Budiman Tanuredjo
Ada masa ketika tawa menjadi bentuk paling halus dari perlawanan. Bukan tawa yang remeh, tapi tawa yang lahir dari kejengkelan kolektif—ketika ruang kritik makin sempit, ketika keseriusan politik terasa absurd, dan ketika nalar publik seperti dipaksa berjalan di lorong sempit bernama sensitivitas berlebihan.
Rabu, 14 Januari 2026, di sebuah kafe di Yogyakarta, Kancane Café, sekelompok akademisi dan aktivis memilih satu cara yang tidak lazim untuk membaca zaman: mereka me-roasting seorang guru besar. Yang di-roasting bukan orang sembarangan—Prof Dr Zainal Arifin Muchtar, atau Uceng, ahli hukum tata negara yang selama ini dikenal kritis, cerewet, dan tak pernah betah di barisan aman.

Feri Amsari menjadi semacam master of ceremony dari ritual jenaka itu. Di hadapannya duduk Uceng, “tak berdaya” seperti terdakwa dalam pengadilan humor. Hadir pula Lukman Hakim Saefuddin, Bivitri Susanti, Denny Indrayana, Herlambang Perdana Wiratraman, Danang Widoyoko, Wahyu Susilo, Dhandy Dwi Laksono, hingga Okky Madasari. Mereka bukan sekadar tamu. Mereka adalah saksi dari sebuah ironi: bahwa di republik yang kian alergi kritik, tertawa bersama justru menjadi ruang aman terakhir.
Seseorang berkelakar, semoga Uceng tidak menjadi guru besar UGM ketiga yang berstatus tersangka. Lelucon itu pahit, tapi jujur. Karena di Indonesia hari ini, menjadi kritis bukan sekadar soal keberanian intelektual—ia telah menjelma menjadi risiko hukum.
Okky Madasari menohok lebih dalam. Uceng, katanya, bukan guru besar biasa. Ia menjadi guru besar di Fakultas Hukum UGM—di saat universitas itu sedang dipergunjingkan karena urusan ijazah. Ia mengajar hukum, di saat seorang dosen hukum menulis di harian nasional bahwa fakultas hukum sebaiknya dibubarkan saja karena hukum telah terlalu berantakan untuk diajarkan dengan penuh keyakinan.
“Inagurasi” guru besar itu, pada akhirnya, bukan sekadar seremoni akademik. Ia menjelma panggung komedi politik—sebuah cara menertawakan dunia kampus yang kini dipenuhi kabar tentang jual beli gelar, jurnal palsu, dan profesor abal-abal. Ketika gelar akademik tak lagi selalu identik dengan integritas, maka humor menjadi satu-satunya cara untuk tetap waras.
Puthut EA, CEO Mojok.co, menguji Uceng dengan pilihan ganda yang terasa lebih politis daripada soal ujian tengah semester: memilih Gibran atau AHY, Dasco atau Sjafrie, Prabowo atau Jokowi, Bahlil atau Pigai. Tanpa ruang argumentasi. Tanpa catatan kaki. Tanpa diskursus. Persis seperti demokrasi hari ini—penuh pilihan, miskin deliberasi.

Di titik ini, Yogya tampil bukan sebagai kota nostalgia, tapi sebagai oase kebebasan. Di kota inilah aktivis dan akademisi masih bisa tertawa bersama, sebelum laporan polisi datang karena ada yang merasa tersinggung. Di Yogya, humor belum sepenuhnya menjadi barang bukti.
Namun oase tak cukup jika hanya menjadi tempat singgah. Titik-titik perlawanan yang berserak—di kafe, di kampus, di ruang diskusi kecil—tak bisa selamanya berjalan sendiri-sendiri. Tertawa memang menyelamatkan kewarasan, tapi republik membutuhkan lebih dari sekadar kewarasan. Ia membutuhkan keberanian kolektif untuk kembali menyatukan suara-suara kritis yang hari ini tercerai oleh rasa takut.
“Inagurasi” Uceng adalah potret kecil Indonesia hari ini: negeri yang membuat kritik harus bersembunyi di balik humor, yang memaksa intelektual berbicara lewat satire agar tak langsung berhadapan dengan palu kekuasaan. Kita tertawa, bukan karena lucu, tapi karena getir.
Dan mungkin, justru di sanalah harapan kecil itu tinggal—bahwa selama kita masih bisa tertawa bersama atas kekuasaan yang terasa terlalu serius pada dirinya sendiri, republik ini belum sepenuhnya kehilangan nalar.
Kamis 15 Januari 2026 ini – bertepatan dengan peringatan 52 Tahun Malari – Zainal Arifin Muchtar akan menyampaikan pidato guru besar, “Konservatisme yang Menguat dan Independensi Lembaga Negara yang Melemah: Mencari Relasi dan Mendedah Jalan Perbaikan di Balai Senat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ini pidato resmi. Karena saat menghadapi para pe-roasting, Uceng gagal membela diri karena hujan mengguyur…***


Leave a Reply