernah ada.โ€
Kesederhanaan, kejujuran, karakter, dan determinasi Gandhiโ€”tulis Palgunaโ€”bahkan melampaui kemampuan kata-kata untuk menggambarkannya.

Tentang Hatta, Palguna menulis dengan nada serupa. Ia mengisahkan sepatu Bally yang tak mampu dibeli Hatta, tabungan pensiun yang tak cukup membayar listrik, air, dan PBBโ€”hingga akhirnya Ali Sadikin turun tangan membayar tagihan itu. Sebuah kisah sunyi tentang integritas yang hidup tanpa sorak-sorai.

Sosok Ali Sadikin juga tampil kuat. Palguna mengingatkan, sambil mengkritik demokrasi yang belum tentu melahirkan pemimpin baik, bahwa Bang Ali justru ditunjuk Sukarno sebagai Gubernur Jakarta pada 1966.

Mengutip Mochtar Lubis, Palguna menggambarkan Bang Ali sebagai sosok yang disiplin dan tegas, keras kepala namun berhati, dan berpihak pada mereka yang tertindas.

Bang Ali tidak anti kritik. Ia membiarkan pers mengkritiknya tanpa rasa takut. Ia bahkan membiayai LBHdan membiarkan LBH menggugat kebijakannya sendiri. Di situlah kelebihannya: kekuasaan yang tidak alergi pada koreksi.

Catatan Kritis

Horizon pengetahuan Palguna jelas berada di atas rata-rata. Ia tampak sebagai seorang pembaca rakus sejarah dan pemikir yang tekun menautkan masa lalu dengan kegelisahan hari ini.

Namun ada satu kelemahan kecil dalam bukunya, Palguna tidak mencantumkan waktu penulisan setiap esai. Akibatnya, pembaca kesulitan menebak konteks sosial-politik yang melatarbelakangi esai-esai tertentu, termasuk esai berjudul Ban Serep. Padahal, dalam esai ituโ€”meski berkisah tentang pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 1948โ€”Palguna menutup tulisannya dengan kalimat yang terasa sangat kontemporer:

โ€œโ€ฆternyata menentukan siapa yang layak menjadi ban serep dalam sistem pemerintahan presidensial jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Kualitas calon ban serep minimal harus setara dengan kualitas ban utama. Sebab jika suatu pagi ban serep terbangun dan mendapati presiden meninggal atau mengundurkan diri, ia tidak boleh kembali tidurโ€”melainkan harus siap menjadi presiden, in title and in powers.โ€

Sebuah penutup yang meninggalkan tanyaโ€”dan justru karena itu menjadi relevan.
Di tengah hiruk-pikuk politik hari ini, Jendela-Jendela Suara Hati mengingatkan kita bahwa hukum, konstitusi, dan kekuasaan pada akhirnya selalu bermuara pada karakter manusia.

Dan dari Gandhi, Hatta, hingga Bang Ali, Palguna seakan berbisik: bahwa kekuasaan yang paling langka bukan yang paling kuat, melainkan yang paling setia pada suara hati.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *