“Banyak orang merasa cukup beragama sebagai identitas, yang dipegang adalah hal-hal yang sangat lahiriah, tetapi batinnya sebetulnya tidak sampai kepada pengalaman itu. Dia menyebut dengan mulutnya Allah adalah kasih dan sebagainya, doanya mungkin panjang-panjang seperti orang-orang Farisi dan ahli Taurat dalam kitab suci, tetapi yang namanya Allah yang adalah kasih itu tidak pernah menyentuh hatinya,”
โUskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo
Banyak pihak yang telah membaca tanda-tanda bahwa ada kondisi yang tidak sehat terjadi pada Indonesia, baik pada pemerintah, pada bangsanya, juga pada lingkungannya. Salah satu yang membaca tanda-tanda itu adalah Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo.
Setelah 50 tahun menjadi pimpinan gereja Katolik, Kardinal Suharyo menyebut sejak tahun 1998 sudah melihat adanya tren kemerosotan moral pada berbagai konteks kehidupan orang Indonesia.
Tidak berhenti di 1998, kemerosotan moral juga disebut masih terjadi hingga tahun 2026 sekarang ini, hanya saja terimplementasikan dalam bentuk yang berbeda.
“Bentuknya berbeda, tapi dasarnya kemerosotan moral, rupanya sama. Tetapi sekali lagi kalau dicari akarnya dari mana ini, akarnya ya kesadaran moral yang luntur atau yang hilang bahkan,” kata Kardinal Suharyo dalam siniar Back to BDM.
Kemerosotan moral inilah yang menyebabkan banyak timbul perosalan-persoalan dalam kehidupan kita bersama. Mulai dari korupsi, keserakahan, hingga kerusakan alam.
Namun, apapun yang terjadi ia menyebut Gereja Katolik harus tetap hadir dan membawa pengharapan di tengah masyarakat.
Dalam kondisi yang sulit, banyak orang merasa kecil hati. Tidak sedikit yang memutuskan untuk menyerah dan mengakhiri hidup. Untuk itu, Kardinal Suharyo terus menginginkan agar Gereja Katolik hadir menjadi penabur pengharapan, sekalipun melalui cara-cara yang sangat sederhana.
Korupsi Marak
Salah satu wujud kemerosotan moral itu adalah makin maraknya kasus-kasus korupsi saat ini. Bukan hanya jumlah kasusnya yang menjamur, besaran korupsinya pun kian fantastis. Kejahatan besar ini tak juga hilang, meski isu itu dulu berhasil menggulingksn rezim Orde Baru yang begitu berkuasa.
Dalam berbagai homilinya, Kardinal Suharyo menyebut korupsi bukan hanya wujud penyimpangan moral, namun juga bentuk keserakahan dari manusia.
“Pada tataran moral, yang namanya korupsi itu dalam bahasa iman adalah buah dari keserakahan. Jadi keserakahan itu dulu namanya berhala. Sekarang keserakaan itu bisa berarti kekuasaan, bisa wujudnya gengsi, bisa wujudnya uang. Dan dasarnya adalah manusia lupa akan jati dirinya,” sebutnya.
Ia menjelaskan, ada 3 kata yang bisa dijadikan alat untuk menggambarkan bagaimana manusia lupa akan jati dirinya, “khalik”, “makhluk”, dan “akhlak”
Jati diri manusia adalah makhluk, ia hanya salah satu bentuk ciptaan Tuhan atau Khalik. Kepada khalik, makhluk ini harus memiliki akhlak, beribadah, berbuat baik, dan sebagainya.
Korupsi menjadi bukti bahwa manusia sudah kehilangan akhlaknya, manusia mulai melupakan jati dirinya.
Sementara pada tataran praktik, korupsi bisa jadi menunjukkan ada masalah dalam tata kelola pelaksanaan hukum di sebuah negara. Jika hukum dan lembaga negara tidak terkelola dengan baik maka kontrol terhadap tindak korupsi akan lemah bahkan tidak ada.
Jika lembaga kontrol tidak bekerja atau tidak berfungsi efektif, maka keserakahan manusia dalam hal ini korupsi akan merajalela dalam berbagai bentuk.
“Jadi saya melihatnya dari segi akarnya memang orang-orang tidak memperhatikan akhlak mulia lagi, menyembah berhala, bisa uang, bisa gengsi, bisa kekuasaan,” ungkap Kardinal Suharyo.
Bahkan, saat ini korupsi seperti sudah menjadi hal lumrah yang dilakukan para penguasa. Jika ada pejabat tidak korupsi malah dianggap tidak bisa bermain. Korupsi kini sudah melibatkan keluarga, anak dan ayah, kakak dan adik. Pelaku korupsi banyak yang tetap tak malu tsmpil di depan publik, mereka bahkan masih bisa tersenyum atas semua tindak keji yang dilakukan.
Bagi Kardinal Suharyo, hal itu bisa jadi menunjukkan hati nurani mereka yang sudah mati. Hati nurani adalah bagian paling fitri dalam seorang manusia. Ia kerap diumpamakan sebagai suata Tuhan dalam manusia.
