“Bencana ekologi mengingatkan kita bahwa relasi manusia dengan alam tidak pernah netral. Ia selalu mencerminkan cara kita memandang kehidupan dan sesama. Pesan Natal mengajak kita kembali pada penghormatan atas harkat manusia dan kemanusiaan serta keberpihakan pada yang papa sebagai pilihan nilai. Demokrasi tidak pernah selesai di satu forum, ia hidup selama kita masih mau bertanya, mau mendengar, bersikap jujur, dan berpikir jernih untuk mengingatkan yang mapan dan menghibur yang papa,”
Natal 2025 berlangsung dalam duka, segenap umat Kristen dan Katolik di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat melalui Hari Rayanya serba sederhana, serba keterbatasan. Natal tiba hampir sebulan pasca kehidupan mereka benar-benar berubah 180 derajat.
Rumah mereka hilang, keluarga mungkin banyak yang menjadi korban, gereja rusak terendam lumpur, ekonomi lumpuh, dan lain sebaganya. Jangankan pohon natal berhiaskan pernik meriah atau kado-kado yang berlimpah, untuk melaksanakan Ibadah Natal saja mereka mungkin kesulitan.
Tapi Tuhan tak pernah meleset dalam membuat rencana. Pasti ada pelajaran besar yang Dia berikan melalui bencana ini. Dan umat manusia, tak hanya masyarakat Sumatera, tak hanya umat satu agama, tapi semua entitas yang disebut sebagai manusia, diharapkan dapat memahaminya.
Tepat di malam Natal, program Satu Meja The Forum KompasTV (24/12/2025) mengangkat tema “Bencana Ekologi dan Pesan Natal untuk Negeri” dan membuka dialog dengan sejumlah narasumber untuk memperbincangkannya.
Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Wahid turut bersedih atas bencana yang menimpa masyarakat di utara Pulau Sumatera. Bencana utama memang sudah berlangsung sebulan lalu, namun penanganan pasca bencana hingga hari ini belum maksimal. Bahkan, bencana susulan berupa banjir-banjir yang lebih kecil masih terus terjadi di sejumlah titik wilayah.
“Tetapi terutama dalam momen malam Natal ini saya memang justru teringat kepada salah satu ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si’ (Rumah Kita Bersama-2015). Paus Fransiskus sudah mengingatkan warga dunia bahwa keserakahan kita, pembangunan yang justru tidak mengedepankan kelestarian alam itu menyebabkan kita akan berhadapan dengan banyak sekali problem krisis iklim. Dan sepertinya saat ini kita sedang membayar harga dari pilihan-pilihan buruk kita yang lalu-lalu,” kata Alissa.
Hal yang menyedihkan bagi Alissa adalah masyarakat yang tidak merusak alam, masyarakat yang justru merawat alam, malah mereka yang menjadi korban atas ketamakan para pengusaha dan penguasa yang menghancurkan alam dengan berbagai kegiatan bisnisnya.
Imam Agung Jakarta, Romo Yustinus Ardianto menjelaskan, Laudato Si’ tahun 2015 berisi kemarahan Paus Fransiskus akan perbuatan manusia yang mengabaikan keselamatan Bumi. Di tahun 2023, Paus Fransiskus mengeluarkan dokumen apostolik ekologi penting yang dinamai Laudate Deum yang merupakan kelanjutan Laudato Si’.
“Laudate Deum itu isinya lebih keras lagi dan sepertinya Paus Fransiskus tuh makin marah. Laudato Si’ mungkin kalimatnya sudah keras, tapi di Laudate Deum makin marah lagi, karena dunia ini memang makin rusak, ditambah dengan perubahan iklim yang luar biasa,” jelas Romo Yus.
Dalam dokumen itu ditegaskan, Bumi adalah rumah bersama. Bumi bukan hanya tempat tinggal mereka yang kaya, bukan hanya kaplingan area milik mereka yang berharta, Bumi adalah rumah kita semua. Jadi, semua memiliki tugas yang sama untuk terus menjaga Bumi.
Romo Yustinus mengungkapkan, bencana bisa disebabkan oleh beberapa hal: akibat dari kesalahan manusia, terjadinya fenomena alam, atau kehendak Tuhan untuk memberikan ujian pada manusia.
Untuk kasus seperti gempa dan tsunami, Romo Yus masih bisa sepakat bencana datang dari fenomena alam. Namun untuk banjir Sumatera kali ini, ia tidak bisa menyimpulkan demikian.
“Saya kira kita harus jernih ketika melihat bencana seperti ini. Pasti suasananya beda ketika kita gempa di Jogja dan sekitarnya 2006 dengan bencana yang di Sumatera sekarang ini. Kita merefleksikan ini kayaknya ada kita salah mengelola alam semesta kita,” sebutnya.

Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Darwin Darmawan malah menyebut apa yang terjadi pada Sumatera hari-hari ini adalah bencana yang sudah bisa kita duga sejak jauh-jauh hari.
Pasalnya, deforestasi kian meluas, industri ekstraktif kian menjadi primadona, alam terus diekspoitasi demi kepentingan ekonomi (segelintir) manusia. Padahal, jika alam terus-menerus “diperkosa” tanpa memperhatikan kaidah pelestariannya, maka bencanalah yang akan terjadi di suatu hari nanti. Bahkan sudah terjadi sebagaimana bencana Sumatera akhir November lalu.
“Itu sebabnya, gereja-gereja memakai ini sebagai bencana ekologis. Dia bukan bencana malahan sih, sebab kalau hujan saja, hutan masih bagus, aliran sungai masih terjaga, rasanya tidak akan separah seperti yang sekarang ini kita saksikan. Jadi ini adalah harga yang kita bayar karena kita merusak atau memperkosa alam yang diciptakanโkalau dalam tradisi Kristiani ituโdalam keadaan baik,” jelas Pendeta Darwin.
Peran manusia dalam kerusakan alam begitu sentral. Tidak ada makhluk lain yang ada di muka Bumi yang bisa dimintai pertanggungjawaban atas kerusakan alam, selain manusia.
Bahkan manusia memiliki potensi yang jauh lebih destruktif daripada kekuatan alam itu sendiri. Misalnya, gempa besar memang merusak, namun tingkah-pongah manusia yang terus-menerus berbuat kerusakan di muka Bumi bisa menimbulkan bencana yang luas lagi dahsyat. Seperti bencana sosial, bencana ekonomi, bencana kemanusiaan, dan sebagainya.
Dari semua yang rusak dan terancam rusak, Pendeta Darwin menyarankan agar kita segera berpikir bagaimana menyelamatkan kemanusiaan kita sebagai manusia. Manusia yang setara, jujur, beretika, berempati, tidak tamak, saling tolong, saling menghormati dan menghargai. Itu adalah dasar-dasar nilai kehidupan yang saat ini sukar ditemui.
“Pencitraan demi keuntungan politik harus dijauhkan dari dunia kita. Yang utama yang perlu kita lakukan adalah bagaimana menyelamatkan kemanusiaan, kemanusiaan yang terluka,” kata Pdt. Darwin.
“Kemanusiaan itu satu dan setara. Luka kemanusiaan di Aceh, di Sumatera, adalah luka kemanusiaan kita. Karena kita saling terkait satu sama lain. Kesadaran untuk menjiwai kemanusiaan inilah yang harus selalu tumbuh pada diri kita agar kita semua terpanggil untuk berbela rasa kepada sesama. Aspek bela rasa ini lintas batas, lintas geografis, lintas teritori juga,” imbuhnya.
Ia menyebut, momen Natal kali ini bisa dimanfaatkan sebagai momentum kita untuk menunjukkan bela rasa kemanusiaan, menggalang solidaritas lintas kepentingan dan golongan, semua harus bahu-membahu untuk menyembuhkan kemanusiaan yang terluka dan membentuk kembali manusia-manusia yang bermartabat.
Indonesia adalah negara kaya raya sumber daya alam, namun di sisi lain negara ini juga kaya akan potensi terjadinya bencana. Untuk itu, Pdt. Darwin berharap agar pengelolaan dan pemanfaatan SDA yang ada di Indonesia bisa lebih bijak. Tidak hanya memikirkan keuntungan mereka yang berusaha, tapi juga mementingkan keamanan hidup jutaan jiwa yang ada di sekiarnya.
“Benar, bencana bisa terjadi, bencana alam bisa terjadi. Tetapi dampak yang sangat mengerikan dan sangat menyengsarakan seperti sekarang, menggambarkan ini bencana bukan sekedar kesalahan alam, tapi ini bisa jadi megaphone dari alam atau Tuhan yang mengingatkan kita, mbok ya, cara berpikir kita tuh jangan antroposentris, jangan cuma buat kepentingan segelintir orang. Mungkin segelintir orang yang mendapatkan manfaat dari konsesi (lahan hutan menjadi pertambangan/perkebunan), tapi banyak orang menderita,” jelas Pdt. Darwin.
Pemerintah Sulit Diandalkan, Warga Bantu Warga
Meski secara kualitas pendidikan dan ekonomi, bangsa Indonesia masih tertinggal dari bangsa-bangsa lain, namun untuk urusan tolong-menolong, gotong-royong, dan saling ada untuk sesama, bangsa ini bisa diperhitungkan.
Dalam setiap bencana, yang turun ke lokasi bukan hanya perangkat negara, tapi juga warga dari beragam latar belakang ekonomi, pendidikan, suku, agama. Semua urun kebaikan untuk menolong saudara sebangsanya, dengan cara apapun. Ada yang memilih menjadi relawan, ada yang hebat menggalang, mengoordinasi, dan menyalurkan bantuan, ada pula yang giat melangitkan doa dan membakar semangat persatuan lewat berbagai unggahan di kanal media sosial.
Alissa mengakui demikian lah kenyataannya masyarakat Indonesia. Sangat pemberi, sangat menjunjung tinggi persatuan, dan solid dalam kondisi tersulit.
“Mungkin karena semangat gotong-royong kita ini jadi berkali-kali dalam kondisi apapun ketika ada yang menderita, warga yang lain itu cenderung akan dengan sukarela menyediakan segalanya untuk membantu saudaranya. Ini sesuatu nilai dan budaya bangsa yang sungguh menjadi penopang kita terutama dalam kondisi seperti ini,” ujar Alissa.
“Tapi tidak boleh itu dijadikan andalan untuk menyelesaikan semuanya. Tanggung jawab pemerintah untuk melayani warga yang sekarang menjadi korban itu juga tidak bisa dilimpahkan kepada semangat solidaritas warga,” lanjutnya.
Romo Yustinus mengartikan solodaritas warga Indonesia ini sebagai sebuah cermin “blessing in disguise“, selalu ada berkah di balik kondisi sulit.
Kini kondisinya memang masih sulit, masa depan terlihat masih gelap. Tapi Romo Yus mengajak kita semua untuk tetap mengimani bahwa atas izin Tuhan, hal-hal baik akan terjadi pada mereka yang kini berada dalam kesulitan. Tidak bisa hanya menunggu kehendak Tuhan, sebagai sesama bangsa, kita semua juga memiliki tanggung jawab moral untuk membantu memulihkan kehidupan saudara-saudara kita di Sumatera.
Berkaitan dengan tema Natal nasional tahun ini, yakni “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”, maka bangsa Indonesia harus fokus menyelamatkan keluarga-keluarga yang terdampak bencana. Tak melulu di Sumatera, namun juga di wilayah lain yang sama-sama sedang diuji dengan hal serupa.
“Kita harus hadir dan menyelamatkan. Hadir mungkin enggak bisa secara fisik, semua yang ada di sini kita berbondong-bondong ke sana belum tentu bisa. Tapi bentuk kehadiran kita kan bisa dengan cara lain. Kita punya sesuatu yang lebih, mari kita berikan. Gerakan Natal itu adalah Allah hadir menyelamatkan. Bukan nunggu Allah hadir buat kita, tapi justru kitanya sekarang yang diminta untuk hadir dan menyelamatkan,” kata Romo Yustinus.
Menutup segmen kedua dalam program Satu Meja The Forum (24/12/2025), Pemikir Kebhinekaan, Sukidi menjelaskan kita ada dalam titik nadir kerusakan ekologis yang membunuh kemanusiaan akibat ulah tangan manusia.
Melalui tema Natal nasional tahun ini, Sukidi menyorot semangat menyelamatkan keluarga. dalam keluarga banyak luka terbentuk, akibat kekerasan dalam rumah tangga, akibat ekonomi yang tidak adil kepada kelas menengah, akibat bencana ekologis, dan akibat berbagai hal yang membuat keluarga begitu rapuh. Keluarga harus diselamatkan, agar darinya tidak lahir manusia-manusia dengan pemikiran yang egois dan tidak berwelas asih terhadap alam.
Kedua, Sukidi juga menyampaikan pesan dari Yesus pada murid-muridnya tentang orang-orang Samaria yang murah hati pada mereka yang terluka.
Orang Samaria adalah kelompok yang oleh ahli Taurat seting dianggap lebih rendah daripada orang Lewi atau Yahudi. Padahal, orang Samaria inilah yang paling berbelas kasihan, murah hati menolong sesama yang terluka.
“Kita butuh spirit itu, orang Samaria yang murah hati yang tergerak untuk menolong sesama karena panggilan kemanusiaan, untuk membebaskan kemanusiaan yang terluka yang hari-hari ini kita rasakan sebagai bangsa, dan sebagai kemanusiaan yang satu dan setara,” ujar Sukidi.


Leave a Reply