“Kalau saya melihat bangsa ini, saya analogikan bangsa ini adalah pasien, bangsa ini adalah pasien yang memiliki penyakit sistemik. Ibaratnya saya membayangkannya seperti penyakit diabetes melitus, kencing manis,”
โDokter Kulit sekaligus Pelari, dr. Margaretha Indah Maharani
Indonesia ada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Mulai dari politik, hukum, lingkungan, sosial, kesehatan, pendidikan, hampir di semua bidang terdapat masalah yang dikeluhkan oleh rakyatnya.
Belakangan kita mendengar ada banyak kasus yang terjadi di tengah masyarakat yang menunjukkan betapa bobroknya kualitas jaminan keamanan dan kesejahteraan di negeri ini.
Anak 10 tahun di Ngada, NTT, bunuh diri karena tidak bisa membeli pena dan buku seharga Rp10.000. Anak 14 tahun di Tual, Maluku, meninggal akibat dianiaya oknum polisi. Suami korban jambret di Sleman, DIY, dipolisikan karena kejar pelaku penjambretan. Bencana alam berupa banjir bandang terjadi di banyak daerah. Pengambilan kebijakan politik yang tidak melibatkan partisipasi masyarakat, seperti keputusan bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace dengan membayar iuran sebesar Rp17 triliun.
Dalam siniar Back to BDM, Dokter Kulit, dr. Margaretha Indah Maharani membagikan pandangannya tentang kondisi Indonesia saat ini dengan sudut pandangnya sebagai seorang yang berlatar belakang dunia bukan bidang politik
Menurutnya, jika Indonesia diibaratkan sebagai sebuah badan, maka dia tengah mengidap penyakit diabetes melitus atau kita kenal sebagai kencing manis. Sebuah penyakit kronis dan sistemis yang muncul tidak secara tiba-tiba, melainkan karena gaya hidup kurang sehat yang berlangsung lama. Meski ada juga kencing manis yang disebabkan faktor genetik atau adanya gangguan sistem imun tubuh.
“Kalau saya melihat bangsa ini, saya analogikan bangsa ini adalah pasien, bangsa ini adalah pasien yang memiliki penyakit sistemik. Ibaratnya saya membayangkannya seperti penyakit diabetes melitus, kencing manis,” kata dokter yang sudah menyelesaikan 5 World Major Maraton (WMM) itu.
Kencing manis adalah penyakit yang menunjukkan banyak gejala pada tubuh penderitanya. Dokter Rani yang mendapatkan gelar spesialisnya dari Universitas Indonesia itu menjelaskan, kencing manis bisa menimbulkan berbagai efek pada kulit. Misalnya gatal-gatal, kulit mudah infeksi, jika terluka tidak kunjung sembuh, bengkak, bisul, dan sebagainya.
Yang menjadi masalah adalah, kita biasa mengobati efek-efek yang ditimbulkan oleh kencing manis, bukan mengobati kencing manis itu sendiri, yakni dengan cara mengontrol gula darah si pasien.
Begitu pula dengan Indonesia.
“Jadi yang saya lihat bahwa seringkali kita berusaha menyelesaikan masalah, tapi superfisial, belum ke akar-akarnya. Oleh karena itu, kita perlu untuk lebih peduli, lebih mau menggali, tanpa terburu-buru berusaha menyelesaikan masalah tapi superfisial. Jadi enggak mendalam sampai ke akarnya,” jelas dr. Rani.
Jika akar masalah diabetes mellitus adalah gula darah yang bertebihan, maka akar masalah pada Indonesia menurut dokter yang menyelesaikan pendidikan S-1 di Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya itu adalah kurangnga kesetaraan pendidikan dan akses kesehatan.
Kondisi tidak ideal itu menyebabkan bangsa ini sulit untuk maju dan sejahtera bersama, karena berbagai macam ketimpangan terus terjadi dan bahkan melebar.
Untuk pendidikan, konstitusi memang sudah menjamin bahwa alokasi anggaran untuk bidang yang satu ini minimal 20 persen APBN. Namun, pelaksanaan di lapangan tidak selalu sama dengan apa yang sudah menjadi ketentuan.
“Kita tahu Indonesia sangat luas dengan segala macam geografisnya. Sampai saat ini belum semua wilayah memiliki sekolah yang mumpuni, sekolah tingkat menengah ataupun tingkat atas. Dan itu menurut saya menjadi suatu PR besar bangsa kita. Bagaimana kita menggapai area-area terplosok di mana anak-anak ini harus punya akses terhadap pendidikan yang lebih baik,” ungkap tamata SMA Taruna Nusantara Magelang yang saat ini sedang mencalonkan diri sebagai Ketua Umum IKASTARA (Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara) itu.
Program-program yang dibuat pemerintah saat ini baginya memang sudah mengarah pada perbaikan akses kesehatan dan pendidikan, namun keberhasilan dari program-program yang ada masih harus terus diupayakan sembari dilakukan evaluasi secara berkala.
Indonesia Emas 2045
Indonesia akan menapaki usia emasnya di 2045 nanti, 19 tahun dari sekarang Indonesia akan berusia 100 tahun. Banyak mimpi dan harapan yang disematkan, berharap negeri ini bisa maju, setara dengan bangsa lain, berdaulat, dan modern.
Pemerintah bahkan sudah menggagas visi Indonesia Emas dan kerap menggaungkannya di berbagai kesempatan.
Namun, untuk bisa mencapai keemasan itu, kita masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang belum rampung dikerjakan. Termasuk belum meratanya akses pendidikan dan kesehatan sebagaimana disebutkan dr. Rani sebelumnya.
Khusus untuk Indonesia 100 tahun nanti, dr. Rani memiliki cita-cita agar negeri tempatnya tinggal menjadi tempat yang memiliki ruang publik sehat dan berkualitas. Indonesia menjadi tempat aman dan nyaman untuk berdiskusi, berdialog, bersuara, dan seterusnya.
Keinginan itu dilatarbelakangi kondisi hari ini di mana perbedaan pendapat seolah menjadi pisau tajam yang membelah-belah masyarakat. Perbedaan hari ini tidak mengantarkan kita pada keberagaman dan kekayaan, tapi justru menimbulkan potensi perpecahan.
“Kalau bangsa yang sehat itu harusnya kita bisa berdialog secara jernih, kita bisa berkomunikasi. Jangan sampai perbedaan pendapat, perbedaan pandangan itu menjadi suatu jarak, bahkan jurang sehingga bangsa itu tersekat-sekat dan terpecah-pecah. Bangsa yang sehat harus bisa membentuk suatu komunikasi, dialog yang baik sehingga akan terjadi keberagaman pendapat, keberagaman pandangan ini menjadi suatu kekuatan besar untuk membangun bangsa,” jelas dia.

Ia meyakini, suatu bangsa tidak harus memiliki pandangan yang seragam, keberagaman itu diperlukan, ia adalah corak yang menunjukkan bahwa kita kaya.
Untuk bisa mencapainya, keberagaman harus disikapi dengan baik, perbedaan bukan untuk memunculkan permusuhan, berbeda pendapat bukan berarti benci atau tidak suka. Termasuk dalam dunia politik.
“Jangan membuat framing-framing negatif terhadap oposisi misalnya, tapi justru merangkul, bekerja sama-sama. Pada akhirnya kita harus bekerja sama-sama kok,” tegasnya.
Untuk saat ini, soal perbedaan pendapat di Indonesia ia nilai mulai membaik. Buktinya, banyak bermunculan orang atau kelompok yang berani mengungkapkan pandangan berbeda-beda atas satu hal. Mereka bersuara tanpa memunculkan friksi atau gesekan tajam dengan pihak lainnya.
Hanya saja, masih ada di antara mereka yang pada akhirnya malah mendapatkan intimidasi, teror, tekanan dari pihak tertentu. Inilah yang menjadi tugas semua pihak, termasuk pemerintah, untuk memastikan bahwa Tanah Air ini aman untuk siapapun yang berbeda suara.
Dengan kebebasan berpendapat yang tumbuh subur dan sehat, besar harapan kita bisa menjadi bangsa yang maju. Bangsa yang maju itu adalah bangsa yang terbuka dengan perbedaan, bangsa yang terbuka dengan kritik, bangsa yang selalu mau memperbaiki diri.
Partai Politik dan Politisi
Indonesia memiliki sejumlah partai politik yang menjadi salah satu pilar utama sebuah negara demokrasi. Partai politik ini memiliki peran dan tugas penting, sebagai penyalur aspirasi rakyat melalui anggota-anggota mereka yang duduk di DPR.
Ironinya, partai politik dan DPR justru menjadi dua lembaga yang tingkat kepercayaan publiknya tergolong rendah. Dengan kata lain, rakyat kurang percaya kepada keduanya.
Sebagai seorang awam di bidang politik, dr. Rani membaca ketidakpercayaan publik itu didasari oleh banyak hal. Misalnya partai politik lebih mengutamakan kepentingan kelompok atau organisasinya ketimbang kepentingan publik.
“Saya tidak bilang semua, tapi kadang-kadang ada kepentingan-kepentingan yang kemudian diutamakan. Kepentingan golongan tertentu yang diutamakan dan itu yang membuat rakyat menjadi tidak percaya,” kata dr. Rani.
Alasan lain, rakyat banyak melihat pelaku tindak pidana korupsi itu banyak yang berasal dari tubuh partai politik dan juga para politisi. Mereka biasanya melakukan hal-hal yang sifatnya koruptif untuk kepentingan mendapatkan kekuasaan atau mempertahankannya. Fakta ini membuat masyarakat semakin sulit untuk menaruh percaya pada organisasi partai politik atau pada lembaga politik lainnya
“Ini sebenarnya menjadi PR besar bahwa politisi-politisi ini mereka itu perlu adanya SDM yang baik dengan integritas yang baik, dan mungkin saat ini kita belum sampai di situ,” ungkapnya.
Alih-alih sibuk berstrategi untuk bermain dalam ombak kekuasaan, Rani sangat berharap semua partai politik menyibukkan diri pada visi utama negara ini. Partai politik dengan masing-masing ideologinya saling berlomba untuk membantu Indonesia mencapai titik yang selama ini dicita-citakan: menjadi negara maju, berdaulat, adil, dan makmur.
“Jadi, instead of mementingkan kepentingan jangka pendek dari kelompok dan golongannya, apabila partai politik ini melihat ke tujuan yang lebih besar dari bagaimana membangun bangsa dan negara ini setidaknya menuju Indonesia emas, harusnya kita bisa sama-sama menuju jalan yang positif instead of bagi-bagi kekuasaan dan kemudian bagi-bagi kepentingan,” pungkas dr. Rani.


Leave a Reply