“Di lampu merah kami berdiri
โPenggalan lirik lagu “Suaran Jalanan”, Komunitas Musik Jalanan
petik gitar cari rezeki
Tak bermimpi kursi tinggi
Cukup anak makan tiap hari
Beras ada di piring kami
Susu anak jangan terhenti
Itu saja harap di hati dari kami yang hidup di jalan ini,”
Larangan ngamen di lampu merah, ditolak cafe-cafe, penghasilan 0, putar otak agar dapat akses cari nafkah, ciptakan lagu untuk tokoh dan momentum-momentum besar
Di balik beratnya ujian pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu, rupanya ada hikmah besar bagi teman-teman musisi jalanan atau pengamen. Pandemi yang membatasi gerak dan interaksi setiap orang, termasuk para pengamen untuk mencari Rupiah, justru mendorong lahirnya Komunitas Musik Jalanan (Komjal).
Komjal pada awalnya dicetuskan oleh Faradian yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Komjal.
Pada dasarnya, Komjal merupakan sebuah organisasi nonformal yang menjadi wadah bagi para pengamen di berbagai daerah untuk berbagi kesempatan dan menggalang kekuatan bersama. Berdasarkan pengakuan Ian, Komjal kini sudah memiliki anggota di 19 provinsi yang masing-masing provinsi dipimpin oleh seorang koordinator wilayah (korwill).
Dalam siniar Back to BDM bersama Budiman Tanuredjo, Ian menceritakan banyak tentang Komjal yang ia pimpin. Mulai dari awal terbentuk, masalah utama para pengamen di jalanan, hingga terobosan-terobosan baru yang mereka buat agar musisi jalanan tetap mendapat “panggung” dan penghasilan.
Berawal dari Pandemi…
Pandemi yang berlangsung lebih dari dua tahun, menjadikan kehidupan manusia terasa sangat berbeda. Interaksi ajtar manusia secara langsung dibatasi, kegiatan luar rumah dibatasi, semua serba dibatasi demi meminimalisasi terjadinya infeksi virus.
Dalam kondisi seperti itu, praktis para pengamen jalanan kehilangan pemasukan. Tak ada tempat yang bisa mereka singgahi untuk mengamen, jalananpun sepi dari orang-orang yang biasanya menjadi target mereka meminta sedikit rupiah..
Komisi Musisik Jalanan (Komjal) pun lahir secara spontan pada tabjn 2021.
“Kalau orang lain mungkin ada gaji. Kami kalau enggak ngamen, makan gimana? Jadi otomatis waktu itu saya berpikir, kalau kami sendiri-sendiri berperang ke rumah-rumah, cari makan, enggak akan bisa. Kita bentuklah suatu komunitas,” kata Ian.
Awalnya, Komjal membuat lomba ngamen yang digelar secara daring. Tidak memerlukan interaksi fisik secara langsung dan tidak membutuhkan biaya besar. Sangat cocok dengan kondisi pandemi ketika itu. Kegiatan itu disponsori oleh Ketua MPR RI saat itu yakni Bambang Soesatyo (Bamsoet). Jadi, pengamen yang dinilai mengirimkan karya terbaik akan mendapat hdiah yang sudah disediakan.
Bukan sekadar lomba, ternyata itulah pintu yang membuka jejaring sehingga para pengamen dari berbagai daerah bisa saling terhubung.
“Dengan adanya Komjal, kita kirim surat ke kantor-kantor (pemerintahan). Bantuan sembako akhirnya turun buat teman-teman dan kita distribusikan. Jadi kan kita berpikir bagaimana kami bisa mencari nafkah di waktu Covid tanpa melakukan (tindak) kriminal. Melakukan kriminal di penjara, kami ngamen di jalan enggak bisa, karena PPKM kan, akhirnya saya dengan teman-teman itu berinisiatif melakukan kegiatan-kegiatan online waktu itu,” kisah Ian mengenang awal berdirinya Komjal.
Ian meyakini, jika pengamen hanya berdiri sebagai individu masing-masing, mereka tidak akan bisa mengupayakan banyak hal. Oleh karena itu, mereka harus bersatu agar berdaya dan memiliki daya dorong yang lebih besar.
Tantangan Mengamen di Jalanan

Bukan hanya terbatasi oleh pandemi, ngamen di jalanan juga menyimpan banyak risiko. Salah satunya, mereka tidak boleh ngamen di lampu merah, jika tetap nekat bukan tidak mungkin mereka akan dikejar Satpol PP, terjaring razia, dibina di Dinas Sosial, dan alat mengamen mereka akan disita.
Belum lagi adanya aturan pemerintah di mana dilarang untuk memberikan uang pada pengamen atau pengemis. Bagi yang melanggar, akan dikenakan denda tertentu. Aturan Itu semakin membuat keadaan sulit dan menempatkan mereka pada posisi yang serba salah.
“Orang kan takut akhirnya nyawer. Ya maksudnya jangan diganggulah kami dengan aturan-aturan. Biarlah kami bernyanyi mencari nafkah tanpa berbuat kriminal,” Ian meminta.
Ngamen di tempat makan pun tidak mudah. Tidak semua pengelola restoran mengizinkan ada pengamen masuk ke tempatnya. “Dilarang mengamen di sini” adalah pesan yang sering mereka dapati saat akan bernyanyi di tempat-tempat makan.
“Sekarang kan banyak restoran (menerapkan aturan) pengamen dilarang masuk. Banyak tempelan itu, tidak salah mereka, karena memang orang lagi makan digangguin. Kita datang-datang, orang lagi makan, bawa kaceng keceng keceng (suara alat musik untuk mengamen)ya itu jelas salah. Itu kita akui, buat teman-teman jangan seperti itu nanti ke depan. Memang mereka (pengelola) punya hak tentang restoran ini, kita tidak boleh melanggar,” ujar Ian sadar.
