Indonesia Butuh Lebih Banyak Pemimpin yang Disegani, Bukan Penguasa yang Ditakuti

“…yang namanya di dalam bahasa Jawa ajrih asih. Takut, tetapi bukan takut seperti tikus dikejar kucing, bukan itu. Tapi asih. Saya hormat, saya segan, saya gak berani melakukan apapun melawan dia. Karena kalau saya melawan dia saya pasti yang salah. Berbeda dengan penguasa. Asih-nya tidak ada dari pengikut itu, hanya ajrih saja, hanya yang takut saja,”

โ€”Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo

Pemimpin tanpa moral adalah hal yang sangat berbahaya dalam kehidupan bernegara. Pemimpin dengan segala kekuatan dan kewenangan yang dimiliki, menentukan nasib jutaan rakyat yang dipimpinnya.

Untuk itu, moral bagi seorang pemimpin adalah sebuah keharusan agar sebuah negara atau daerah yang ia pimpin bisa berjalan dengan baik, keadilan adalah hal yang bisa diperoleh tanpa harus menempuh perjuangan panjang, dan kesejahteraan ibarat udara yang bisa dihirup setiap saat, tanpa perlu berebut, tanpa perlu saling tikam .

Pemimpin bermoral adalah salah satu pesan yang berulang kali disampaikan oleh Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo. Pesan itu salah satunya juga disampaikan dalam acara “Pesan Kebangsaan Awal Tahun 2026” bersama dengan sejumlah tokoh dari Gerakan Nurani Bangsa.

Lokasi acara ketika itu bertempat di Graha Pemuda, Kompleks Katedral, lokasi yang dulu menjadi tempat diselenggarakannya rapat pertama Kongres Pemuda ke-2 yang pada akhirnya melahirkan Sumpah Pemuda.

Dari sana, Kardinal Suharyo membayangkan, betapa para pemuda yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia itu memiliki integritas dan sikap moral yang luar biasa besar untuk NKRI. Mereka bisa bersatu, meninggalkan identitas kedaerahan, keagaman, kesukuannya masing-masing dan melebur menjadi sesama pemuda Indonesia yang bertumpah darah satu, Tanah Air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

“Untuk dapat mengambil keputusan seperti itu, pasti mereka mempunyai standar moral pribadi yang sangat hebat, mempunyai integritas pribadi yang sangat kuat. Dan sejak Sumpah Pemuda (1928) itu kan 17 tahun kemudian kemerdekaan Republik Indonesia, hanya (berjarak) 17 tahun. Proses yang sangat pendek dalam perbandingan dengan yang sebelumnya. Kalau dalam waktu 17 tahun Negara Republik Indonesia bisa diproklamasikan kemerdekaannya, itu pasti orang-orang yang ada di situ itu sungguh-sungguh dedikasi tinggi, berintegritas, dan bermoral tangguh,” kata Kardinal Suharyo dalam perbincangan bersama Budiman Tanuredjo di siniar Back to BDM.

Atas dasar itu, ia berharap di era sekarang masih terbuka peluang lahirnya generasi-generasi dengan moral, integritas, dan dedikasi setinggi pemuda di era pra kemerdekaan. Kemudian mereka tampil menjadi pemimpin bangsa.

Pemimpin yang benar-benar memimpin dan ada bersama dengan rakyatnya, bukan menguasai mereka. Pemimpin berbeda dengan penguasa yang seringkali menggunakan kekuatannya untuk berbuat apapun demi mengambil keuntungan pribadi dan mempertahankan kekuasaan yang dimiliki.

Dalam pemahaman Kardinal Suharyo, seorang pemimpin berbeda dengan penguasa. Seorang penguasa tidak bisa disebut sebagai pemimpin.

Mengacu pada rumusan Lord Acton, Sejarawan Inggris dari abad ke-19 yang menyebut “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely” (kekuasaan cenderung dekat dengan korupsi, dan kekuatan absolut sepenuhnya korupsi). Kardinal Suharyo yakin seorang pemimpin jika menempatkan dirinya bukan sebagai penguasa, tidak akan melakukan apa yang dikhawatirkan oleh Acton.

“Pemimpin itu mempunyai peran untuk memimpin, mengarahkan, memotivasi, dan menginspirasi menjadi teladan. Dan itu semua bagus,” ujar Kardinal Suharyo.

Ia menjelaskan ada berbagai macam model pemimpin. Pertama, pemimpin transaksional. Kedua, pemimpin konformatif, dia memiliki ide bagaimana rakyat setuju dengan segala yang ia kerjakan. Ketiga adalah pemimpin transformatif, ini adalah tipe pemimpin yang tumbuh dan berkembang bersama masyarakat.

Ia berharap pemimpin jenis ketiga inilah yang akan muncul di Indonesia ke depan. Pemimpin yang tidak merasa paling hebat, paling tahu segala hal, paling benar, dan sebagainya.

“Pemimpin berkembang bersama-sama dengan yang dipimpin. Jadi bukan pemimpin yang merasa dirinya paling hebat, sehingga yang lain ikut membebek saja. Tapi sadar bahwa dia dengan yang dipimpin itu adalah satu komunitas yang mesti berjalan bersama-sama. Pasti pemimpin mempunyai kualitas yang biasanya dan harapannya lebih daripada yang lain. Tapi dia tidak akan memaksakan kemauannya

Pemimpin yang berhasil, pemimpin yang memberikan tauladan baik, kepemimpinan yang baik, dia akan membuat orang-orang yang dipimpinnya memiliki rasa ajrihasih (takut karena segan).

Secara lebih konkret, rakyat yang dipimpin akan merasa segan dan hormat pada pemimpinnnya, bukan karena takut atau terpaksa, melainkan karena mereka melihat sendiri bagaimana pemimpinnya bekerja dengan baik, bertutur kata dengan bijak, mengambil keputusan yang berpihak pada rakyat, dan sebagainya.

“Itu yang namanya di dalam bahasa Jawa ajrih asih. Takut, tetapi bukan takut seperti tikus dikejar kucing, bukan itu. Tapi asih. Saya hormat, saya segan, saya gak berani melakukan apapun melawan dia. Karena kalau saya melawan dia saya pasti yang salah. Berbeda dengan penguasa. Asih-nya tidak ada dari pengikut itu, hanya ajrih saja, hanya yang takut saja. Memang ditakut-takuti terus, kalau begini kamu saya pecat,” ia mencontohkan.

Kardinal Suharyo menerima karya gambar dirinya.

Sebagai seorang pemeluk Katolik, Kardinal Suharyo menjadikan Paus Fransiskus sebagai contoh seorang pemimpin yang membuat pengikutnya memiliki rasa ajrih asih.

Sebagai seorang Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Dunia, Paus Fransiskus sesungguhnya tidak memiliki kekuasaan apapun terkait geopolitik, ekonomi, dan sebagainya. Namun, setahun setelah ditasbihkan menjadi Paus, mendiang dinobatkan oleh Majalah Fortune sebagai The Greatest Leader di antara 50 orang sosok pemimpin besar lainnya.

Apa yang membuatnya mendapatkan posisi itu? Jawabannya mudah, karena keteladanan dan keberpihakannya pada kaum miskin dan tertindas.

“Paus itu punya kuasa apa? Tidak punya kuasa kan. Tetapi kenapa dia disebut oleh penelitian itu sebagai the greatest leader dari antara 50 pemimpin negara, perdana menteri, perusahaan, segala macamnya. Bukan karena kekuasaannya, tetapi karena keteladanan dan keberpihakannya yang jelas. Kenapa? Yang dia katakan, dia lakukan. Itu pemimpin,” seru Kardinal Suharyo.

Terbukti, ketika berkunjung ke Indonesia pada 2024 Paus Fransiskus mendapat sambutan yang begitu hangat dari segenap masyarakat yang bertemu dengannya, lintas iman, siapapun nampak menghormatinya, tidak ada yang mengambil jarak atau takut dengan kehadirannya.

Itulah pemimpin.

Saat ini, Kardinal Suharyo menilai sebagian pemimpin yang ada sudah berubah menjadi sosok penguasa. Mereka merasa memiliki kedudukan tinggi yang melegitimasi mereka untuk bisa berbuat apapun dengan kewenangan dan kekuasaannya.

Jika kondisi-kondisi seperti ini tidak segera diubah, jabatan publik hanya dijadikan sebagai ajang berkuasa, presiden silih berganti namun tidak ada perubahan signifikan yang dilakukan, dengan berat hati Kardinal Suharyo mengatakan ia bekecil hati, ia membaca tidak mudah bagi Indonesia untuk bisa mencapai Indonesia Emas di 2045 kelak.

Kalau Indonesia masih terus seperti dulu, Presiden ganti presiden, angkatan ganti angkatan, masih terus seperti ini, saya sungguh-sungguh kecil hati,” ungkap dia.

“Yang saya bayangkan kalau ini tidak berubah, ya enggak ngerti tahun 2045 nanti akan jadi apa. Tetapi kalau sekarang ditunjukkan perubahan-perubahan, pembaharuan-pembaharuan yang kecil, kesejahteraan semakin kentara, dan dirasakan kebohongan-kebohongan publik itu mulai semakin kecil, mulai ada harapan. Tapi kalau tidak terjadi saya enggak ngerti, enggak bisa membayangkan apapun 100 tahun (Indonesia) nanti akan seperti apa,” tandasnya.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *