50 Tahun Perjalanan Imamat Kardinal Suharyo: Aku Melayani Tuhan dengan Segala Rendah Hati

“…ingin menjadi Paus itu bodoh. Dan mungkin baik sebagai ilustrasi ya, salah satu calon yang dikenal sangat kuat itu adalah Kardinal Parolin. Itu Sekretaris Negara Vatikan, orang kedua. Dia calon sangat kuat. Ketika diumumkan bahwa yang terpilih adalah Kardinal Prevost (Paus Leo XIV), itu wajahnya berseri-seri Kardinal Parolin ini. Gembira karena tidak terpilih,”

โ€”Uskup Agung Jakarta, Kardinal Suharyo

Sepanjang berbincang dengan Budiman Tanuredjo untuk siniar Back to BDM, Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo beberapa kali menekankan bahwa bodoh jika ada seorang Katolik yang bercida-cita atau menginginkan dirinya menjadi seorang uskup apalagi paus.

Sepanjang yang ia pahami, posisi ini bukanlah jenjang karier yang harus dikejar. Menjadi uskup, menjadi paus sepenuhnya adalah anugerah Tuhan yang tidak semestinya masuk dalam daftar cita-cita, namun jika sudah dipercaya, maka harus dijalankan dengan tanggung jawab yang amat besar.

Oleh karena itu, Kardinal Parolin sama sekali tidak sedih apa lagi kecewa ketika ia, salah satu kardinal yang namanya sudah digadang-gadang akan terpilih dalam konklaf 2025 menggantikan Paus Fransiskus justru tidak terpilih. Ketika itu yang mendapatkan suara terbanyak adalah Kardinal Prevost yang kini menjadi Paus Leo XIV.

Tak ada kardinal yang mengampanyekan dirinya untuk dipilih. Tak ada Kardinal yang mengumpulkan kekuatan agar mendapat suara terbanyak sehingga menduduki posisi pemimpin Katolik tertinggi di seluruh dunia. Tidak ada.

“Kalau kampanye dari yang bersangkutan biasanya tidak. Jadi kampanye itu dilakukan oleh para pendukung. Kalau orang yang bersangkutan sejauh saya tahu tidak ada. Nah, itu tadi ingin menjadi paus itu bodoh,” kata Uskup Suharyo, yang diangkat menjadi kardinal pada 2019 itu.

“Dan mungkin baik untuk ilustrasi ya, salah satu calon yang dikenal sangat kuat itu adalah Kardinal Parolin. Itu sekretaris negara Vatikan orang kedua. Dia calon sangat kuat. Ketika diumumkan bahwa yang terpilih adalah Kardinal Prevost itu wajahnya berseri-seri, Kardinal Parolin ini. Gembira karena tidak terpilih. Ini kan rada aneh ya. Kalau di sini kan tidak terpilih ke MK. Itu tidak terpilih gembira. Karena merasa ini bukan karier, ini tanggung jawab yang sangat berat dan tidak bisa main-main,” lanjutnya.

Kardinal Suharyo yang menjadi salah satu peserta konklaf menggambarkan betapa ketika pengumuman dibacakan, wajah Kardinal Parolin yang semula tegang, langsung berseri, tersenyum, ada raut senang dan lega yang sangat mudah ditangkap dari wajahnya.

Konsepnya adalah tanggung jawab dari Tuhan, bukan karier untuk dibanggakan di hadapan dunia. Jadi, siapapun yang terbebas dari tanggung jawab itu, hanya perasaan lega yang dirasa, bukan sedih apalagi memendam kecewa.

Begitupun dengan dirinya, Kardinal Suharyo tak pernah mencita-citakan dirinya menjadi seorang Uskup dan Kardinal seperti seksarang ini. Namun, Tuhan memilihnya. Ia pun tak mungkin lari dari amanah besar itu. Cita-citanya yang sesungguhnya adalah menjadi seorang guru.

“Ini bukan cita-cita, tetapi jawaban saya terhadap panggilan Tuhan. Agak berbeda nuansanya. Jadi meskipun saya tidak merasa, tidak saya sadari, Tuhan itu memanggil saya dan saya menanggapi panggilan itu,” ungkap pria kelahiran 1950 asal Bantul itu.

Kardinal Suharyo sekali lagi menegaskan jabatan di dalam gereja bukanlah jabatan yang memberi pemiliknya kekuasaan tertentu, menjadi pimpinan umat itu adalah anugerah Tuhan melalui penunjukan oleh Paus.

Hanya saja, orang mungkin memahaminya bahwa penunjukan ini memungkinkan seseorang yang ditunjuk untuk mengerjakan sesuatu, dipercayakan sesuatu, yang semua itu datangnya dari seorang Paus. Mungkin itu dianggap sebagai suatu kehormatan tersendiri.

Kepada BDM, lulusan Universitas Sanata Dharma itu menceritakan bagaimana awalnya ia ditunjuk sebagai Uskup untuk Keuskupan Agung Semarang, sebelum Keuskupan Agung Jakarta.

Ketika itu, ia dipanggil untuk datang ke Kedutaan Besar Vatikan di Jakarta. Ia pun datang dari Jogja ke Jakarta. Di sana, ia diberi surat penunjukan untuk menjadi Uskup di Keuskupan Agung Semarang dan dipersilakan untuk membaca dan memikirkannya secara matang.
Duta Besar memintanya untuk berdoa di kapel yang ada di Kedutaan Besar. Setelah itu, ia diajak bicara oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia ketika itu.

“‘Ini tugas yang dipercayakan kepada Anda oleh Paus. Dulu Anda kan berjanji taat kepada Uskup. Ini bukan hanya Uskup, ini Paus’. Itu kan artinya maksa, tidak ada pilihan. Memang kalau ada alasan yang kuat dan besar yang bisa diterima, itu memang bisa menolak. Tetapi kalau sudah dinasihati seperti itu dan kan mesti sudah diteliti ya. Artinya penyelidikan mengenai calon itu ketatnya bukan main. Kalau sudah diteliti, saya tidak bisa lain mengatakan, ‘saya dalam disposisi untuk melayani gereja di dalam posisi apapun,’ jawaban saya seperti itu,” kisahnya.

Itu kisah penunjukan sebagai Uskup, masih ada pemberitahuan, masih ada surat, masih ada penawaran. Berbeda cerita ketia ia ditunjuk sebagai seorang Kardinal.

Ketika ditunjuk sebagai kardinal, ia tidak menerima berita apapun dari Paus, dari Kedutaan, tidak ada sama sekali. Ia justru tahu kabar itu dari orang-orang yang mengucapkan selamat padanya.

Ia pun bingung, selamat untun apa? Baru setelah itu Duta Besar Vatikan menghubunginya dan menyampaikan bahwa ia ditunjuk sebagai Kardinal.

Berbeda dengan Uskup, menjadi seorang Kardinal memiliki satu hak istimewa, yakni berhak untuk memilih dan dipilih sebagai seorang Paus, selama usianya masih di bawah 80 tahun. Oleh karena itu, Kardinal Suharyo terlibat dalam Konlaf 2025 yang menghasilkan sosok Paus baru pengganti Paus Fransiskus, yakni Paus Leo.

Meski memiliki peluang yang lebih besar untuk menjadi Paus ketimbang umat Katolik lainnya, namun lagi-lagi ia tidak bercita-cita untuk menjadi sosok itu.

Di Balik Konklaf 2025

Dari 242 kardinal yang berasal dari 90 negara, hanya 135 orang kardinal yang dinilai memenuhi kriteria untuk mengikuti konklaf 2025. Di antara 135 orang kardinal itu, Kardinal Suharyo adalah satu di antaranya. Ia menjadi satu-satunya orang Indonesia yang terlibat langsung dalam prosesi sakral pemilihan Paus baru tahun lalu.

Meski berbalut suasana kudus, proses itu berlangsung dengan begitu demokratis. Sejak Paus Fransiskus diumumkan meninggal pada 21 April 2025, ada masa berkabung selama 9 hari hingga akhirnya jasadnya dimakamkan. Selama 9 hari itu, setiap harinya seluruh kardinal mengadakan rapat, termasuk para kardinal yang berusia di atas 80 tahun.