Jika ia sudah mati, maka suara Tuhan tak lagi terdengar. Manusia tak bisa lagi membedakan mana baik dan benar, mana yang buruk dan salah.

Sebagai seorang pemimpin umat, Kardinal Suharyo kerap menerima pertanyaan, mengapa Indonesia sebagai negara yang masyarakatnya beragama, namun korupsi terjadi seakan itu bukan sebuah dosa.
Menjawab pertanyaan itu, Kardinal Suharyo meminta kita semua untuk bisa membedakan agama dan iman. Kita beragama, tapi belum tentu beriman.
“Agama itu kan lembaga sosial. Lembaga sosial yang namanya agama itu sangat mudah diinstrumentalisasi. Artinya agama bisa dimanipulasi untuk alat, alat kekuasaan, alat kampanye, alat membunuh orang, dan sebagainya. Iman itu enggak bisa diperalat, karena iman itu adalah relasi pribadi saya dengan Tuhan,” jelas dia.
Tuhan adalah dzat yang Maha Kasih, Maha Penyayang, jika kita memiliki hubungan yang baik dengan-Nya, maka tidak mungkin kita akan berbuat sesuatu yang bertentangan dengan sifat-sifat Tuhan itu sendiri.
“Banyak orang merasa cukup beragama sebagai identitas, yang dipegang adalah hal-hal yang sangat lahiriah, tetapi batinnya sebetulnya tidak sampai kepada pengalaman itu. Dia menyebut dengan mulutnya Allah adalah kasih dan sebagainya, doanya mungkin panjang-panjang seperti orang-orang Farisi dan ahli Taurat dalam kitab suci, tetapi yang namanya Allah yang adalah kasih itu tidak pernah menyentuh hatinya,” ungkap Kardinal Suharyo.
“Ketika orang membiarkan Allah yang dia imani menyentuh hatinya, dengan sendirinya dia tidak akan melakukan hal-hal yang tidak bagus untuk kemuliaan Tuhan. Karena apa? Karena tadi, makhluk itu hakikatnya adalah sembah sujud kepada Allah. Berbakti kepada-Nya dengan akhlak mulia,” lanjutnya.
Kardinal Suharyo menggarisbawahi, manusia beragama namun tidak beriman itu terjadi di agama manapun, termasuk dalam Gereja Katolik dan umat Katolik.
Sistem Ekonomi Memperkaya Si Kaya
Meski Kardinal Suharyo bukan seorang analis ekonomi, namun sebagai orang terdidik ia kerap membaca berbagai buku, artikel, maupun harian-harian berita.
Dari apa yang ia baca, ada kesimpulan yang bisa ia sampaikan bahwa yang kaya berkuasa menentukan pola dan sistem sehingga mereka tetap kaya. Si kaya juga membatasi si miskin dengan sistem yang sama, untuk berbuat jauh sehingga mereka tetap miskin.
Kardinal Suharyo mencontohkan industri obat-obatan yang lebih banyak melakukan penelitian untuk memproduksi obat-obat di bidang kecantikan ketimbang malaria.
“Saya persis lupa angkanya, tetapi riset untuk obat-obat kecantikan itu kalau dibandingkan dengan riset untuk penyakit malaria itu jomplang. Karena malaria itu kan tidak diderita oleh orang negara-negara yang kaya , hanya orang-orang miskin yang masih terpapar penyakit seperti itu. Sementara kalau memproduksi obat-obat seperti itu (malari, membuat penelitian seperti itu kan untungnya tidak banyak. Obat malaria kan tidak mahal. Tapi yang namanya obat kecantikan, alat-alat kecantikan itu kan sangat mendatangkan katakanlah uang besar,” ia mencontohkan.
Kelompok kaya bisa menentukan posisi seperti itu. Dan itu sesungguhnya termasuk dalam kategori sifat serakah. Mereka hanya may memenuhi lumbung mereka sendiri, memperbanyak kekayaan mereka tanpa peduli nasib pihak lain yang ada di luar lingkarannya.
Pola keserakahan yang kurang lebih sama juga terjadi pada industri kopi. Kopi yang ditanam oleh petani dengan risiko yang demikian beragam, hasilnya dihargai relatif murah.
Padahal, ketika kopi itu sudah sampai di cafe, restoran, coffee shoop, harganya bisa melambung hingga puluhan bahkan ratusan persen.
“Ambil saja satu cangkir itu 100 persen harganya R40.000-Rp70.000. Dari sekian banyak ini yang diterima oleh petani kopi itu hanya 7 persen. Itu penelitian internasional. Padahal siapa yang punya risiko paling besar di dalam rantai ini? Itu semua kan ketidakadilan ya sebetulannya ya,” ujar Kardinal Suharyo.
Sistem ekonomi seperti itu jika dibiarkan akan sangat mengerikan. Yang kaya akan semakin kaya, sedangkan yang miskin tidak akan pernah dibiarkan maju. Kemiskinan mereka dipelihara sebagai bahan isapan industri milik kelompok kaya.
