Suka Cita Natal di Tengah Duka Cita Bencana

“Kami mendoakan dalam pergumulan yang tidak ringan, saudara-saudara bisa mendapatkan dampingan atau pelukan dari Tuhan yang bekerja lewat banyak orang…”

โ€”Sekretaris Umum PGI, Pendeta Darwin Darmawan

Bencana ekologis berupa banjir bandang dan tanah longsor yang melanda 3 provinsi di Sumatera berlangsung dahsyat dan menyisakan dampak yang luar biasa parah. Lebih dari 1.100 nyawa melayang, 170-an nama masih dinyatakan hilang, ribuan rumah hancur bahkan rata dengan tanah, ratusan ribu warga lainnya menjadi pengungsi.

Negara dan berbagai perwakilan masyarakat juga organisasi relawan terus bahu-membahu memberikan bantuan pada masyarakat penyintas bencana, berharap bisa sedikit meringankan beban yang harus mereka tanggung.

Sayangnya, jerih payah dan ketulusan mereka yang mewakili Negara seperti anggota TNI, Polri, Basarnas, dan lain-lain yang sudah memberikan bantuan di lapangan seringkali dirusak oleh pernyataan-pernyataan atau tingkah laku para pejabat di tingkat atas yang seolah tidak menaruh hati dan pikirannya dalam penanganan dampak bencana ini di Sumatera ini.

Pernyataan-pernyataan bohong, pencitraan, bertolak-belakang dengan kondisi masyarakat, semua pernah terjadi dan itu menyakiti hati para penyintas, bahkan masyarakat pada umumnya.

Bagaimana Presiden enggan menetapkan bencana besar ini sebagai Bencana Nasional yang menyebabkan begitu banyak bantuan internasional tidak bisa masuk. Bagaimana Menteri ESDM memberikan informasi yang keliru terhadap Presiden soal layanan pemulihan listrik di Aceh, disebutkan begitu baik, padahal kenyataannya jauh api dari panggang. Bagaimana Menko Pangan datang ke lokasi dengan memanggul sekarung beras yang dinilai publik sebagai bentuk pencitraan semata. Bagaimana Kepala BNPB pernah menyebut bencana di Sumatera hanya parah di media sosial. Bagaimana Presiden meneriakkan sawit sebagai anugerah dan akan membuka lahan baru di Papua untuk menanam sawit padahal bencana di Sumatera salah satunya dipicu oleh maraknya alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit.

Dengan mengundang sejumlah narasumber, Satu Meja The Forum KompasTV (24/12/2025) hadir dengan mengangkat tema”Bencana Ekologi dan Pesan Natal untuk Negeri” membahas bencana ekologi Sumatera dan irisannya dengan politik di Tanah Air.

Salah satunya soal seruan tobat ekologis yang pernah disampaikan oleh Muhaimin Iskandar di panggung debat saat dirinya mengikuti pencalonan Wakil Presiden RI di tahun 2024. Cak Imin menyerukan tobat ekologis karena ia melihat alam dan lingkungan kita sudah demikian rusak sehingga bencana bisa kapan pun menyapa. Perbaikan menyeluruh dan pertobatan yang nyata harus segera dilakukan.

Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Wahid mengatakan pertobatan ekologis tidak bisa sekadar disampaikan dalam sebuah forum, kemudian doa bersama, dan selesai. Lebih jauh dari itu, pertobatan ekologis yang sesungguhnya adalah berkomitmen untuk hidup selaras dengan alam, didasari oleh nilai-nilai ketuhanan.

“Masalahnya, ketika kita bicara kebijakan negara, bicara praktik bisnis, dan praktik masyarakat, kehidupan masyarakat, apakah semangat ekologis ini tercapai atau tidak, terwujud atau tidak? Tidak. Pertama, pertobatannya belum dilaksanakan, belum pernah dilakukan. Yang kedua, kita sendiri pertobatannya juga tidak ada wujudnya. Jadi jangan sampai ini hanya ritual saja, hanya ucapan apalagi hanya event belaka. Ini yang kita tidak inginkan karena pertobatan artinya meninggalkan yang buruk, yang lama, lalu menyongsong kehidupan baru,” jelas Alissa.

Sebelum dikampanyekan oleh Cak Imin, istilah tobat ekologi awalnya dicetuskan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2015 melalui ensiklik Laudato Si’.

Sekretaris Umum Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Darwin Darmawan mengatakan, pertobatan ekologis yang diserukan di panggung kampanye hanyalah narasi pertobatan semata. Namun, pertobatan yang sesungguhnya membutuhkan eksekusi yang tongkat komandonya ada pada mereka para pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan.

Sayangnya, partai politik, Presiden, menteri-menteri, DPR, sejauh ini belum ada yang mengambil langkah konkret.

“Kita kan berasumsi partai politik, politisi yang terpilih, presiden, menteri, dan lain-lain bisa mengeluarkan kebijakan dan mengeksekusi pertobatan ekologis. Faktanya enggak, pemiman enggak begini, terus terjadi keterputusan, terus-terus begini,” kata Pdt. Darwin.

Jika para pemimpin tidak mau melakukannya, tidak mau peduli dengan urgensinya, Pdt. Darwin mengajak semua dari kita untuk turut ambil bagian dan merasa bahwa pertobatan ekologis adalah tanggung jawab kita bersama.

Jika politisi sudah tidak peduli, ya sudah. Biarkan saja mereka dengan pilihan itu. Tapi, Pdt. Darwin mengatakan kita tidak boleh mengikuti langkah apatis mereka. Masyarakat harus bergerak bersama membentuk lingkungan yang sehat.

Semua dimulai dari tingkat keluarga. Ajarkan rasa cinta pada lingkungan, rasa tanggung jawab, integritas, kejujuran pada tiap anak yang dibesarkan. Jangan hanya jejali mereka dengan hal-hal yang bersifat material, penuhi juga otak dan hatinya dengan pemahaman dan contoh konkret pentingnya menjaga lingkungan tempat hidupnya.

“Menurut saya ini peran keluarga yang kadang-kadang kita serahkan kepada institusi di luar keluarga. Keluarga adalah unit sosial terkecil yang sebetulnya punya peran strategis dan sentral dalam rangka membangun unit sosial yang lebih besar,” seru Pdt. Darwin.

Jika unit sosial terkecil saja tidak bisa bekerja, maka Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi angan-angan belaka.

Masih soal tobat ekologis, Imam Agung Jakarta, Romo Yustinus Ardianto menyebut pertobatan bisa dilakukan melalui dua jalan: negativa dan positiva. Jalan negatif, ada hal buruk yang terjadi pada kita kemudian kita bertaubat. Bencana ekologis ini bisa menjadi salah satu contohnya.

Tuhan sudah ingatkan dengan teguran yang sedemikian keras, maka kita harus benar-benar memulai pertobatan itu

“Kita ini kan gonjang-ganjing, pertobatan ekologis baru sadar semua ngomong itu ketika datang ada seperti itu (bencana besar). Via negativa, menurut saya. Yang tobat siapa sih? Harusnya yang membuat dosa itu kan, tapi dalam kasus kita ini yang menjadi pembuat dosa itu belum tentu saudara-saudari kita yang di Sumatera menjadi korban, bisa jadi kan dosanya itu dibuat oleh pihak lain,” ungkap Romo Yustinus.

Romo Yustinus, BDM, Sukidi, Alissa Wahid, dan Pdt. Darwin

Ia menjelaskan orang Samaria yang dikisahkan baik hati dan suka menolong. Mereka tidak peduli siapapun orang yang kesulitan dan membutuhkan pertolongan akan mereka bantu tanpa melihat latar belakang agama, ras, dan sebagainya. Mereka akan tolong dengan tulus dan mereka akan tolong hingga tuntas.

Jadi, Romo Yus mengajak kita untuk bisa mencontoh tulus dan tuntasnya orang Samaria dalam membantu sesama dalam membantu saudara-saudara di Sumatera yang terdampak bencana.

“Saya percaya banyak orang-orang tulus di Indonesia ini. Tapi kalau sampai ada orang yang punya niat (membantu) demi bikin konten, lalu dia kelihatan menolong, saya kira bertobatlah Kerajaan Allah sudah dekat,” ujar dia.

Pemikir Kebhinekaan, Sukidi membenarkan apa yang disampaikan Romo Yustinus itu benar-benar terjadi. Ada oknum yang menolong, menyalurkan bantuan, namun semua itu dilakukan semata-mata untuk membangun citra politiknya. Kamera diajak serta, kegiatannya didokumentasikan dengan baik, dirinya tertangkap kamera dalam angle dan scene yang paripurna

Tidak masalah mendokumentasikan kegiatan kemanusiaan, tapi bukan diri kita dan apa yang kita lakukan yang menjadi fokus utamanya, fokuskan sorot kamera itu pada keadaan korban dan kondisi pasca bencana.

Sukidi berharap hal serupa tidak lagi terulang. Sudah cukup.

“Momen Natal ini menggerakkan kita untuk menghidupkan kembali satu cahaya suci dalam diri kita agar kita terpanggil untuk berbela rasa kepada sesama,” kata Sukidi.

Jadilah seperti orang-orang Samaria yang tulus hati membantu sesama, sekalipun dianggap buruk dan rendah.  Apapun kondisi kita saat ini, buktikan bahwa hati kita baik, hati kita penuh kasih sayang, dan penuh dengan kepedulian terhadap sesama.

Dan kepada pemerintah, Sukidi berharap agar mereka memandang negara sebagai ruang pengabdian untuk melayani kesejahteraan bersama, bukan kemakmuran pribadi semata.

Caranya, dalam tiap pengambilan kebijakan, prinsip dasar ketuhanan harus menjadi pangkalnya.

“Ketuhanan yang diamanahkan oleh Bung Karno maupun Bung Hatta itu adalah ketuhanan yang welas asih, yang memberikan belas kasih kepada sesama, terutama kepada seluruh rakyat. Bukan negara yang tampil sebagai leviatan, leviatan yang represif terhadap warganya sendiri, kepada warga yang berjuang untuk demokrasi, kepada warga yang berjuang untuk lingkungan, dan kepada warga yang berjuang untuk kelestarian alam. Karena itu, negara harus tampil dengan sikap yang welas asih sebagaimana ditunjukkan oleh Yesus yang selalu peduli pada sesama. Sebagaimana ditunjukkan oleh kisah orang Samaria yang murah hati yang selalu ingin menolong penderitaan pada sesama,” jelas Sukidi.

Terakhir, Sukidi berpesan agar budaya gotong-royong di tengah masyarakat kita bisa terus hidup. Tanamkan pada diri kita untuk tidak ragu berbuat kebaikan. Sekecil apapun, kebaikan tetaplah kebaikan yang dampaknya bisa jadi besar.

Kita harus hadir dengan kebaikan, menjadi lentera penerang di tengah kegelapan, menjadi cahaya di tengah kabut yang menyelimuti bangsa ini.

Bagi saudara-saudara umat Nasrani yang terdampak bencana pada perayaan Natal tahun ini, Pdt. Darwin berpesan agar mereka tetap meyakini Natal sebagai bentuk solidaritas Allah dalam diri manusia melalui kelahiran Yesus Kristus.

Yesus hadir di tengah dunia yang gelap karena dipenuhi masalah, Allah hadir members amat umat manusia dalam masa yang sulit. Maka begitu pula dengan kondisi saat ini.

“Kami mendoakan dalam pergumulan yang tidak ringan, saudara-saudara bisa mendapatkan dampingan atau pelukan dari Tuhan yang bekerja lewat banyak orang. Kita doakan pemerintah, kemungkinan negara-negara asing jugaโ€”kalau (pemerintah) terbuka lebih baikโ€”bisa men-support saudara-saudara supaya bisa melewati masa-masa sulit di tengah duka cita ini,” harap Pdt. Darwin.

Ia juga mendoakan umat yang ada di Papua, di tengah eskalasi konflik yang sedang meningkat, mudah-mudahan semua bisa tetap merayakan Natal dengan damai.

Menegaskan penjelasan Pdt. Darwin soal Natal adalah bentuk kebaikan Tuhan membersamai manusia, Romo Yustinus mengingatkan pada umat Kristiani untuk berhati-hati, jangan sampai salah mengartikan Natal dan justru terjebak pada konsumerisme.

Natal bukanlah momentum hura-hura di penghujung tahun, menghabiskan dana untuk belanja, berburu diskon, membuat dekorasi megah, bukan itu.

“Hakikat Natal yang paling sejati secara teologis itu kan gerakan turun dari Allah. Allah tidak mengajar kita gerakan naik, tapi justru Allah itu mengajar kita gerakan turun dan turunnya juga enggak main-main, di kandang hewan yang menurut pikiran manusia enggak pantas (Tuhan) lahir di kandang hewan, tapi Allah memilih lahir dengan cara seperti itu. Maka kalau buat saya ingin merayakan Natal, umat Kristiani, umat Katolik di mana pun, mari kita melakukan gerakan turun. Ada syukuran, oke ada perayaan keluarga, tetapi jangan pernah lupa kita harus melakukan sesuatu yang nyata untuk sesama dan saudara kita yang menderita di manapun, entah yang di Sumatera ataupun jangan-jangan yang di depan mata kita, di depan rumah kita,” pesan Romo Yus.

Menutup dialog malam itu, Alissa Wahid menggarisbawahi Natal adalah perayaan yang identik dengan kedamaian dan perdamaian.

Oleh karena itu, ia berharap Natal tahun ini juga membawa semangat damai tersebut hingga ke seluruh pelosok negeri, terutama ke Tanah Papua yang hingga saat ini masih konflik, juga ke Tanah Sumatera yang kini tengah porak-poranda dilanda bencana.

Ia juga berdoa, semoga umat Kristen dan Katolik yang merayakan Natal tahun ini tetap bisa melaluinya dengan suka cita namun tetap menyisakan ruang bela rasa pada saudara sebangsa yang tengah dilanda bencana.

“Natal memang dirayakan oleh saudara kita yang Kristiani, tetapi semangat perdamaiannya bisa menjadi semangat untuk kita semua,” pungkas Alissa.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *