“Di tempat kita orang cenderung menghindar untuk berbeda pendapat. Jadi ketika itu sudah menajam, kita cenderung menghindar. Lalu kalau sudah mentok karena enggak ketemu-ketemu terus, menghindar terus, ngamuk. Kenapa? Karena dialektika enggak jalan. Akhirnya ngamuk,”
โDosen Filsafat di STF Driyarkara
Orang Indonesia perkataannya tidak bisa dipegang, saat berhadapan langsung nampak ramah, ketika di belakang bisa bersungut-sungut. Berbicara pada kawan A, berbicara pada yang lain B. Ada yang sebut itu sebagai ciri orang timur yang sering merasa sungkan, tidak enak hati berkata apa adanya. Ada pula yang mengatakan kebiasaan itu sebagai bentuk kemunafikan orang Indonesia.
Dosen Filsafat STF Driyarkara, Agustinus Setyo Wibowo memiliki pandangan menarik terkait hal ini. Kepada Budiman Tanuredjo di siniar Back to BDM, ia menyampaikan bahwa kepribadian orang Indonesia itu bukan munafik, tapi kosong.
“Identitas orang Indonesia adalah kosong, tidak ada yang namanya identitas fix, karena kita campuran dari mana-mana sebagai ras. Agama yang masuk juga macam-macam dan semuanya diterima. Sinkretis. Dan kadang-kadang itu dipuji-puji sebagai karakter bagus bangsa Indonesia yang supel, luas, menerima semua. Tapi saya punya pertanyaan, jangan-jangan karena kita enggak punya identitas. Jadi justru karena kita kosong itulah makanya semuanya kita biarkan masuk,” ungkap Setyo.
Selain karena berasal dari campuran ras dan agama, identitas yang kosong juga tumbuh akibat keinginan untuk selalu menciptakan harmoni. Semua bagian harus sesuai dengan tempatnya. Tidak boleh mengganggu harmoni yang sudah ada.
Kita adalah bagian dari keseluruhan harmoni itu. Harmoni secara menyeluruh lebih dikedepankan ketimbang mendahulukan karakter pribadi.
Karena kondisi itulah, karakteristik bangsa Indonesia mudah berubah-ubah, berganti-ganti topeng.
Ciri lain dari kekosongan identitas itu adalah adalah tidak jalannya dialektika di tengah kehiduan berbangsa. Alasannya sederhana, bangsa kita mudah melupakan, mudah memafkan, dan mudah kompromi.
Sifat-sifat itu membuat pro-kontra tidak tumbuh. Tidak ada permusuhan. Tidak tercipta sintesis.
“Di tempat kita orang cenderung menghindar untuk berbeda pendapat. Jadi ketika itu sudah menajam, kita cenderung menghindar. Lalu kalau sudah mentok karena enggak ketemu-ketemu terus, menghindar terus, ngamuk. Kenapa? Karena dialektika enggak jalan. Akhirnya ngamuk,” jelas dia.
Apakah dialektika yang tidak berjalan ini menyebabkan demokrasi Indonesia alami kemunduran?
Setyo membenarkannya. Ada kultur bangsa Indonesia yang menyebabkan demokrasi sulit berkembang bahkan harus mengalami kemunduran. Ini bukan berarti demokrasi tidak cocok diimplementasikan di Indonesia, namun bangsa ini diminta memiliki kesabaran ekstra untuk benar-benar bisa mendapatkan praktik demokrasi yang ideal.
“Jangan karena demokrasi ini 25 tahun kayak hasilnya enggak ke mana-mana, sudahlah kita buang, enggak jugalah. Kan kadang orang berimajinasi kita pakai sistem China saja. Kita bukan orang China. Mau enggak kita disuruh kerja keras kayak orang China? Pasti enggak mau kita, karena budaya kita, karakter kita kayak gini. Jadi kalau kita pakai sistem lain belum tentu cocok juga, karena budayanya beda. Kita kan senang kebebasan, bisa ini bisa itu,” ungkap analis politik itu.
Kebiasaan bangsa Indonesia yang mudah menyesuaikan diri dengan hal baru, baik yang sifatnya positif maupun negatif, merupakan bukti bahwa kota masih terbawa pada kebudayaan feodal. Misalnya, kita seolah mudah menerima tindakan koruptif para penyelenggara negara, mulai menormalisasi penggunaan uang untuk mendapatkan suatu privilese yang seharusnya tidak melibatkan uang.
Sifat dan karakter orang Indonesia juga bisa jadi dipengaruhi oleh iklim yang ada. Indonesia hanya memiliki 2 musim, kemarau dan penghujan yang keduanya terbilang tidak memerlukan upaya ekstra untuk bertahan hidup. Matahari bersinar sepanjang tahun, panas ataupun hujan keduanya masih bisa digunakan untuk beraktivitas dan memproduksi bahan makanan.
Lain dengan orang-orang di negara 4 musim yang harus terus beradaptasi sepanjang tahun.
“Ketika orang punya empat musim itu kan dia melihat perubahan. Perubahan matahari, perubahan panas, dingin. Dan kamu harus mengantisipasi. Karena kalau musim dingin kan kamu enggak bisa keluar, enggak bisa cari kayu, enggak bisa bertanam juga. Sehingga kamu harus nyetok, barang. Maka mereka menjadi disiplin, antisipatif, dan kerja keras. Sementara kita karena hidup di katulistiwa, matahari selalu terbit jam 6 pagi kita enggak pernah pusing. Jam 6 sore pasti terbenam. Tanaman gampang tumbuh, apa-apa gampang tumbuh. Jadi kita tumbuh menjadi bangsa yang lembek, terlalu santai. Karena alam begitu murah hati. Alam begitu baik bagi kita,” ungkap Setyo yang juga merupakan seorang pastor.

Di tengah karakter tidak disiplin yang ada pada bangsa ini, banyak hal turut terdampak. Soal kebersihan, ketertiban di ruang publik, ketaatan terhadap aturan, dan banyak hal lainnya masih belum bisa terlaksana dengan apik di Indonesia.
Namun, ada salah satu contoh praktis yang menunjukkan kesungguhan pemimpin dalam membuat suatu sistem baru ternyata efektif diterapkan. Masyarakat yang terbiasa berlaku tanpa aturan akhirnya mau tunduk terhadap sistem, dan manfaatnya dirasakan bersama. Kita lihat evolusi Kereta Api Indonesia di bawah kepemimpinan Ignasius Jonan. Sebelumnya kereta api dipenuhi pedagang asongan, penumpang yang memenuhigerbong hingga duduk di lantai, banyaknya penumpang gelap yang naik di atas kereta, dan sebagainya. Kini, kereta api sudah tertata rapi, penumpang dibatasi sesuai jumlah kursi, tidak bertiket tidak bisa naik, tak ada lagi pedagang asongan, dan sebagainya.
Lantas, apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk memperbaiki karakter bangsa ini? Agen perubahan, atau sistem yang tegas dan jelas?
“Kalau pakai teorinya Pierre Bourdieu bahwa agen dan sistem itu menyatu. Tapi memang kalau mau praktis bagaimana memulai perubahan, saya tentu sangat tertarik dengan apa yang dilakukan Pak Jonan Di mana dia dengan merubah sistem lalu akhirnya perilaku kita di kereta api itu berubah. Jadi untuk practicality-nya menurut saya sistem harus diutamakan ya, karena sistemlah yang akan mengubah perilaku kita dan itu sudah dicontohkan konkret sekali kereta api,” jelas dia.
Perubahan yang sama juga bisa diterapkan di tempat lain, tentu dengan menggarap terlebih dulu sistem yang akan digunakan.
Pertanyaannya kini, berapa banyak orang yang memiliki keberanian, kemampuan, dan kesempatan untuk membuat dan menjalankan sistem yang baik sebagaimana telah dilakukan Jonan.
Tak banyak orang yang prinsip, integritas, dan moral seperti Jonan. Tak banyak orang kita yang memaknai kekuasaan sebagai jalan untuk melayani orang lain.
Sebagai seorsng filsuf yang menelaah filsafat Yunani, Setyo menjelaskan bahwa Plato dan Aristoteles menye ut kekuasan adalah untuk kebaikan orang lain.
“Seberapa banyak kita punya pejabat yang pikirannya seperti itu? Kalau kita lihat ketua-ketua parpol, kita lihat anggota DPR, kita lihat jenderal-jenderal, seberapa banyak yang sungguh-sungguh di kepala mereka itu (memaknai) kekuasaan untuk kebaikan orang lain, bukan kebaikannya sendiri atau kelompoknya sendiri. Maka tentu secara teoritik, praktis sistem harus dirubah.
Masalahnya kemudian, siapa yang bisa mengubah sistem itu, karena pihak yang berhak mengambil keputusn adalah mereka yang duduk di posisi-posisi pemerintahan saat ini. Mereka sudah nyaman dengan sistem yang berjalan. Mereka sudah diuntungkan. Agak sulit meyakini bahwa mereka akan memenangkan suara kita.
Lulusan Sorbonne University Paris ini menilai, mereka para pejabat tidak dalam posisi memikirkan bahwa kekuasaan itu untuk kebaikan orang lain. Dalam pikiran mereka, kekuasaan harus didapat dan dimanfaatkan untuk kepentingan mereka sendiri. Dengan begitu, harapan terakhir terletak pada masyarakat sipil.
“Solusi lainnya adalah kita masyarakat sipil, kita harus terus-menerus mengedukasi diri kita sendiri, memperjuangkan apa yang kita anggap benar dan baik untuk memelihara demokrasi ini. Hanya itu solusinya, kata Setyo.
Melihat kondisi Indonesia di tahun 2025 ini, Setyo tidak percaya negeri ini akan menjadi Indonesia Emas di 2045. Sejak awal istilah itu diserukan, secra pribadi Setyo memang sudah pesimis. Buan Indonesia emas yang akan terjadi 20 tahun ke depan, tapi Indonesia cemas.
Meski begitu, ia tidak mau sampai pada tahap yang sangat pesimis. Ia tidak sepaham dengan pendapat Prabowo beberapa waktu sebelumnya yang menyebut indonesia akan bubar di tahun 2030.
“Saya tidak mau sepesimis itu. Seburuk-buruknya kondisi kita nanti, atas berkat rahmat Tuhan yang Maha Kuasa kita pasti akan ditolong. Ini sisi cool dari orang Indonesia yang kadang-kadang membuat kita masih punya harapan. Sudahlah, meskipun kayak gini kita tetap jalan terus, kiita usahakan yang terbaik yang bisa kita usahakan,” pungkasnya.


Leave a Reply