“…refleksi saya sudah 40 tahun di dunia wartawan yang paling penting adalah kejujuran. Karena bagi saya, kejujuran itulah yang sekarang lagi kendor, lagi hilanglah boleh dikatakan,”
โWartawan Senior, Budiman Tanuredjo
Generasi muda adalah generasi yang diharapkan menjadi penerus tongkat estafet kepemimpinan bangsa di masa yang akan datang. Pada mereka, kita menaruh harapan. Pada mereka, dititipkan masa depan.
Siniar Back to BDM kali ini hadir dengan tamu spesial, 6 siswa SMA Taruna Nusantara yang melakukan kunjungan ke kediaman Budiman Tanuredjo. Mereka adalah Ilham, Hamam, Nathan, Zidane, Rifat, dan Satrio.
Dari obrolan yang berlangsung, keenam siswa tersebut secara bergantian mengajukan pertanyaan pada BDM, salah satu yang banyak mereka pertanyakan adalah wejangan, nilai, atau apa saja yang penting untuk dimiliki oleh seseorang dalam menjalani kehidupan.
Dalam kesempatan bincang-bincang santai itu, BDM menekankan pentingnya moral di tengah situasi bangsa yang dipenuhi oleh contoh-contoh negatif dari para pemimpinnya.
“Penting bangetlah (moral). Kalau saya menghargai moral. Kalau orang berkata A, ya tindakannya A. Kalau orang berkata B, ya tindakannya B. Yang sering terjadi, ini dalam pengalaman saya, orang berkata A kelakuannya Z. Itulah yang disebut tidak bermoral,” kata BDM.
Moral juga ia artikan sebagai ketaatan dalam beragama. Apapun agamanya, seseorang harus berperilaku baik sebagaimana diajarkan agamanya. Saat ini, banyak orang mengaku beragama, di KTP tertera sebagai pemeluk agama tertentu, namun apa yang ia lakukan jauh dari agama itu.
Berbohong. Korupsi. Menindas kaum lemah. Merampas hak orang lain. Tidak berempati. Munafik. Dan banyak contoh lainnya.
Kebohongan saat ini seolah sudah menjadi sesuatu yang lumrah dilakukan demi menutupi keburukan atau demi mendapatkan sesuatu.
Kepada para siswa yang ada di hadapannya, BDM berpesan, sebagai calon-calon pemimpin, mereka harus terus membentuk jiwa kepemimpinan dalam diri mereka.
Apa itu jiwa kepemimpinan?
“Di antara kepemimpinan, kalau saya melihat nilai yang paling penting adalah kejujuran dan berani bertanggung jawab, dan saya pikir di Tarnus diajarin. Ketika Zidane berbuat salah, dihukum, ya harus dijalanin. Itu sebagai bentuk bertanggung jawab. Jangan lari dari tanggung jawab. Karena sekarang banyak juga orang yang lari dari tanggung jawab,” jelas BDM.
Kemudian jujur, apa yang dikatakan adalah apa yang dilakukan. Katakan sesuatu sesuai dengan kenyataannya. Jangan yang baik diberi gula-gula berlebihan sehingga nampak sempurna, jangan pula yang buruk ditutup-tutupi sehingga terlihat baik.
Pada para siswa SMA Taruna Nusantara angkatan 36 yang berdiskusi dengannya, BDM berharap mereka bisa menjadi generasi muda yang kritis, menjaga nilai kepemimpinan, kesamaptaan, kejujuran, sembari harus terus menjaga kualitas raihan akademik mereka.
“Tapi itu semua bagi saya refleksi saya sudah 40 tahun di dunia wartawan yang paling penting adalah kejujuran. Karena bagi saya, kejujuran itulah yang sekarang lagi kendor, lagi hilanglah boleh dikatakan,” sebut BDM.
Menjadi apapun mereka kelak, apakah di dunia militer, kepolisian, pemerintahan, bisnis, kejujuran adalah maga uang yang berlaku di mana saja. Kejujuran pasti berharga.
Jika seseorang sudah mulai tidak jujur, maka perlahan itu akan menjadi kebiasaan. Dan dari kebiasaan dusta itu, kepercayaan orang terhadap kita akan runtuh. Karier yang susah payah dibangun pun bukan tidak mungkin akan hancur hanya karena ketidakjujuran.
Salah seorang dari siswa itu ada yang bertanya, prinsip hidup apa yang dipegang oleh seorang Budiman Tanuredjo hingga bisa sampai pada titik sekarang?
BDM pun tak berpikir lama, ia sampaikan prinsip hidupnya adalah satunya kata san perbuatan. Ia mencontohkan bagaimana saat ia berkarier di Harian Kompas.
“Saya orang yang selalu konsisten, apa yang saya katakan itu yang saya lakukan. Ketika saya harus pensiun sebagai pimpinan di Kompas karena saya berusia 60 tahun dan SK saya itu, peraturan perusahaan itu saya tandatangani (pensiun) berusia di 60 tahun. Ketika itu kena pada saya, ya saya harus juga mengikuti apa yang saya tanda tangani. Tidak mungkin saya menandatangani orang pensiun di usia 60 tahun, tiba-tiba saya mengubah SK itu untuk diperpanjang. Itu enggak baik. Itu yang saya katakan adalah sikap-sikap satunya kata dan perbuatan itu menjadi penting,” jelas Budiman.
Jika ia mau, SK itu sangat bisa diubah. SK hanyalah lembaran kertas yang pembuatnya adalah manusia. Namun, BDM tidak memilih untuk melakukan hal itu. Baginya, tidak elok mengubah aturan atau hukum hanya demi mengikuti selera dan kepentingan pribadi kita.
Ini tidak hanya berlaku dalam konteks SK, namun juga aturan dan hukum yang levelnya lebih tinggi, undang-undang misalnya.
Di akhir perbincangan, BDM juga menjawab pertanyaan salah satu siswa soal tips meraih kesuksesan. Jawabannya terdengar standar, namun memang itulah kunci yang banyak membawa orang pada kesuksesan.
Kerja keras dan kerja cerdas.
“Jangan pernah mudah menyerah, karena di setiap tantangan ada jalan. Itu yang penting. Kadang-kadang orang kan mudah menyerah. Setelah itu ya sudahlah beginilah. Enggak. Ketika ada tantangan, hadapi tantangan itu. Upayakan diselesaikan. Kadang orang selalu menghindar dari masalah. Ketika ada masalah hadapi tantangan, karena orang akan semakin pintar, selain sekolah di TN, sekolah di universitas adalah ketika Anda menyelesaikan masalah-masalah itu,” papar BDM.
Ia sungguh berharap, perwakilan generasi muda yang ada di hadapannya bisa menjadi penerus bangsa yang bermoral, berkualitas, dan berani bersikap kritis.
Sikap kritis tidak harus menunggu kita menjadi aktivis, tidak harus menunggu menjadi politisi, sikap itu bisa mulai dibentuk sejak usia dini, apalagi saat mereka sudah duduk di bangku SMA.
Orang harus ingin tahu, harus ingin tahu, harus ingin tahu, harus ingin tahu. Jangan pernah puas dikatakan oleh guru di kelas, tapi harus membaca lagi, membaca lagi, terus mempertanyakan. (Ilmu di kelas) dibenturkan dengan situasi di lapangan, kira-kira seperti apa. Harus dilatih sejak dari SMA atau dari lebih kecil, itu untuk berpikir kritis,” pungkasnya.


Leave a Reply