“Bantu teman-teman ini berkembang. Indonesia emas itu yang ngeraih bukan hanya kaum intelektual loh. Nih kaum jalanannya bagian dari negara loh,”
โKetua Umum Komunitas Musik Jalanan, Faradian
Realitas menjadi seorang pengamen jalanan tidak lah semudah yang dibayangkanโ sedikit bernyanyi lalu langsung dapat uang. Tidak. Mereka harus bekerja di tengah serba ketidakpastian jalanan yang menyimpan banyak risiko dan peluang.
Tidak ada seorang pun yang terlahir bercita-cita ingin menjadi seorang pengamen. Jika bukan karena keadaan yang memaksa, opsi pekerjaan ini mungkin tak akan pernah ada.
Budiman Tanuredjo mengundang sejumlah musisi jalanan yang tergabung dalam Komunitas Musik Jalanan (Komjal) untuk membagikan cerita perjuangan mereka dalam mengumpulkan rupiah dari jalanan
Faradian, Ketua Umum Komjal menceritakan betapa mereka menghadapi banyak sekali permasalahan dan tantangan saat mengamen. Mulai dari larangan mengamen di tempat tertentu, hingga munculnya peraturan pemerintah yang melarang masyarakat memberi uang pada pengemis dan pengamen di jalanan.
Di jalanan sulit, masuk ke kafe-kafe pun tak bisa dibilang mudah, terlebih ketika ada simpang siur aturan royalti lagu-lagu yang harus dibayarkan beberapa waktu yang lalu. Mereka menjadi tidak bisa sembarangan membawakan lagu-lagu milik orang lain.
“Kafe sekarang kan udah sulit. Kemarin ada masalah royalti yang berbelit-belit itu. Dia (kafe)juga enggak mau lagi menggaji teman-teman, tapi silakan kalian ngamen pakai kotak saweran sendiri, itulah hasil kalian. Jadi cuma kasih space. Ada juga sih yang mau ngasih regular, cuma sangat kecil sekali (nominalnya). Karena kemarin mereka takut ditagih royalti,” ungkap Ian dalam siniar Back to BDM.
Ian membagikan pengalaman pahit yang pernah ia rasakan selama menjadi pengamen. Salah satunya saat pandemi Covid-19 melanda, ia tidak memiliki uang sama sekali, satu sen pun tidak.
Ketika itu, ada aturan ketat yang diberlakukan demi menghindari rosiko penularan virus. Banyak kegiatan yang melibatkan interaksi antar manusia dibatasi, termasuk mengamen di jalanan.
“Mau ngamen kan ditangkap. Jadi bagaimana kita bekerja, waktu itu kita menghindari (berbuat) kriminal. Jadi kadang-kadang orang berpikir, ‘kenapa anak ini buat-buat kriminal di jalanan?’ Yah, orang lapar itu garang. Ini kita sudah enggak bisa ngapa-ngapain lagi, udah pasrahlah, mau ngamen sudah enggak bisa, berbuat jahat adalah kriminal, kita mau meminta-minta juga salah,” jelas Ian.

Anggota Komjal bernama Albert mengaku lernah diamankan oleh Dinas Sosial dan penyitaan alat.
“Iya diajak (diamankan), alat kita disita sama mereka. ya kalau ada yang jamin ya dikembaliin. Biasanya kayak teman-temannya Bang Ian. Ada kan yang ketua-ketua di sana juga, ada yang ngurusin juga,” kata Albert.
Sama seperti Albert, Ray juga sempat mengalami penangkapan dan penyitaan alat oleh Dinas Sosial. Bahkan, ia menyebut harus mengeluarkan sejumlah uang terlebih dahulu untuk menebus alat yang disita itu.
“Kadang alatnya juga kan disita dan itu butuh tebusan biasanya. Ya kadang ada antara 100 sampai 200. Sementara kita di dalam Dinsos, kan bingung juga kita (bagaimana bayarnya). Kita enggak menyalakan sih, mungkin itu oknum,” ujar Ray.
Anggota Komjal lain yang turut hadir di Back to BDM, Dedi, mengaku tak pernah mengalami sebagaimana dialami teman-temannya.
Hal itu lantaran ia tak pernah mengamen di tempat rawan seperti lampu merah, ia hanya berkeliling di sekitaran warung-warung makan.
“Kalau saya lebih ke kayak warteg terus pecel ayam kayak gitu-gitu aja sih. Paling ya yang ini tuh paling dicuekin gitu aja sih, enggak sampai ditangkap alhamdulillahnya,” akunya.
Harapan pada Pemerintah
Selaku penggagas Komunitas Musik Jalanan, Faradian memiliki mimpi besar untuk teman-teman sesama pengamen jalanan ahar mereka semua bisa meningkat kualitas hidupnya.
Selama ini, orang-orang di jalanan lewat dengan kondisi kemiskinan struktural yang sulit untuk mereka melepaskan diri daripadanya. Perlu peningkatan kualitas SDM untuk memutus kondisi yang ada.
“Jalanan tidak akan berhenti kemiskinannya kalau hanya dikasih sembako dan BLT. Tapi bagaimana SDM di jalanan ini, teman-teman di jalanan ini yang tidak tamat sekolah, SDM-nya gimana? Apakah mereka harus dibiarkan seperti itu? Nanti lahir anaknya, anaknya juga seperti itu. Jadi, kemiskinan kultural dan struktural jalan itu berkembang dari zaman dulu sampai sekarang enggak berhenti,” ungkap Ian.
“Salah satu otot kekuatan pemerintah, putuskan rantai kemiskinan di jalanan baru otot Indonesia akan kelihatan,” ia melanjutkan.
Ian berharap teman-teman bisa diberi pelatihan dalam berbagai hal, termasuk membuat konten, mencari uang lewat media sosial, sistem pembayaran digital, dan sebagainya.
Mereka juga sama-sama anak bangsa, sama-sama generasi muda. Selama ini perhatian pemerintah banyak ditujukan hanya untuk kalangan terdidik atau yang memiliki latar belakang intelektual tinggi saja, sementara mereka anak-anak jalanan terpinggirkan.
“Apakah pemuda jalanan enggak masuk pemuda? Menpora ini kan Menteri Pemuda dan Olahraga. Pemudanya pemuda mana? Ini pemuda semua nih loh,” tanya Ian.
Termasuk juga kementerian yang lain, seperti Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Kebudayaan, dan sebagainya.
Ian berharap mereka mau membuat program pelatihan bagi teman-teman pengamen. Tidak perlu semua pengamen di seluruh Indonesia dipanggil, cukup panggil beberapa orang per wilayah. Mereka nanti yang akan mengajarkan pada teman-temannya yang lain di daerah.
“Bantu teman-teman ini berkembang. Indonesia emas itu yang ngeraih bukan hanya kaum intelektual loh. Nih kaum jalanannya bagian dari negara loh,” tegas Ian
Buatkan program jangka panjang bagi musisi jalanan, pastikan mereka memiliki kemampuan yang matang untuk akhirnya bisa melanjutkan hidup dengan kualitas yang lebih baik. Pada intinya adalah perbaikan kualitas SDM teman-teman pengamen dan siapapun yang selama ini menggantungkan hidupnya pada jalanan.
Hal lain, mereka sebagai anak bangsa, sebagai kalangan yang bergerak di bidang kesenian dan musik, ingin juga dilibatkan dan diajak bicara dalam audiensi atau rapat dengar pendapat di DPR. Misalnya ketika membahas soal royalti.
Meski mereka bukan artis, bukan pencipta lagu-lagu terkenal, namun mereka adalah orang-orang yang membawakan lagu-lagu itu di jalanan. Ada banyak hal yang bisa mereka sampaikan atau bisa mereka pahami terkait aturan royalti nantinya.
“Yang diundangkan ke DPR cuma artis-artis. Kalau anak jalanan enggak diundang. Cuma takutnya kita kan main di kafe membawakan lagu-lagu orang semua. Nah, itu bagaimana, orang-orang dari kafe ini kan takut juga ditagih royalti. Tiba-tiba nanti mereka ditagih royalty imbasnya ke fee teman-teman atau ada bargaining dari mereka,” kata Ian menjelaskan dampak aturan royalti lagu pada kejelasan nasib para pengamen jalanan.
Sementara itu, Albert berharap agar ke depan ada kebijakan atau program yang lebih pasti bagi mereka, sehingga mereka bisa tetap berkarya, tanpa perlu kembali ke jalanan. Misalnya pemerintah bekerja sama menggandeng kafe dan resto untuk memberdayakan mereka.
“(Saat ini) Kalau kafe paling main cuman seminggu sekali saja. Sehari-hari biasanya ya di jalanan lagi,” ujar Albert.
Menambahkan Albert, Dedi menekankan pentingnya dua hal, pemerintah yang mendukung atau memfasilitasi dan teman-teman pengamen yang mau berkembang.
“Jadi kita juga jangan difasilitasi tapi tidak berkembang. Jadi memang harus dua itu bersinergi,” kata Dedi.


Leave a Reply