Budiman Tanuedjo
Pujian sering terdengar lembut, tapi daya rusaknya bisa menggerus nurani.
Ia bisa memabukkan pemimpin, melumpuhkan akal sehat rakyat, dan meninabobokan bangsa yang sedang kehilangan arah.
Di negeri ini, pujian telah menjelma menjadi alat kekuasaan yang paling halus — menenangkan, tapi menyesatkan. Dari berbagai ruang terbuka, layar televisi, dari partai hingga kampus, kita menyaksikan betapa banyak orang memilih memuji daripada mengoreksi, menyanjung daripada menegur.
Namun sejarah selalu memberi pelajaran: pemimpin jatuh bukan karena cacian, tapi karena terlalu banyak pujian yang tak jujur. Itulah sebabnya, Bung Hatta pernah mengingatkan bahwa “pujian tiada memberi petunjuk,” dan seorang pemuka agama menegaskan, “lidah bisa membunuh lebih banyak daripada pedang.”
Kita menengok kembali wajah republik — apakah kita masih mampu berkata jujur di tengah banjir pujian? Ataukah kita semua sudah menjadi bagian dari kebisuan yang mematikan itu: silent killer bernama pujian?
Kepemimpinan Gagasan

Omah Pawon di kawasan Ampera, Jakarta, sore itu (7 Oktober 2025) riuh oleh percakapan penuh makna. Empat warga negara—Sudirman Said, Chandra M. Hamzah, Shofwan Al Banna, dan Sukidi Mulyadi—berbagi ruang dan gagasan. Dari seberang lautan, melalui sambungan Zoom dari Boston, hadir Diah Saminarsih. Mereka menyebut diri Forum Warga Negara.
Organisasi ini kecil. Tak punya kantor. Tapi mereka punya sesuatu yang jauh lebih berharga: kejujuran gagasan dan keberanian bersuara. Dalam iklim politik yang kian sesak oleh loyalitas demi kekuasaan, Forum Warga tampil sebagai oasis intelektual yang menyalakan kembali api kewargaan.
Di tengah kebangkrutan suprastruktur politik, Forum Warga membuktikan bahwa sebagian warganegara republik ini masih punya suara nurani. DPR yang seharusnya menjadi penyeimbang kini berubah menjadi perpanjangan tangan eksekutif. Kartelisasi politik melahirkan shadow government—pemerintahan bayangan yang bekerja di balik layar, mengendalikan lembaga legislatif, bahkan menentukan arah wacana publik.
Dalam situasi semacam itu, peran kelompok warga sipil seperti Forum Warga menjadi penting. Ia bukan oposisi dalam arti klasik, melainkan penyeimbang moral—yang mengingatkan bahwa demokrasi tanpa warga yang berpikir dan bersuara hanyalah teater kekuasaan yang kehilangan jiwa.
Pujian sebagai Senjata
Di forum itu, Sukidi Mulyadi—doktor lulusan Harvard yang dikenal dengan diksi-diksi tajam—melontarkan kalimat yang menampar: “Pujian itu silent killer,” katanya, mengutip Bung Hatta. “Pujian tiada memberi petunjuk, dan tak sedikit pemimpin jatuh karena pujian.”
Pujian memang menggoda. Ia hadir seperti bunga yang harum, tetapi beracun. Dalam The 48 Laws of Power, Robert Greene telah menulis hukum tak tertulis itu: untuk bertahan dalam lingkar kekuasaan, pujilah, sanjunglah, bahkan jika perlu—menjilatlah.
Namun sejarah selalu memberi peringatan. Menjelang kejatuhan Soeharto, Ketua Umum Golkar Harmoko berkata di televisi, “Mayoritas rakyat masih menghendaki Presiden Soeharto memimpin.”Beberapa bulan kemudian, badai reformasi datang, dan sejarah membalikkan semua pujian itu menjadi ironi.
Ketika Nurani Dikalahkan Pemujaan
Fenomena itu terus berulang. Dalam masyarakat yang menjadikan kekuasaan sebagai pusat orbit, pujian berubah menjadi mata uang politik. Orang memuji bukan karena kagum, tapi karena takut kehilangan akses. Di negeri yang dikuasai “pemuja kekuasaan”, nurani perlahan tumpul, akal sehat dilumpuhkan, dan kritik dianggap pengkhianatan. Kekuasaan itu memang menakjubkan, menggentarkan, sekaligus memabukkan.
“Tuhan pun dikorupsi,” kata Sudirman Said ketika menyinggung dugaan korupsi kuota haji.
“Di negeri ini meritokrasi telah mati dan digantikan kakistokrasi,” ujar Sukidi, mengingatkan bahwa Prahara Agustus 2025 bukan sekadar kerusuhan, tetapi ekspresi kemarahan kelas menengah terhadap negara yang tak adil.
Kini, lebih dari sebulan setelah Prahara Agustus, akar masalah belum disentuh. Aktivis masih ditahan meski sejumlah tokoh bangsa siap menjadi penjamin untuk penangguhan penahanan. Pengurus negara justru ditambah dengan wakil menteri baru, dan wacana komite reformasi kepolisian tersendat di meja birokrasi.
Dalam suasana seperti ini, pujian kembali menjadi pelarian: dipuji atas stabilitas, atas ketenangan, atas “kebijakan berani”—padahal di balik semua itu, rakyat menahan napas menghadapi ketidakpastian. Pengusaha dicekam ketakutan. Padahal berdasarkan survei yang beredar dalam grup-grup percakapan approval rating sedang tidak baik-baik saja…
Mungkin, seperti kata Bung Hatta, yang dibutuhkan bangsa ini bukan pujian, tetapi cermin. Cermin yang berani memantulkan wajah jujur bangsa ini—penuh noda, tapi masih mungkin dibersihkan.
Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang jujur yang berani berkata realitas sebenarnya. Kita tidak kekurangan media, tapi kekurangan ruang yang memuliakan kebenaran tanpa takut kehilangan akses. Dan kita tidak kekurangan pujian, tetapi kekurangan keberanian untuk memberikan pemikiran alternatif berdasarkan data.
Maka biarlah Forum Warga menjadi pengingat: dalam republik yang banjir pujian, kejujuran adalah bentuk tertinggi patriotisme. Dan dalam politik yang memabukkan, diamnya nurani jauh lebih berbahaya daripada bisingnya kritik.
“Pujian tiada memberi petunjuk, dan tak sedikit pemimpin yang jatuh karena pujian,” kata Bung Hatta.
Maka tugas warga negara hari ini bukanlah menambah pujian, melainkan menegakkan kebenaran. Sebab bangsa yang terlalu gemar memuji, lambat laun kehilangan kemampuan untuk memperbaiki.



Leave a Reply