“Jadi semua boleh bicara mengenai gereja, mengenai dunia, mengenai paus yang diharapkan seperti apa. Itu umum, ada yang berbeda pendapat, ada yang tidak setuju dengan itu, dan sebagainya. Demokrasinya di situ itu,” ungkap Uskup Suharyo.

Setelah itu, tibalah di hari di mana konklaf digelar di Kapel Sistina, Vatikan. Satu per satu kardinal peserta konklaf memasuki ruangan yang telah disiapkan. Tidak ada orang lain di sana kecuali 135 kardinal yang telah dinyatakan memenuhi kriteria.

Kardinal Suharyo menceritakan, saat pertama masuk ke ruangan, tiap orang harus mengucap sumpah yang kurang lebih berbunyi “saya hanya akan memilih orang yang dikehendaki Tuhan”. Memang mereka meyakini pilihan yang dijatuhkan adalah berdasarkan kehendak Tuhan, bukan selera pribadi.

Sumpah yang sama kembali diucapkan ketika masing-masing kardinal hendak memasukkan kartu yang berisi pilihannya ke dalam kotak suara.

“Jadi menulis di kartu suara, dibawa maju, ditunjukkan bahwa ini suara betul. Sebelum memasukkan kartu suara ke kotak suara itu harus bersumpah lagi di depan lukisan pengadilan terakhir dari Michelangelo. Coba dibayangkan, sumpah di depan pengadilan terakhir,” ungkap Kardinal Suharyo.

Kardinal Suharyo dan BDM.

Suansana ruangan konklaf pun jauh berbeda dengan ruangan diskusi sebelum-sebelumnya. Ia mengumpamakan bagai bumi dan langit.

Jika 9 hari masa persiapan dipenuhi debat dan argumen, maka konklaf hal itu tidak lagi ada.

“Secara rohani, inilah yang sebagai orang beriman itu mengatakan di situ terasa betul bagaimana Roh Kudus itu mempersatukan. Tidak ada faksi-faksi lagi. Semuanya berjalan sesuai dengan prosedur yang sudah dirumuskan di dalam buku panduan,” kata Uskup Suharyo.

Lantas, jika semua merupakan kehendak Tuhan, apakah berarti tidak ada pertimbangan-pertimbangan yang sifatnya duniawi, misalnya melihat situasi geopolitik, kondisi sosial internasional, dan sebagainya untuk menentukan siapa sosok paus yang akan dipilih?

Kardinal Suharyo menyebut pertimbangan itu pasti ada. Mendengarkan suara Tuhan bukan berarti absen melakukan analisis-analisis kondisi dunia.

Analisis harus tetap dilakukan sebelumnya, untuk membaca tanda-tanda zaman, membaca situasi global, sehingga terbayang pemimpin gereja seperti apa yang harus dihadirkan untuk menghadapi dunia seperti itu.

“Pasti analisa sosial sangat dibutuhkan. Tidak cukup mendengarkan suara Tuhan, nanti jangan-jangan suara lain yang didengar tanpa analisa itu,” ujar Kardinal Suharyo.

Refleksi 50 Tahun Menjadi Pemimpin Gereja Katolik

Uskup Suharyo atau Kardinal Suharyo akan genap 50 tahun imamat pada 26 Januari esok. Ia pertama kali ditasbihkan sebagai imam pada 26 Januari 1976. Telah panjang perjalanan pelayanan dan interaksinya bersama umat Katolik di Indonesia, bahkan di negara lain.

Ia merasa 50 tahun yang sudah dilalui ini cukup panjang, namun di sisi lain terasa singkat. Apapun itu, perjalanan imamat ini ia maknai sebagai perjalanan formasi pribadi sebagai seorang imam.

Awal ditasbihkan menjadi seorang imam, Uskup Suharyo mengambil semboyan “Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan”.

“Saya ingat, saya itu belum paham betul tentang imamat sebetulnya sesudah sekolah 7 tahun dan sesudah belajar mengenai macam-macam selama itu. Maka saya rumuskan (semboyan), saya ambil yang gampang saja. Kalau pada waktu itu saya ditanya, ini maksudnya apa? Saya tidak bisa menjelaskan. Tetapi itulah semboyan saya karena ada kata Injil itulah, tugas pewartaan yang utama kan,” ujarnya.

Namun, lama-kelamaan ketika Uskup Suharyo mulai merefleksikan imannya, bukan karena untuk ujian di bangku kuliah ataupun keperluan duniawi lainnya, ia menyimpulkan bahwa menjadi imam di Gereja Katolik memiliki pola Yesus Kristus sang Imam Agung.

Ia membaca surat kepada orang Ibrani, yang selama ini tidak ada dalam bahan ajar di perkuliahan. Di sana, ia menemukan ada satu kalimat yang menurutnya lebih mudah dipahami daripada semboyan pertama yang ia ambil. Konsepnya lebih sederhana, konkret, dan bisa dibayangkan. Kalimat itu kurang lebih berbunyi, Imam yang berbelas kasih kepada sesama dan setia kepada Allah. Belas kasih dan setia lebih mudah dicerna ketimbang Injil yang menyelamatkan.

“Itulah yang saya jalani. Saya coba usahakan sepanjang perjalanan imamat saya sampai sekarang. Tapi di tengah jalan ketika saya dipilih menjadi uskup, ditunjuk sebagai Uskup Semarang itu kan harus membuat semboyan juga, semboyan yang saya pilih pada waktu itu memang hasil studi sayaโ€“bukan studi terlalu akademis ya, tetapi studi dalam rangka membangun spiritualitasโ€“ dan saya temukan kalimat yang sangat bagus bagi saya pribadi pada waktu itu. Aku melayani Tuhan dengan segala rendah hati (Serviens Domino Cum Omni Humilitate). Itulah yang saya pilih sampai sekarang,” jelas dia.

Jadi, itulah yang ia maksud sebagai perjalanan formasi pribadi. Ia terus berjalan, belajar, bertemu dengan banyak pribadi mengesankan, dan apa yang ia temukan kemudian ia hayati secara rohani.

Salah satu pertemuan dengan pribadi-pribadi mengesankan yang masih membekas di benak Uskup Suharyo adalah ketika ia berkunjung dan berjumpa dengan umat di Papua.

Di sana, ia melihat bagaimana kondisi umat yang hidup dalam kondisi sederhana bahkan terbatas. Berangkat dari hal itu, ia menginginkan agar pemimpin umat yang ada di Jakarta juga bisa menerapkan kesederhanaan yang sama dalam kesehariannya sebagai bentuk solidaritas, sebagai bentuk tidak adanya jarak yang timpang antara umat dan imam.

“Pastoran tempat Romo-Romo Keuskupan Agung Jakarta tinggal, melayani, itu sangat sederhana, seperti rumah di desa saya tahun 60-an. Disengaja seperti itu, tidak dibangun. Maksudnya supaya tempat tinggal pastur dengan tempat tinggal umat itu tidak sangat jauh berbeda. Prinsipnya adalah solidaritas,” jelas dia.

Uskup Suharyo pun mengaku mau dan senang mengutus imam-imam dari Keuskupan Agung Jakarta untuk bekerja di paroki yang ada di Papua, salah satunya Paroki Bomomani di Dogiyai, Papua Tengah. Semua itu dalam rangka solidaritas, karena di sana mereka kekurangan imam, meski di Jakarta juga tidak bisa dikatakan memiliki imam yang cukup, namun kondisi di Jakarta jauh lebih baik.

Para imam dari Jakarta yang sudah terbiasa dengan fasilitas sederhana, tidak akan terlalu kaget ketika harus diutus menjadi imam di Papua dengan segala keterbatasannya.

Uskup Suharyo meyakini, jika para imam yang diberangkatkan itu tidak memiliki semangat solidaritas, maka mereka akan cepat frustrasi, tidak betah, ingin segera kembali ke Jakarta, tidak memenuhi masa tugasnya. Namun, semua itu tidak pernah terjadi.

“Sampai sekarang tidak ada seorang pun imam-imam yang diutus ke sana, yang pulang sebelum waktunya karena tidak betah, enggak ada” pungkas Uskup Suharyo.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *