Jarang Terlihat di Partai, Politisi Senior PDIP Trimedya Panjaitan Merapat ke Partai Lain?

“Sebenarnya juga bukan lupa dan bukan menjauh. Mungkin saya kurang diperlukan lagi,”

โ€”Politisi Senior PDIP, Trimedya Panjaitan

Politisi senior PDI Perjuangan yang juga merupakan mantan anggota DPR RI sejak 1999-2024. Trimedya Panjaitan dikabarkan dekat dengan sejumlah petinggi Golkar juga Gerindra. Trimed juga digadang-gadang sudah ditawari masuk ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Benarkah ia kini tak lagi berada di barisan partai berlambang kepala banteng?

Bersama Budiman Tanuredjo di siniar Back to BDM, Trimedya Panjaitan menjelaskan pasca selesai bertugas di DPR, ia memang tak lagi aktif di dunia politik. Namun, hal itu bukan berarti dia sama sekali tak pernah bersinggungan dengan para politisi, termasuk petinggi-petinggi partainya, PDIP.

“Meninggalkan penuh sih enggak ya. Masih suka ketemu Pak Utut (Adianto), Pak Bambang Pacul. Kalau Mbak Puan, masih suka diajak makan. Ya itu aja, tapi keterlibatan secara fisik kan enggak. Yang jelas saya masih di PDI Perjuangan,” ia memastikan.

Tak hanya itu, Trimed juga mengaku masih bertemu dengan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarno Putri. Hubungan dengan Megawati pun masih berjalan baik lagi hangat.

Ia menyebut jika ada yang mengatakan dirinya pindah partai itu hanya suara-suara liar yang tidak benar. Ia menduga, asumsi itu muncul karena orang-orang kerap melihatnya masih aktif dan dekat dengan beberapa tokoh dari partai politik lain. Seperti Sufi Dasco Ahmad dari Gerindra dan Adies Kadir dari Golkar.

Meski masih ada di PDIP hingga hari ini, ia tidak menutup kemungkinan jika suatu hari bisa saja dirinya pindah ke partai lain.

“Ya kan kita manusia, saya selalu bilang sampai detik ini saya masih di PDI Perjuangan. Kan cuman Tuhan yang enggak berubah, manusia kan berubah. Jadi saya selalu katakan seperti itu,” ujar Trimed.

Trimedya Panjaitan dalam Back to BDM.

Berkali ia menegaskan dirinya masih bagian dari PDIP, namun ia menyebut dirinya memang tak lagi aktif dalam kegiatan-kegiatan partai.

Saat berjumpa dengan Mega di salah satu acara pernikahan, Trimed ditanya kemana saja ia selama ini, kenapa tidak pernah terlihat di acara partai, apa sudah jadi saudagar? Sembari bercanda, ia menjawab bahwa dirinya tak pernah dipanggil, tidak pernah diajak, maka ia tak terlihat ada di kegiatan partai.

Ia justru menawari Megawati untuk mampir ke restoran yang ia miliki di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Megawati pun bersedia untuk mampir jika ada kesempatan. Hubungan antara Trimedya dengan PDIP, bahkan dengan sang Ketua Umum masih berjalan hangat dan akrab. Tidak ada masalah, tidak ada beban.

“Saya dilihat di acara PDIP enggak pernah hadir. Loh, kan saya enggak diundang. Memang enggak diundang. Kongres kemarin enggak diundang, apalagi (undangan) sangat terbatas kan. Kemudian kalau ada acara-acara ini saya enggak pernah diminta juga (jadi) narasumber,” jelas Trimed.

Jadi, ia bukan menjauh apalagi melupakan PDIP. Ia hanya tak pernah diundang hadir dan merasa mungkin memang sudah tidak diperlukan lagi di partai itu. Sebagai orang dengan latar belakang hukum, ia juga tak lagi diminta untuk bekerja di bidang hukum PDIP. Sudah ada ahli lain yang dilibatkan.

Trimed mengaku tak mungkin bisa menjauh apalagi melupakan PDIP. Partai itulah yang pernah mendukungnya sehingga bisa duduk di DPR 4,5 periode, menjabat posisi-posisi penting si Legislatif seperti menjadi Ketua Komisi III, Wakil Ketua Komisi III, Ketua Badan Kehormatan, Wakil Ketua Majelis Kehormatan Dewan, dan lain-lain.

Secara pribadi, kedekatan dengan Megawati juga sudah lama terjalin. Mega adalah saksi pernikahan Trimed dengan istrinya. Jadi, Trimed sudah menganggap sosok Megawati seperti ibunya sendiri.

“Sebenarnya juga bukan lupa dan bukan menjauh. Mungkin saya kurang diperlukan lagi,” sebut pria asal Medan itu.

Budiman Tanuredjo memandu Back to BDM.

Rumor Masuk Gerindra, Golkar, dan PSI

Trimedya disebut-sebut hengkang dari PDIP dan masuk ke dalam partai lain seperti Gerindra, Golkar, bahkan PSI. Namun Trimedya memastikan semua itu tidak benar.

Ia menjelaskan, dirinya memang dekat dengan Ketua Harian Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad. Dasco adalah teman satu angkatan Trimed saat menempuh pendidikan di Universitas Pancasila.

Lalu, ia juga dekat dengan Adies Kadir, Wakil Ketua Umum bidang Kebijakan Publik Golkar. Adies adalah orang yang menjadi penguji eksternal disertasi Trimedya.

“Saya dekat sama Pak Adies Kadir, karena penguji eksternal saya dulu Pak Adies Kadir, mungkin saya dianggap mau ke Golkar. Saya sering dilihat ketemu jumpa Pak Dasco, karena satu kampus. Kamo satu angkatan di Universitas Pancasila dan dia ketua alumni. Yang namanya kita alumni pasti dong sering kumpul-kumpul, sering ketemu. Mungkin ada yang melihat itu. Jadi isunya Golkar Gerindra,” Trimedya menjelaskan.

Sementara isu merapat ke PSI muncul karena Luhut Binsar Panjaitan menawari Trimed untuk masuk PSI setelah tak lagi melihat nama Trimedya Panjaitan ada di susunan pengurus PDIP.

Soal tak ada namanya di daftar pengurus partai, menurut Trimed dikarenakan ia sudah dua periode menjabat sebagai pengurus. Kebanyakan memang tidak ada yang lebih dari dua periode, kecuali ada satu, Ribka Tjiptaning yang menjabat sampai 4 periode di kepengurusan PDIP.

“Jadi Bang Luhut bilang, ‘lu, gua lihat enggak ada lagi loh nama lu pengurus’. Saya bilang, ‘saya sudah dua periode kan’. ‘Ya lu masuk PSI aja lu’, dia bilang gitu. Dia kan kadang-kadang suka telepon saya. Saya bilang, ‘enggak ah, Bang. Abang bilang (ke PSI) transfer saya. Berapa sanggupnya PSI transfer saya?’. ‘Pantat lu’,  dia bilang,” ungkap Trimedya menceritakan tawaran masuk PSI dari Luhut.

Trimedya menyebut semua itu terjadi dalam situasi bercanda saja, terutsma soal minta transferan kepada PSI.

Jadi, apapun rumor yang beredar, ia menegaskan sejauh ini masih teguh berada di dalam PDI Perjuangan.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *