Budiman Tanuredjo dari Tokyo
Di depan Hotel Imperial Tokyo, di jantung kota yang hiruk pikuk, terbentang sebuah taman yang seolah tak terpengaruh oleh laju waktu. Namanya Hibiya Park. Taman publik pertama yang dibuka tahun 1903. Tempat itu menjadi oase ketenangan di tengah hutan gedung dan manusia. Lokasinya tak jauh dari pusat kerajaan.
Saya diundang Astra Internasional bersama sejumlah pemimpin redaksi dari Indonesia untuk berkunjung ke Tokyo. Tujuan utamanya Japan Mobility Show. Sebelumnya dikenal even Japan Motor Show. Astra Internasional adalah salah satu perusahaan yang dikenal paling memperhatikan persahabatannya dengan wartawan, pemimpin redaksi maupun mereka yang sudah selesai menjalankan tugasnya sebagai pemimpin redaksi. Persahabatan itu tetap dirawat oleh Astra Internasional.
Membawa rombongan dari Jakarta, penerbangan dibagi dalam dua penerbangan Japan Airlines dan ANA. Kedatangan rombongan pemimpin redaksi dan jurnalis senior itu dipersiapkan dengan rapi oleh Chief Corporate Affairs Astra Internasiona Boy Kelana Subroto bersama tim seperti Riza Deliansyah (Advisor), โ Windy Riswantyo (Head of Corporate Communications), โ Regina Panontongan (Head of Internal Relations), โ Putri Permatasari (Head of Media Relations), dan โ Ananda Gitasari (Head of Division, Corporate Communications & ESG Astra Financial).

Sebelum kegiatan utama digelar Selasa pagi, 27 Oktober 2025, Hibiya Park masih terasa sepi. Sejumlah wartawan berolahraga di Hibiya Park. Sambil berlari, melihat dedaunan yang berguguran perlahan ke permukaan kolam. Di seberang, orang tua berjalan beriringan. Di salah satu sudut taman terdapat fasilitas olahraga luar ruang yang amat memadai.
Tak ada suara keras, tak ada sampah berserakan. Semuanya tertata rapi โ jalur pejalan kaki, taman bunga, kursi publik, papan informasi. Toilet umum bersih dan terang. Tak ada kesan jorok sama sekali. Orang berbicara lembut, dan memberi ruang bagi sesama. Bahkan di taman yang ramai, keheningan terasa hidup.
Hibiya Park menunjukkan wajah Jepang yang paling mendalam: disiplin yang lahir dari kesadaran, bukan dari ketakutan. Tidak ada petugas yang berteriak, tidak ada spanduk yang melarang. Yang ada hanyalah rasa tanggung jawab kolektif bahwa ruang publik adalah milik bersama โ dan karena itu harus dijaga bersama.
โKebersihan di sini bukan hasil pengawasan, melainkan hasil kesadaran.โ

Bangku di taman tidak dirantai. Tong sampah tidak dijaga. Tapi tidak ada yang hilang, tidak ada yang rusak. Sebuah paradoks bagi kota besar: semakin tinggi kepadatan manusia, semakin halus etikanya. Jepang adalah salah satu negara yang sukses menggabungkan tradisionalitas dan modernitas. Kemajuan teknologi dan disiplin pada aturan dan prosedur. โBagi sementara oreang terkesan kaku,โ ujar seorang pemandu wisata.
Di setiap sudut taman, ada harmoni kecil yang menyentuh: bunga musiman disusun dengan presisi; jalan setapak dibersihkan setiap pagi serta air mancur. Ketenangan di sini bukan kebetulan โ ia hasil dari perencanaan, pemeliharaan, dan budaya.
Hibiya Park bukan taman yang mewah, tapi taman yang penuh makna. Kebersihan di Jepang bukan sekadar estetika; ia bagian dari moral publik. Ada keindahan dalam ketertiban, dan ada kemanusiaan dalam kedisiplinan.
โRuang yang bersih mencerminkan jiwa yang jernih.โ
Oh Jakarta
Sambil berlari ringan, pikiran saya terbang ke Jakarta. Kota yang juga punya taman, tapi jarang menjadi ruang. Banyak taman dibangun, tapi sedikit yang dihidupi. Bangku taman rusak, lampu padam, tong sampah penuh, dan trotoar lebih sering jadi lahan parkir atau lapak dagang. Bukan karena orang Jakarta tak cinta kebersihan โ tapi karena sistem dan budaya ruang publik belum tumbuh.
Bahkan dalam Prahara Agustus 2025 fasilitas publik dihancurkan. Memang ada ekspresi kemarahan: tapi mengapa fasilitas publik atau ruang publik harus dihancurkan.
Kita mungkin masih menganggap ruang publik sebagai milik โpemerintahโ, bukan milik โkitaโ.
Kita masih berpikir menjaga taman adalah tugas petugas, bukan tugas warga.
Hasilnya: taman menjadi tempat singgah, bukan tempat tinggal batin.
Ia tidak menenangkan, karena tidak kita rawat bersama.
โJakarta punya banyak taman, tapi sedikit kebiasaan untuk berhenti dan menghargai keheningan.โ

Hibiya Park adalah sekolah keheningan. Ia mengajarkan nilai tanpa papan tulis:
bahwa manusia bisa hidup damai jika saling memberi ruang;
bahwa kota bisa indah tanpa harus mahal; bahwa keteraturan bukan represi, tapi penghormatan terhadap sesama.
Di taman ini, disiplin bukan beban โ ia adalah bentuk cinta.
Cinta terhadap sesama manusia yang juga ingin berjalan tanpa terganggu, duduk tanpa waswas, bernapas tanpa polusi suara.
Jakarta bisa belajar dari sini โ bukan hanya meniru fisiknya, tapi jiwanya.
Bahwa ruang publik bukan sekadar infrastruktur, tapi cermin peradaban.
Mungkin, ketika nanti Jakarta benar-benar ingin berubah, yang perlu kita bangun bukan sekadar jalan tol atau gedung tinggi, tapi taman seperti Hibiya: taman yang mengajarkan disiplin tanpa bicara, keindahan tanpa pamrih, dan empati tanpa slogan. Hibiya Park menunjukkan bahwa kedamaian tidak lahir dari kebisingan kebijakan, tapi dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari. Mulai dari membuang sampah pada tempatnya, menyeberang di jalur pejalan kaki, atau sekadar menurunkan suara ketika berbicara di ruang publik.
โKetertiban kecil menciptakan keindahan besar.โ ***



Leave a Reply