Kardinal Suharyo menduga, sistem inilah yang sekarang sedang berlangsung di dunia.
Ada satu konsep ekonomi yang lebih ideal yang berawal dari keresahan seorang guru TK di Italia yang merasa iba dengan ketimpangan kaya-miskin yang ada di kota-kota besar. Ia pun mengajak komunitasnya untuk berpikir, konsep ekonomi apa yang bisa menghadirkan keadilan, menekan ketimpangan, dan sebagainya. Konsep ekonomi itu akhirnya didapat dan disebut sebagai Economy of Sharing, Economy of Communion.
Konsep ini tentu tidak ada di buku-buku ekonomi dunia, para pembuatnya pun tidak memiliki latar belakang di bidang ekonomi.
Jadi, sistem ekonomi berbagi ini melibatkan sekelompok perusahaan yang saling menopang, bukan dijalankan oleh perusahaan tunggal. Ekonomi berbagi pada intinya membagi keuntungan perusahaan dalam 3 hal. Sepertiga pertama langsung diberikan pada saudara-saudara yang kurang beruntung, sepertiga kedua digunakan untuk edukasi agar semakin banyak orang memiliki watak dan kesadaran berbagi, sepertiga sisanya baru digunakaan untuk mengembangkan perusahaan.
“Itu orang gila, tidak punya ilmu ekonomi, hanya karena iba melihat jurang yang begitu dalam, hanya berbicara, orang lain memikirkan. Jadilah economy of sharing, economy of communion. Itu paling banyak di Filipina,” sebut Kardinal Suharyo.
Lingkungan Rusak
Bumi semakin tua, manusia sebagai penjaga Bumi kian melupakan tanggung jawabnya. Lingkungan menjadi rusak, iklim berubah ekstrem. Semua itu membawa dampak pada kehidupan secara global karena rumah kita satu-satunya, Bumi, tak lagi terjaga keberadaannya.
Paus Fransiskus pada tahun 2015 membuat sebuah ensiklik berjudul Laudato Si’ yang memuat sejumlah poin, namun utamanya menyerukan agar umat manusia segera melakukan pertobatan ekologis.
Manusia harus bisa memperbaiki cara hidupnya agar tidak terus menerus melukai alam, agar tidak terus-menerus berbuat kerusakan, agar tidak terus-menerus berbuat ketidakadilan.
Dalam ensiklik itu, Paus Fransiskus berbicara beberapa poin. Misalnya yang pertama adalah soal ekologi integral. Ada hubungan antara alam dan manusia. Ketika alam rusak, manusia juga turut terdampak.
Jika mengacu pada iman Katolik, dikenal relasi-relasi yang harus dijaga dengan baik. Ada relasi manusia dengan Allah, relasi manusia dengan sesama, relasi manusia dengan alam, dan relasi manusia dengan dirinya sendiri. Itulah yang dimaksud Paus sebagai ekologi integral.
Poin selanjutnya adalah hilangnya kesadaran manusia bahwa Bumi adalah rumah bersama, satu-satunya rumah yang ada untuk manusia tinggal dan hidup. Tidak ada solidaritas antar negara, antar penduduk Bumi yang tersekat batas-batas geografis untuk sama-sama menjaga rumah ini.
“Tidak ada kesadaran bahwa Bumi ini adalah rumah kita bersama, sehingga tidak ada semangat solidaritas antara negara kaya negara yang miskin. Itulah yang namanya kita sebut dosa asal,” sebut Kardinal Suharyo.
Ada satu konsep filsafat yang meyakini bahwa segala apa yang ada di Bumi diciptakan untuk manusia. Dari sana, manusia kemudian bertindak sewenang-wenang dan cenderung egois. Ia tidak memikirkan orang lain, tidak memikirkan alam, bahkan mengesampingkan Tuhan sebagai pemberi Bumi dan segala isinya.
Poin ketiga adalah ekologi lingkungan. Paus Fransiskus menuliskan soal bagaimana sesungguhnya Bumi sudah terlalu lama disakiti, Bumi berteriak, Bumi menangis, namun manusia tidak peduli atau mungkin tidak sadar.
Bencana akibat kerusakan lingkungan terjadi di mana-mana, kerusakan ekosistem membuat manusia harus berkonflik dengan satwa, dan sebagainya.
“Kalau seorang anak itu dipukuli terus atau di-bully terus dia akan menangis, dia akan marah, atau dia akan hancur. Sama, alam dieksploatasi terlalu banyak, menangislah alam itu dan tangisannya itu disebabkan oleh luka-luka Bumi. Air yang semestinya menjadi hak hidup semua orang, sekarang air harus beli. Udara, tanah, air, macam-macam itu semuanya rusak sehingga manusia terluka karena luka-luka Bumi ini,” jelas Kardinal Suharyo.
Paus menggunakan perumpamaan gurun yang semakin luas di permukaan Bumi, menggambarkan semakin luas pula area kering dalam hati manusia, Tuhan tak lagi diberi ruang untuk ada di dalamnya. Nuraninya mati.


Leave a Reply