Disiplin Masyarakat Rendah, Indonesia Butuh Perbaikan Sistem, Pemimpin, dan Pengawasan

“…nilai disiplin di bangsa kita mungkin masih menjadi PR besar, karena kalau kita mau lihat paling reflektif di jalan raya, saya rasa mungkin semua akan sepakat bahwa tidak ada disiplin di situ,”

โ€”Dokter Kulit dan Pelari Maraton, dr. Margaretha Indah Maharani

Secara umum, tingak kedisiplinan masyarakat Indonesia memang masih terbilang rendah. Ketidakdisiplinan ini bisa ditemukan dalam berbagai aspek, mulai dari urusan sepele hingga menyentuh urusan yang kompleks.

Membahas soal budaya ketidakdisiplinan bangsa ini, Budiman Tanuredjo mengajak berbincang seorang Dokter Kulit, dr. Margaretha Indah Maharani dalam siniar Back to BDM.

Dalam kesempatan itu, dr. Rani yang merupakan alumni dari SMA Taruna Nusantara Magelang, menceritakan bagaimana kedisiplinan yang ditanamkan oleh sekolahnya di waktu dulu, membentuk dirinya saat ini.

Di SMA TN yang sistem pendidikannya adalah semi militer, disiplin menjadi salah satu nilai utama yang diterapkan pada semua anak didiknya. Dr. Rani muda sudah terbiasa hidup di dalam aturan yang tegas, oleh karenanya ia tak lagi kaget ketika di fase kehidupan selanjutnya ia harus dihadapkan dengan kondisi-kondisi yang menuntut kedisiplinan tinggi.

Berbeda dengan nilai disiplin yang sudah ia terinternalisasi ke dalam dirinya, ternyata secara umum masyarakat kita justru belum terbiasa dengan kedisiplinan itu sendiri. Dengan melihat realita yang ada, dr. Rani pun menilai tingkat disiplin bangsa Indonesia masih begitu rendah.

“Menurut pandangan saya, nilai disiplin di bangsa kita mungkin masih menjadi PR besar, karena kalau kita mau lihat paling reflektif di jalan raya, saya rasa mungkin semua akan sepakat bahwa tidak ada disiplin di situ,” ujarnya.

Sebagian dari masyarakat kita, masih banyak yang hanya memakai helm dan membawa surat-surat kelengkapan berkendara jika ada razia lalu lintas dari kepolisian. Pengendara di jalan raya baru mau menaati lampu APILL, jika ada aparat yang berjaga atau CCTV yang terpasang sebagai pengawas. Pengguna sepeda motor melintas di jalur pejalan kaki. Jalur cepat dilalui kendaraan yang melintas lambat atau sebaliknya. Dan masih banyak contoh lain yang menunjukkan betapa tidak disiplinnya masyarakat kita di jalan raya.

Lantas apa yang harus diperbaiki agar kita bisa menumbuhkan bangsa yang memiliki sifat dan sikap disiplin? Rani merumuskan tiga hal yang harus dibenahi. Perbaikan sistem, pemimpin, dan pengawasan.

Disiplin hanya bisa timbul apabila ketiga hal di atas terpenuhi dan dijalankan secara terus-menerus. Disiplin yang semula merupakan keterpaksaan, lama-kelamaan akan menjadi budaya hidup yang baru.

Sistem yang Jelas

Kita harus memiliki sistem yang di dalamnya terdapat aturan yang jelas, dijalankan dengan konsisten, menerapkan konsep reward and punishment yang sifatnya mengajarkan konsekwensi, bukan hukuman, sehingga menimbulkan kesadaran dan tanggung jawab pada tiap individu-individu yang ada dalam sistem tersebut.

Yang tak kalah penting, dalam sebuah sistem, aturan harus dikomunikasikan sehingga bisa dipahami oleh semua. Terakhir, harus ada pengawasan dan evaluasi berkala untuk memastikan apakah tujuan dari dibentuknya sistem ini sudah tercapai atau masih ada yang perlu diperbaiki.

“Dulu saya berpikir disiplin tuh begitu keras. Saya merasa terkungkung, ketika SMA saya dibatasi oleh peraturan-peraturan. Tapi ternyata peraturan-peraturan yang dibuat sistemnya itu adalah membentuk kebiasaan, sehingga kita akan terbiasa menghadapi situasi-situasi sulit, tapi kita mampu bertahan dan kemudian mencari solusinya,” kata dr. Rani menceritakan pengalamannya saat di SMA Taruna Nusantara.

Pemimpin yang Mau Bekerja

Sorang pemimpin memegang peranan besar dalam menentukan keberlangsungan kelompok, badan, institusi, perusahaan, atau organisasi yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin tidak boleh hanya duduk manis di balik meja kerjanya, namun juga memastikan semua kebijakan yang ia buat dipahami dan dilaksanakan hingga ke lapis paling bawah.

Unfuk itu, ia harus turun secara langsung. Pemimpin harus mau berkeringat untuk memastikan segala-sesuatu berjalan dengan baik, sesuai dengan gagasan besar yang ia tuangkan di ruang kerjanya.

Di mata dr. Rani, seorang pemimpin juga idealnya memiliki sifat merangkul dan terbuka untuk bekerja sama. Dengan demikian, ekosistem positif, dalam hal ini ekosistem disiplin, bisa terbentuk dalam skala yang lebih luas.

“Seringkali pemimpin akan berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi, sebenarnya apa yang mereka jalankan apabila bergandengan impact-nya akan lebih luas. Tapi seringnya kan komunikasinya belum sebaik itu,” kata alumni Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya itu.

Yang tidak kalah penting, pemimpin juga harus mau mendengarkan aspirasi-aspirasi dari masyarakat yang kritis memberikan masukan. Jangan diamkan setiap suara yang masuk jika arahnya adalah untuk perbaikan.

Selama ini banyak masyarakat yang ingin terlibat aktif menunjukkan kepeduliannya dengan menyampaikan pendapat atau kritik, namun suara mereka kerap diabaikan. Mereka merasa tidak dianggap, tidak didengar, sehingga kepedulian masyarakat itu perlahan tak lagi terdengar.

Pengawasan yang Berkelanjutan

Jika sistem sudah berjalan, dan pemimpin sudah menjalankan tugasnya dengan baik, hal terakhir yang tak kalah pentingnya adalah mengadakan pengawasan yang dilakukan secara konsisten. Pengawasan tidak hanya dilakukan di awal kebijakan, atau sekali dua kali waktu secara acak, namun terus-menerus.

Dengan adanya pengawasan, maka masyarakat akan merasa gerak-geriknya ada di bawah penglihatan pihak yang memiliki otoritas. Mereka akan menahan diri untuk tidak melakukan pelanggaran. Mereka sebisa mungkin akan mengusahakan untuk disiplin. Secara umum, tidak ada orang yang ingin dikenai teguran, sanksi, atau denda akibat melanggar peraturan.

“Sama halnya seperti orang tua. Kalau kita mendidik anak tapi tidak konsisten, anak itu akan tahu kapan boleh, kapan dia bisa melakukan pelanggaran-pelanggarannya. Tapi saya melihat pimpinan yang baik itu akan melakukan pengawasan regulasi yang teratur dalam jangka yang panjang, konsisten,” ujar dr. Rani.

Masyarakat Indonesia yang dikenal dengan ketidakdisiplinannya, ternyata bisa berubah menjadi individu yang penuh disiplin dan taat aturan ketika sedang melancong ke negeri orang, Singapura misalnya.

Di Singapura, berlaku sistem, aturan, dan sanksi yang tegas yang berlaku untuk semua orang, sehingga mau tak mau masyarakat bahkan pelancong asing juga akan bersikap disiplin.

“Pada prinsipnya manusia itu kan memang kalau tidak ada pengawasan akan nyeleneh. Itu sepertinya nature. Sedangkan di Indonesia, pengawasan itu mungkin belum berjalan dengan baik. Pelaksanaan aturan itu masih di ruang abu-abu, sehingga kedisiplinan itu belum mengakar,” jelas dia.

dr. Margaretha Indah Maharani dalam Back to BDM.

Salah satu yang bisa kita rujuk sebagai bentuk keberhasilan pendisiplinan suatu ekosistem adalah reformasi PT Kereta Api Indonesia. Kereta api yang semula kumuh, banyak ditumpangi penumpang ilegal, rawan tindak kejahatan karena data penumpang yang tidak jelas, kini bisa berubah 180 derajat.

Pasca kepemimpinan Ignatius Jonan sebagai Direktur Utama PT KAI (2009-2014), wajah perkeretaapian kita berubah drastis. Keteraturan, kedisiplinan, dan kebersihan terlihat di semua lini. Mulai dari pemesanan tiket, posisi duduk, waktu keberangkan, layanan selama perjalanan, semua sudah dibuatkan sistemnya, perusahaan menerapkannya, dan konsumen menaatinya.

Dr. Rani melihat faktor-faktor pembentuk kedisiplinan bisa ditemukan dalam perkeretaapian Indonesia.

“Yang pertama yang saya lihat adalah adanya seorang pemimpin yang tahu how to communicate untuk mengarahkan timnya, anggotanya. Dan kemudian pemimpin yang mau capek, mau repot untuk mensupervisi. Kadang-kadang ide-ide besar itu tidak sampai ke akar-akarnya, karena supervisinya putus di tengah jalan. Dan kontinuitas konsistensi dalam melakukan program. Kadang-kadang kan indah di depan, 3-4 bulan, setahun, kemudian lelah, capek, programnya buyar,” ungkap dokter yang menamatkan pendidikan spesialisnya di Universitas Indonesia itu.

Tapi semua kedisiplinan itu terbatas pada sistem perkeretaapian saja, selangkah saja penumpang keluar dari stasiun, ketidakdisiplinan kembali menyeruak di depan mata.

Dibutuhkan banyak pemimpin dan institusu dari berbagai sektor yang mau bekerja sama untuk membentuk ekosistem disiplin masyarakat yang lebih luas. Kereta api telah berhasil, maka keberhasilan itu semestinya disambut oleh pihak-pihak lain di luar kereta api, sehingga area tertib dan disiplin bisa bertambah semakin luas.

Karena belum adanya sistem, pemimpin, dan pengawasan sebagaimana dijelaskan, maka kedisiplinan belum bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

“Karena kedisiplinan itu adalah sistem yang mendukung dalam suatu ekosistem besar dan dijalankan secara konsisten. Kalau disiplin tidak konsisten itu enggak ada artinya. Jadi kita belum punya kesadaran secara pribadi untuk bertindak sesuai dengan aturan. Tapi kedisiplinan itu bisa dibentuk apabila ada institusi yang hadir yang kemudian secara konsisten membimbing, mengawasi, mengevaluasi. Jadi bukan hanya muncul sesaat saja, itu harus suatu yang kontinuitas,” simpul dokter yang dikenal sebagai doc.run di Instagram itu.

Kondisi Indonesia

Berdasarkan penilaiannya sebagai seorang yang tidak berkecimpung di bidang politik atau pemerintahan, dr. Rani menilai visi Indonesia sebagai sebuah negara sebenarnya sudah cukup jelas dan memiliki arah.

Visi Indonesia adalah menjadi negara maju yang sejajar dengan negara-negara maju dunia.

Yang menjadi permasalahan adalah, kita belum konsisten melakukan langkah-langkah untuk mencapainya. Karena visi saja tidak akan cukup untuk bisa mengantarkan kita menjadi negara maju.

“Visi itu perlu sampai di sana baru dia akan punya makna. Dan bagaimana sampai di sana itu adalah perlu langkah-langkah kecil yang terus secara continue dikerjakan. Kalau kita angin-anginan, kalau lagi pengin aja kita baru berjalan, enggak pernah sampai,” sebut dr. Rani.

Kita semua harus fokus, bersama-sama melangkah secara konsisten untuk mencapai visi yang sudah dirumuskan. Misalnya, dengan menjunjung tinggi integritas, disiplin, memiliki sifat mementingkan kepentingan umum dibanding mengutamakan kepentingan pribadi, menjauhi KKN, menghidupkan kembali sistem merit dalam dunia profesional, dan meningkatkan akses pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar.

Baginya, Indonesia itu memiliki potensi sumber daya manusia dan kekayaan sumber daya alam yang lebih dari cukup. Sayangnya, potensi dan kekayaan itu belum terarah dengan optimal. Masih ditemukan kebingungan di sana-sini.

“Ibarat atlet, dia tuh atlet yang punya power, tenaga yang kuat, tapi belum terarah. Di sinilah letak pemimpin-pemimpin bangsa itu menjadi pelatih yang mengarahkan atlet di suatu potensi menuju tujuan yang baik. Ini sama seperti pemimpin, bagaimana menggiring bangsa ini yang potensinya beraneka ragam, kekayaannya juga masif, menuju Indonesia emas, Indonesia yang berbudaya, Indonesia yang beredukasi, Indonesia yang sejajar dengan bangsa lain,” serunya.

19 tahun menuju Indonesia Emas di 2045, dr. Rani masih menyimpan rasa optimis bahwa negeri ini akan mencapai semua apa yang dicita-citakan. Meskipun banyak titik yang membuat kita merasa pesimis bahkan skeptis terhadap keberlangsungan negara, namun di titik lain masih ada cahaya-cahaya kecil yang menyala, yang bukan tidak mungkin akan menjadi nyala besar suatu hari nanti.

“Negara kita ini kan negara yang besar dengan masyarakat yang menggeliat dan menjadi makin peduli. Ada ruang-ruang positif di sana untuk berkembang ke arah yang positif. Jadi saya rasa, saya cukup optimis bahwa Indonesia akan maju, bisa berkembang, tidak menuju keruntuhan, tapi menuju kondisi yang lebih baik lagi,” ucapnya yakin.

Namun, untuk bisa mencapai ke sana, kita masih harus menempuh jalan yang panjang. Ada banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan. Ada banyak masalah yang satu per satu harus kita selesaikan.

Atur strategi dan atur ritme. Jangan sampai terlalu berapi-api di depan, misi belum selesai, kita sudah kehabisan tenaga. Artinya, dr. Rani ingin menyampaikan, sebagaimana maraton, jangan pernah ngebut di depan, sisakan tenaga untuk di belakang

“Sama seperti kita membangun bangsa ini, kita enggak bisa intens, meledak-ledak, tapi kemudian kita kelelahan, berhenti, jadi tidak continue, kemudian kita kehilangan segala power kita di belakang. Akhirnya apa? Program itu enggak jalan,” tandasnya.

Jadi, kita lerlu menyusun strategi yang baik, mengerjakannya secara konsisten, dan menegakkan aturan yang ada dengan tegas melalui pengawasan yang terus-menerus


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *