“Semuanya pragmatis, semuanya instan. Orang tidak menganggap integritas, nilai, norma, moral itu penting. Ya susah. Padahal proses itu yang paling penting,”
โGuru Besar Sosiologi UI, Prof. Dra. Francisia Saveria Sika Ery Seda, M.A., Ph.D
Dunia kampus sedang tak baik-baik saja. Bukan hanya soal dosen atau mahasiswa, tapi juga sistem besar yang melingkupinya. Integritas kampus kini diragukan.
Pernyataan ini banyak disampaikan berbagai pihak yang ada di dalam dunia pendidikan tinggi Indonesia, salah satunya Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia, Prof. Dra. Francisia Saveria Sika.
Sebagai seorang akademisi, ia harus mengakui fakta empiris yang menunjukkan dunia yang ia geluti saat ini memang dalam kondisi tidak ideal.
Salah satu yang paling terasa adalah bagaimana tuntutan yang dibebankan kepada para dosen begitu besar. Dosen dituntut melaksanakan tridharma perguruan tinggi yang terdiri dari pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, dan pengabdian kepada masyarakat dalam waktu yang bersamaan dan sangat singkat.
Termasuk diharuskan membuat jurnal ilmiah yang terindeks Scopus untuk bisa mendapat angka kredit bagi seorang dosen. Ini membutuhkan biaya, waktu, dan pemikiran yang tidak sederhana. Prof. Ery Seda mencontohkan, untuk bisa masuk dan direview, satu jurnal ilmiah bisa memerlukan waktu selama 1-1,5 tahun.
“Tentu harus (menunaikan) tridarma perguruan tinggi. Tapi lihat dulu loh (beban yang diberikan). Sehingga (dengan sistem seperti sekarang) orang itu dipaksa (mengambil jalan pintas untuk bisa naik jabatan akademik), kecuali dia tetap teguh pada etika akademik. Tapi konsekuensinya lama atau bahkan tidak sama sekali, sudah keburu usia pensiun,” kata Ery Seda dalam siniar Back to BDM YouTube Budiman Tanuredjo.
Ia menyebut sistem yang berjalan memang mengarahkan para dosen untuk berbuat yang demikian. Mengakses jurnal predator, membenarkan plagiasi, menomorsekiankan orisinalitas dan kualitas penelitian. Jalan cepat semacam itu tak jarang dilakukan demi bisa memenuhi target jurnal yang diperlukan untuk mendapatkan kenaikan jabatan akademik.
Ia sama sekali tidak membenarkan seorang dosen mengambil shortcut itu, tapi itulah realita yang banyak ia temui hari-hari ini.
“Jadi yang seharusnya diubah supaya integritas akademik itu tetap tinggi, tuntutannya tidak seperti itu. Jadi sistemnya harus diubah, supaya orang-orang ini mendapatkan kesempatan yang fair dan tidak dikejar-kejar oleh begitu banyak tuntutan. Ditambah lagi sistem remunerasi yang sangat rendah,” jelas Ery Seda yang menyebut beban yang diberikan pada dosen sudah tidak masuk akal.
Belum lagi, kondisi sosial saat ini yang tak lagi peduli dengan proses, yang penting adalah hasil. Yang dilihat dan dihargai adalah hasil, bukan bagaimana proses yang ditempuh. Pola pikir semacam ini membuat jalan pintas menjadi sesuatu yang tak begitu menjadi soal bagi oknum dosen yang melakukannya.
“Semuanya pragmatis, semuanya instan. Orang tidak menganggap integritas, nilai, norma, moral itu penting. Ya susah. Padahal proses itu yang paling penting menurut saya,” sebutnya.

Lebih lanjut, berbicara nilai, moral, integritas, dan etika kepada mahasiswa menurutnya menjadi hal yang sulit dilakukan saat ini. Bukan karena para pendidik tidak memiliki dasar-dasar nilai itu, melainkan praktik di lapangan yang berbanding terbalik dengan nilai-nilai ideal yang diajarkan di ruang-ruang kelas.
Bahkan ada preseden yang kadung terbentuk, jika kita masih bertahan dengan nilai-nilai konvensional, maka kita aneh, tidak sesuai dengan kebutuhan saat ini.
Misalnya, jujur dan berprestasi tidak lantas mengantarkan seseorang pada jabatan mentereng, gaji fantastis, dan capaian-capaian duniawi lainnya. Banyak contoh di luar sana yang menunjukkan seseorang dengan kualitas biasa saja, bahkan di bawah rata-rata, bisa mendapatkan sesuatu yang besar hanya karena dia memiliki hubungan kekerabatan dengan orang yang memiliki kewenangan, atau dia memiliki uang sebagai kekuatannya.
“Jadi sebagai dosen agak repot saya, karena memberi contoh (baik) itu, contohnya (di lapangan) semuanya kebalikan dari apa yang (disampaikan). Buktinya kalau terlalu berintegritas enggak maju-maju, enggak kaya, enggak terkenal,” sebut Ery.
Ia menceritakan bagaimana salah satu mahasiswa S3 yang ia damping mengomentari lulusnya seorang pejabat tinggi yang lulus doktoral dengan predikat summa cumlaude hanya dalam waktu 2,5 tahun.
“Mahasiswa S3 saya ngomong gini, tahu gitu Bu, mendingan kita jadi pejabat tinggi dulu baru masuk S3,” kisah Ery Seda yang mengaku kebingungan harus menjawab bagaimana.
Ia pun kerap melakukan refleksi diri. Di tengah era yang seperti ini, adakah sesungguhnya dirinya sendiri yang justru aneh, tidak bisa mengikuti perkembangan zaman, tidak bisa menerima perubahan, dan sebagainya.
Untuk memperbaiki proses pendidikan saat ini, diperlukan berubahan di semua lini. Mahasiswa berubah, dosen berubah, pola pikir yang lebih mengutamakan hasil ketimbang proses juga harus diubah. Ery menyadari perubahan semacam itu sulit dilakukan, namun bukan berarti tidak bisa. Ia masih menyimpan harapan.
Di antara realitas menyedihkan dunia pendidikan yang terjadi saat ini, kabar baik dari kampus yang bisa ia sampaikan pada publik adalah bahwa kebebasan akademik masih relatif terjaga hingga saat ini. Kebebasan akademik adalah hal yang sangat penting eksistensinya dalam hal pengembangan keilmuan dalam universitas dan perguruan tinggi.
Di tengah situasi ini, mungkinkah kita berharap ada mazhab-mazhab baru yang lahir dan ditawarkan oleh kampus di Indonesia layaknya Frankfurt School di Jerman?
Frankfurt School merupakan sekelompok intelektual Jerman-Yahudi yang terasosiasi dengan Institute for Social Research di University of Frankfurt. Mereka mengembangkan teori, bingkai berpikir untuk menganalisis dan mengkritisi masyarakat modern, baik dari segi sosial, ekonomi, dan struktur kebudayaannya.
Bagi Ery Seda, harapan Indonesia memiliki hal serupa adalah harapan yang valid dan tidak berlebihan. Sayangnya, kita memang belum memiliki yang demikian.
“Kenapa tidak tumbuh, karena para peneliti ini, dosen-dosen ini, termasuk saya, terlalu disibukkan dengan rutinitas. Bebannya itu sudah terlalu banyak,” kata Ery.
Padahal jika kita ingin menumbuhkembangkan mazhab perlu waktu. Perlu ada hasil penelitian yang konsisten dalam waktu yang cukup lama untuk mengkaji ulang pemikiran-pemikiran yang sudah ada. Sementara energi dan waktu para dosen di negeri ini sudah habis untuk memenuhi tuntutan akademik yang sifatnya administratif.
“Sehingga saya setuju sekali kalau memang kita bisa mengubah ekosistem pendidikan tinggi di Indonesia yang memungkinkan lahirnya mahzab-mahzab, itu ideal betul. Itulah kontribusi secara akademik dari kampus,” sebut Ery.
Terlepas dari semua kondisi dunia pendidikan tinggi yang sudah ia beberkan, sebagai seorang warga negara dan pendidik, Ery masihโ bahkan ia menyebutnya harus optimis akan masa depan Indonesia.
“Saya tidak mau menyebarkan pesimisme. Saya tetap optimis. Tapi antara optimisme dan harapan tuh beda ya. Untuk punya harapan baik perlu ada dasar. Jadi apakah ada faktanya (dasarnya) untuk bisa berharap? Saya mencoba untuk tetap berharap walaupun secara akademis saya agak kesulitan. Karena faktanya itu kita dari tadi ngomong ini kan semuanya fakta ngelihatin (realitas tidak baik) ke sana kemari,” ungkapnya.
Sebagai seorang sosiolog, ia menyebut harapan terkuat pada akhirnya ia tumpukan pada masyarakat. Jika negara sudah tidak bisa lagi diharapkan, maka masyarakat yang harus dipersiapkan untuk bisa menjadi sumber harapan.
Untuk mewujudkan masyarakat yang kuat dan berkualitas, diperlukan adannya ruang publik yang terbuka dan keberagaman yang tumbuh subur di dalambya. Jangan negara memperkecil atau mempersempit ruang publik dengan sistem pemerintahan otoriter yang dijalankan, terlebih sampai menghegemoni pikiran publik hingga mematikan perbedaan.
“Pertanyaan yang mungkin agak reflektif. Kalau terjadi upaya-upaya untuk membungkam ruang publik, apalagi keberagaman dalam ruang publik, apa yang harus dilakukan? Tidak ada cara lain, melawan. Melawan itu ada banyak cara ya. Saya tidak setuju melawan dengan kekerasan. Tapi strategi itu harus ada, karena sel ruang publik itu tidak ada lagi,” pungkas Ery mengakhiri perbincangan.


Leave a Reply