“Bayangin kalau wartawan itu banyak ngibul, banyak bohong. Berapa orang yang saya bohongin? Itu kan tidak bermoral, itu tidak bertanggung jawab. Sehingga seorang wartawan itu ada kode etik, di mana dia tidak boleh berbohong,”
โWartawan Senior, Budiman Tanuredjo
Menjadi jurnalis adalah pilihan hidup yang telah dijalani Budiman Tanuredjo (BDM) dalam kurun waktu kurang lebih 40 tahun terakhir.
Kiprahnya sebagai seorang wartawan mulai dari calon koresponden daerah hingga menempati posisi puncak sebagai Pemimpin Redaksi di Harian Kompas, pernah ia rasakan.
Dalam siniar Back to BDM episode spesial bersama siswa-siswa SMA Taruna Nusantara Magelang, BDM membagikan pengalaman dan nilai-nilai utama dalam dunia jurnalistik yang penting untuk dipahami publik.
BDM yang menyelesaikan pendidikan sarjananya di Teknik Nuklir UGM itu mengaku, awal mula ia memilih menjadi jurnalis karena kebiasaannya menulis. Menulis menjadi jalan baginya ketika duduk di bangku kuliah untuk mendapat uang tambahan.
“Kehidupan keluarga saya adalah keluarga yang miskin. Saya sekolah di SMA dan kemudian kuliah di teknik nuklir. Saya enggak punya apa-apa, bermodalkan keinginan, bermodalkan tekad. Dari situlah saya menemukan jalan, dengan menulis saya bisa mendapatkan sesuatu. Dengan cara menulis saya bisa mendapatkan pendapatan tambahan. Di situlah saya bisa menemukan dengan menulis itu saya bisa bertahan hidup, saya bisa membiayai kuliah saya sampai lulus melalui jurnalistik itu sendiri,” jelas BDM.
Selain menulis, ia juga bekerja serabutan untuk bisa mencukupi kebutuhannya, karena selain datang dari keluarga kurang berada, ia juga sudah ditinggal meninggal sang ayah sejak usia 5 tahun.
Pernah berada di titik itu, BDM yang kini sudah hidup cukup berkat kerja kerasnya di bidang jurnalistik, di masa pensiunnya, ia ingin mendedikasikan karya-karya jurnalistiknya bukan hanya untuk diri pribadi, namun juga membantu sesama.
“Jurnalisme itu untuk sesama, untuk saya dan untuk sesama. Itu sebetulnya alasan dasarnya kenapa saya menekuni dunia jurnalistik,” ujar pria yang melanjutkan S2 dan S3-nya di bidang ilmu politik itu.
Jurnalisme untuk sesama, secara praktis ia lakukan melalui kanal YouTube dan Substack miliknaya. Di sana BDM membagikan tulisan-tulisan karyanya seputar politik, hukum, dan sebagainya. Kemudian pembaca bisa menyalurkan donasi yang nantinya secara rutin sebagian besar donasi itu. ia salurkan kembali pada pihak-pihak yang membutuhkan. Misalnya ke panti asuhan.
Sudah menjadi passion, bagi BDM tidak ada tema yang sulit untuk dikupas jika berbicara jurnalistik. Hukum, politik, HAM, ekonomi, apapun itu bisa ia lahap dengan mudah. Alasannya, karena ia menaruh minat yang tinggi pada dunia ini.
“Enggak ada. Semuanya itu kalau by passion sesuai dengan niat, sesuai dengan keinginan, dijalanin aja. Yang bikin tidak pasti ketika saya menjadi host di Satu Meja Kompas TV itu kan exact jamnya jam 20.30 harus mulai. Yang bikin deg-degan adalah ketika narasumbernya enggak datang. Nah, agak agak repot itu,” ujar dia.
Jika hal itu terjadi, maka siaran harus tetap berjalan, ia dan tim produksi lainnya harus sigap mencari jalan alternatif untuk menutup kekosongan itu.
Bisa dengan segera mencari narasumber pengganti, atau jika tidak memungkinkan, maka biasanya ia akan melakukan monolog, membicarakan tema yang sedang dibahas. Apapun, sehingga acara tetap bisa berjalan dan tidak terjadi kekosongan.
Jurnalis pantang berbohong…
Sebagai seorang jurnalis, ia memegang prinsip-prinsip yang pantang untuk dilanggar. Beberapa di antaranya adalah prinsip kejujuran kejujuran dan satunya kata dengan perbuatan.
Pertama, soal kejujuran. Baginya, wartawan harus berkata jujur, menulis jujur, dan memberitakan fakta secara apa adanya. Ia tidak boleh berbohong, menuliskan data yang berbeda dengan fakta di lapangan, menutupi kebenaran, dan sebagainya.
“Seorang wartawan sebenarnya guru bagi bangsa ini, bagi para pembacanya, itulah yang harus dipegang. Bayangin kalau wartawan itu banyak ngibul, banyak bohong. Berapa orang yang saya bohongin? Itu kan tidak bermoral, itu tidak bertanggung jawab. Sehingga seorang wartawan itu ada kode etik, di mana dia tidak boleh berbohong,” tegas dia.
“Kalau memang salah, ya diakui salah. Ada namanya hak untuk melakukan koreksi. Tapi jangan sekali-kali berbohong. Karena ketika membohongi yang menjadi korban adalah para pembaca atau para penonton,” lanjutnya.
Dalam dunia jurnalistik dikenal konsep hak jawab dan hak koreksi. Hak jawab diperuntukkan bagi narasumber yang diberitakan, jika ada kesalahan atau ketidaksesuaian, ia bisa menggunakan hak jawabnya dan meminta media untuk memperbaikinya. Sementara hak koreksi adalah hak media untuk mengoreksi pemberitaan yang mereka muat, cetak, atau tayangkan sebelumnya jika terkonfirmasi ada kesalahan.
Di antara banyak tekanan, jurnalis harus berpihak…
Sebagai media yang bisa memengaruhi opini publik, peran media dalam menginformasikan sesuatu sangat berpengaruh bagi kelangsungan suatu institusi, lembaga, kelompok, atau pihak tertentu.
Oleh karena itu, banyak pihak terutama penguasa, yang coba menekan media agar tidak memberitakan seauatu yang negatif tentang mereka. Media didesak agar memberitakan perihal positif saja, sementara bagian negatif dipesankan agar tidak usah disorot.
BDM tak menyangkal soal adanya tekanan semacam itu pada media. Ia pun menganggap hal itu sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja. Semua orang tidak ada menginginkan berita buruknya diketahui masyarakat luas.
“Tapi seorang wartawan yang harus diingat adalah dedikasinya itu kepada publik, kepada masyarakat. Kalau dia hanya menulis yang baik-baik saja, itu mengikuti kehendak dari kekuasaan itu sendiri. Minimal dia harus mengatakan dia berpihak kepada kebenaran. Dia berpihak kepada keadilan,” ungkap BDM.
Masih dalam rangka berpihak pada keadilan, dalam jurnalisme dikenal konsep cover both side atau meliput di dua (semua) sisi. Misalnya ada pejabat yang diisukan terlibat korupsi, maka wartawan harus mewawancarai semua pihak yang terkait, baik KPK, pejabat yang diduga korupsi, juga pihak-pihak lainnya yang namanya terbawa dalam kasus itu.
Tidak boleh seorang wartawan mengangkat suatu berita hanya berdasarkan keterangan satu pihak saja dan tidak mencari jawaban dari pihak-pihak lainnya.
Selain berpihak pada keadilan publik, seorang wartawan juga tidak bisa menjadikan ucapan seseorang sebagai satu-satunya patokan untuk ia beritakan. Wartawan harus melakukan cek secara mandiri tentang sesuatu yang akan diberitakan.
Untuk menjelaskan pada siswa-siswa SMA Taruna Nusantara yang bertandang ke kediamannya, BDM mengambil contoh bahwa ada orang yang mengatakan di luar hujan, ada orang lain yang mengatakan sebaliknya, tidak ada hujan di luar. Maka yang harus dilakukan seorang jurnalis adalah menerima informasi dari semua pihak, namun tidak lantas mempercayainya. Jurnalis harus pergi ke luar dan mengecek sendiri bagaimana kondisi faktual yang ada, apakah hujan atau tidak.
Lebih dari itu, seorang jurnalis harus berani mengejar jawaban pada narasumber yang berkata tidak sesuai dengan realitas. Misalnya seorang narasumner katakan di luar hujan, padahal ternyata tidak hujan. Seorang jurnalis harus berani bertanya, mengapa Anda sebut di luar hujan, padahal di luar panas terik. Apa penjelasannya?


Leave a Reply