Padahal, penghasilan mereka dari ngamen tidaklah membuat mereka menjadi kaya raya, uang hasil ngamen adalah uang yang biasanya hanya cukup untuk makan dan hidup di hari selanjutnya.
Dengan berbagai tantangan yang ada, Komjal pun berharap ada solusi yang diberikan pada mereka. Para pengamen di jalanan tetap bisa mendapat uang dari usaha mereka, dan tidak terjerumus pada tindak kriminal dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang, karena merasa tak ada jalan keluar.
Tampil di Hadapan Para Tokoh
Di tengah kondisi yang tidak mudah, Ian pun berpikir apa yang bisa dilakukan agar para musisi jalanan ini bisa tetap produktif, mendapat penghasilan, dan sebagainya.
Akhirnya, tercetus ide untuk membuat lagu bagi para tokoh, instansi negara, program-program pemerintah, dan sebagainya.
Ternyata ide itu membuahkan hasil, dari cara inilah mereka bisa “ngamen” di area yang dulu rasanya tak mungkin bisa ditembus: tampil di hadapan para pembesar dan diundang oleh berbagai instansi negara. Salah satunya diundang oleh Mahkamah Agung.
“Acara Kampung Hukum diundang kita, tampil di depan 1.000 hakim kemarin, bawa lagu dukungan untuk Mahkamah Agung. Kalau cuman kita sendiri ngamen ke situ, diusir dari security langsung, lu ngapain ke Mahkamah Agung?,” ujarnya.
Mereka diundang untuk tampil membawakan karya-karya yang mereka lahirkan dari jalanan. Karya-karya itu mereka ciptakan secara khusus untuk instansi, sosok, atau momen tertentu, sehingga musik mereka lebih mudah diterima.
Komjal juga pernah diundang di BKN bahkan kediaman Joko Widodo, karena alasan yang sama.
Mereka pernah buatkan lagu untuk banyak tokoh, misalnyaย Jaksa Agung ST Burhanuddin, Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana, Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Prof Zudan Arif Fakhrulloh, mantan Presiden Joko Widodo. dan lain-lain termasuk Budiman Tanuredjo (BDM).
Untuk BDM, Komjal ciptakan lagu berjudul “Jejak Kata Budiman”. Berikut penggalan lirik dari lagu tersebut:
Budiman Tanuredjo suaranya di layar negeri
Dari wartawan hingga pemimpin redaksi
menggali kebenaran dengan hati
Jejaknya terang sampai hari ini
Lirik-lirik itu ditulis berdasarkan riset sederhana, mengandalkan informasi yang tersedia di internet tentang tokoh yang akan dibuatkan lagu. Dari informasi yang ada, mereka susun kata demi kata sehingga merepresentasikan sosok yang dimaksud.
Itulah cara Komjal mencari peluang di tengah kondisi yang tidak mudah.
Ini adalah ikhtiar teman-teman musisi jalanan agar mendapat perhatian dan jalan rezeki di tengah situasi yang sulit. Mereka coba mencari kontak pribadi seorang tokoh, kemudian mengirimkan karya yang mereka buat tentang tokoh tersebut.
“Kalau kami kirimin Bapak lagu Dewa, Bapak enggak akan tertarik. Kalau kami nyanyi lagu-lagu cinta di depan Bapak, enggak tertarik. Begitu kami (bawakan) lagu tentang Budiman Tanaredjo, Bapak pasti balas WA saya. Sama dengan tokoh lain,” jelas Ian.
‘”Ya saya berpikir kalau kami nyanyi lagu-lagu cinta satu album pun orang enggak akan dengar. Mereka bisa panggil artisnya langsung, mereka bisa telepon Rossa, panggil langsung. Mereka enggak akan mungkin ngedengarin kami. Paling ngasih ini 10.000 buat jajan. Saya berpikir kenapa kita enggak bikin lagu tentang mereka aja?,” lanjutnya.
Rezeki Mengalir
Uang hasil ngamen di jalanan yang tidak menentu, hanya di kisaran Rp200.000 per hari per kelompok pengamen, kini bisa membaik.
Panggung mereka kini telah beralih, dari jalanan panas menuju pelataran-pelataran tertutup yang jauh lebih terarur. Pasarnya pun turut bergeser, dari semula orang-orang random yang mereka temui di jalanan, kini menjadi para pejabat atau pegawai yang mereka hibur atas dasar undangan.
Ia menceritakan pengalamannya diundang Kepala BKN, Prof. Zudan untuk tampil di BKN dan mereka mendapat uang saweran hingga jutaan rupiah, karena Prof. Zudan menyuruh anak buahnya untuk ikut menyawer di kotak yang sudah disediakan.
“Diundang ngamen Jumat pagi pas lagi senam pagi, diundang ngamen pakai kotak saweran. Saweran 4 juta lebih,” kisahnya.
Semua ini bukan hanya tentang besar kecilnya uang saweran yang diterima, kembali pada semangat utama Komjal adalah memastikan para pengamen di jalanan bisa tetap berkarya, menyalurkan energi positifnya, dan tetap bisa produktif menghasilkan uang halal yang cukup untuk kebutuhan hidupnya dan keluarganya di rumah.
Boleh ada banyak kesulitan mengamen di luar sana, namun semoga akan tetap ada pintu terbuka untuk para musisi jalanan menampilkan karya-karyanya.


Leave a Reply